
Arneta kini setiap pagi berusaha untuk bangun lebih awal lagi, Arneta tidak ingi sarapan bersama Abby setelah Abby menampar Arneta. Hati Arneta masih sangat sakit jika mengingat kejadian itu. Tamparan Abby sudah menghilang bekasnya akan tetapi rasa sakitnya masih amat jelas dirasakan oleh Arneta.
Tidak mudah bagi Arneta memaafkan Abby kali ini. Kemarin-kemarin Arneta masih bisa menahan sikap kasar Abby dan mulutnya yang tajam, tapi kali ini Arneta bertekad untuk mengacuhkan Abby. Arneta bersiap tidak peduli.
Seperti pagi ini Abby kembali sarapan pagi buatan bi Jum, Abby tahu Arneta masih marah padanya. Abby memilih untuk menunggu Amarahnya Arneta redah barulah dirinya akan meminta maaf.
Sudah masuk hari ketiga Abby melihat tak ada perubahan sedikit pun. Arneta berangkat pagi-pagi sekali dan pulang ke rumah hari sudah malam. Abby tidak melihat Arneta masuk ke dalam rumah. Arneta jika pulang langsung mengurung diri di dalam kamar dan tidak keluar lagi sampai esok pagi. Abby tidak tahu harus berbuat apa.
Hari keempat dalam perang dingin antara Arneta dan Abby
Hari ini Abby bertekad untuk berbicara dengan Arneta bagaimana pun caranya, jika dengan cara di paksa Arneta baru bicara dengannya maka Abby akan melakukan hal itu.
Dalam perjalanan pulang ke rumah handphone Abby beberapa kali berbunyi, Abby hanya membaca nama yang tertera di layar handphone tanpa ada niat untuk menjawab panggilan tersebut.
Gracia sudah hampir gila di buat Abby karena pesan yang di kirim oleh Gracia tak satupun yang di balas, telpon dari Gracia pun di abaikan begitu oleh Abby. Bahkan ada panggilan Gracia yang di ricek oleh Abby. Gracia marah dan kesal. Seperti hari ini Gracia seperti biasa ingin meminta uang kepada Abby untuk memuaskan nafsu belanjanya. Gracia mengendarai mobilnya menuju ke rumah Abby.
Abby tiba di rumah dan masih belum melihat Arneta.
"Bi, Neta sudah pulang?" tanya Abby pada bi Jum.
"Belum tuan.." jawab bi Jum.
Abby mendapatkan jawaban bi Jum duduk di sofa ruang tengah berniat menunggu Arneta. Abby tidak ingin di abadikan lagi oleh Arneta. Di abaikan oleh Arneta membuat Abby tak tenang hati, Abby lebih suka jika Arneta langsung memprotes bahkan memarahinya.
Sembari menunggu Arneta, Abby membuka laptopnya memeriksa beberapa email yang baru saja masuk. Kepala Abby terangkat ketika mendengar suara mesin mobil Arneta memasuki halaman rumah. Abby menutup laptopnya dan berdiri menunggu Arneta masuk.
Arneta masuk ke dalam rumah sambil menempelkan handphone miliknya di telinga berpura-pura seolah sedang berbicara dengan seseorang. Arneta sengaja berbuat begitu karena tahu Abby sudah pulang, mobil Abby juga masih terparkir di halaman bukan di garasi mobil.
Arneta membuka pintu rumah hendak masuk kedalam, Arneta berpura-pura bicara dengan seseorang dari balik handphone.
"Neta..." panggil Abby.
Arneta berpura-pura tidak mendengarkan panggilan Abby dan terus melangkah.
"Neta..," sekali lagi Abby memanggil. Arneta pun mengabaikan panggilan Abby lagi.
__ADS_1
Abby mengejar Arneta dan meraih salah satu Arneta dan menahan Arneta.
"Lepaskan...." ucap Arneta dingin.
"Kita perlu bicara," ucap Abby masih memegangi tangan Arneta.
"Tidak ada yang harus di bicarakan antara kita berdua," jawab Arneta.
"Ada yang harus kita bicarakan, ayo kita duduk dulu," ajak Abby.
Belum sempat Arneta dan Abby melangkah muncul dari luar seorang wanita yang mampu membuat Arneta semakin kesal. Marah Arneta belum juga reda Gracia sudah berani datang kembali ke rumah.
Arneta langsung menatap Abby dan dan Gracia dengan tatapan benci.
"Kekasih hatimu sudah datang, bicaralah dengan dia," ucap Arneta sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Abby.
Gracia dengan wajah tanpa dosa menghampiri Abby dan Arneta yang sedang perang dingin. Gracia berdiri tepat di hadapan Arneta sambil tersenyum bahagia dan itu membuat Arneta murka.
Plak
Plak
Gracia membelalakkan matanya menatap Arneta penuh kemarahan. Ingin rasanya Gracia menampar balik Arneta tapi urung di lakukan karena ada Abby di situ. Gracia memasang strategi menjadi wanita lemah di hadapan Abby.
Gracia memasang wajah meringis menatap Abby dengan wajah permohonan.
"Bee, dia menamparku. Sakit Bee," rengek Gracia.
Arneta menatap Abby dengan tatapan marah, Abby hanya diam mengabaikan rengekan Gracia. Gracia merasa tak di gubris oleh Abby mengangkat tangannya berniat menampar balik Arneta. Tapi sayangnya tangan Gracia berhenti di udara karena di tahanan Arneta. Gracia menatap Abby dengan tatapan memohon.
"Kamu pikir dia akan menolong mu? mimpi," ujar Arneta. Benar saja apa yang dikatakan oleh Arneta Abby hanya diam tidak membela Gracia.
Arneta langsung menarik Gracia menjauh dari Abby dan menghempaskan tubuh Gracia di lantai. Arneta berbalik kembali mendekati Abby dengan segala kemarahannya.
"Jika kamu tidak bisa menghargai pernikahan ini jangan berharap jika aku menghargai mu," ujar Arneta.
__ADS_1
Abby hanya diam saja membiarkan Arneta menumpahkan kemarahannya pada dirinya.
"Kamu pikir cuma kamu yang punya kehidupan sebelum pernikahan bodoh ini, aku juga punya kehidupanku sendiri. Kamu pikir hanya kamu yang memiliki orang yang di cintai, aku juga punya. Aku juga mencintai orang lain," ujar Arneta sambil mengepalkan tangannya di samping badan.
Duk
Duk
Hati langsung berasa seperti terhujani ribuan paku mendengar ucapan Arneta.
"Jika kamu pikir hanya kamu yang tersiksa karena pernikahan gila ini, aku jauh lebih lepaskan aku sekarang juga tidak perlu menunggu lima bulan lagi. Aku akan menerima semua resikonya termasuk menjelaskan tentang pernikahan kita," sambung Arneta. Akhirnya Arneta bisa meluapkan kemarahannya kepada Abby dan Gracia.
Setelah selesai mengatakan apa yang rasakan oleh Arneta, Arneta meninggalkan Abby yang masih berdiri mematung. Dilantai rumah Gracia masih duduk seperti saat Arneta menghempas dirinya. Gracia berharap Abby yang akan membantu dirinya berdiri.
"Bee..." panggil Gracia manja.
"Pulang, sebaiknya kamu pulang," ucap Abby masih berdiri tegak tanpa ada niat menolong Gracia.
"Tapi Bee...," belum selesai Gracia berkata Abby langsung memotong kalimat Gracia.
"Pulang....aku bilang sebaiknya kamu pulang sekarang," sekali lagi Abby meminta agar Gracia pulang.
"Dia tadi sudah menam...." sekali lagi Abby langsung memotong kata-kata Gracia sebelum Gracia melanjutkan kata-katanya.
"Kamu sendiri yang sudah membuatnya marah, jadi kamu tanggung sendiri akibatnya," ucap Abby sambil menatap Gracia dengan tatapan dingin sedingin es.
Gracia tidak mau menerima bahwa dirinya kini justru di salahkan Abby, Gracia masih berpikir tindakannya yang kemarin adalah perbuatan yang benar meskipun itu hanyalah fitnah belaka.
"Abby, ada apa denganmu? jangan katakan bahwa kamu mulai mencintai wanita itu," tuding Gracia pada Abby. Abby hanya diam dan tidak menjawab perkataan Gracia. Gracia marah dan menghampiri Abby.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut mu dariku," ucap Gracia.
"Sebaiknya kamu sekarang pulang sebelum kesabaran ku habis," ujar Abby sambil menahan amarahnya. Gracia melihat Abby yang marah nyalinya langsung menciut. Gracia akhirnya pergi meninggalkan Abby sambil menghentakkan langkah kakinya.
Bersambung....
__ADS_1