
Arneta masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Abby. Luka hati yang belum sepenuhnya sembuh kini Abby kembali menorehkan luka lebih dalam lagi di hati Arneta.
Arneta sekali lagi menatap Abby dengan tatapan terluka.
"Sebencih itukah Kamu pada ku Bee, aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap mu," ujar Arneta.
"Aku memang sangat membencimu, jangan pernah berharap kalau aku bisa menyukai mu. Pergi dari hadapanku sekarang!," balas Abby. Akan tetapi hati Abby berkata justru sebaliknya.
"Aku pergi..."pamit Arneta.Arneta membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan Abby.
Abby melihat kepergian Arneta, hatinya merasa sedih dan merasa bersalah tak seharusnya mulutnya mengeluarkan kata-kata tajam hingga membuat Arneta sakit hati. Abby melihat punggung Arneta, Abby juga sempat melihat salah satu tangannya Arneta terangkat, jelas Arneta sedang menghapus airmatanya di lihat dari gerakan tangan Arneta.
Abby berdiri mematung kakinya sulit untuk bergerak seolah sudah diikat oleh rumput-rumput yang dipijaknya. Di kuping Abby seperti ada dua mahkluk kecil sedang berdebat saat ini. Satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.
"Abby kejar istri mu, kasian dia," kata makhluk di sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan berkata sebaliknya.
"Bee, biarkan saja dia pergi. Pasti istri mu akan kembali memaafkanmu lagi,"
Abby melihat langkah kaki Arneta tadinya hanya berjalan kini berubah. Arneta berlari kecil. Abby nasih saja melihat kepergian Arneta tapi kini Arneta bukan hanya berlari kecil. Arneta berlari semakin cepat dan meninggalkan Abby jauh di belakang.
Perasaan Abby menjadi tak tenang setelah melihat kemana arah Arneta berlari kini.
"Neta, kamu mau kemana,?" tanya Abby dalam hatinya.
"Neta apa yang akan kamu lakukan?" ucap Abby pelan. Abby masih mengawasi Arneta dari tempat dia berdiri.
"Neta, jangan gila apa yang kamu lakukan?" Abby semakin panik Mel Arneta tidak juga berhenti tapi justru lari Arneta semakin kencang.
"Neta awaaaaaaas........!" teriak Abby.
Brak
Sebelum bunyi suara yang begi kencang, bunyi suara dua benda keras sedang beradu. Arneta tertabrak sebuah mobil yang sedang melaju kencang.
__ADS_1
Mata Abby langsung terbuka lebar , Abby kini melihat tubuh Arneta sedang berada di udara seperti atlit loncat indah.Tangan Arneta seolah sedang melambai ke arah Abby. Semua orang yang mendengar teriakkan Abby dan bunyi dentuman keras segera secara serempak melihat kearah Abby dan Arneta yang sudah berada di udara.
Bug
Tubuh Arneta terhempas di aspal yang keras dan kasar.
"Tidaaaak!" Abby kembali berteriak sekencang-kencangnya.
Lalulintas pun langsung lumpuh karena kejadian itu. Abby segera berlari menghampiri Arneta yang tergeletak di aspal. Abby mengangkat kepala Arneta dan memeluknya erat.
"Neta, apa yang kamu lakukan, aku minta maaf. Tolong beritahu ya," rintihan Abby terdengar sangat sedih.
Mata Arneta terpejam seolah enggan untuk terbuka. Abby semakin memeluk tubuh Arneta lebih dalam lagi.
"Sayang bertahan ya..." pinta Abby. Abby meneteskan airmatanya.
Sarfa pun langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta ambulans karena ada kecelakaan. Sarfa mendekati Abby dan berjongkok di sampingnya.
"Afa, ambulans cepat!" perintah Abby mulai panik. Abby merasakan tangannya seperti menyentuh benda cair dan rasanya hangat. Abby menarik tangganya dari Kepa Arneta. Abby pun memucat setelah melihat darah segar keluar dari kepala Arneta.
Arneta membuka matanya perlahan, Arneta melihat Abby sedang memeluknya erat. Arneta tersenyum kecil dan kembali memejamkan matanya.
"Neta... Neta....!" Abby berulang kali memanggil Arneta agar Arneta tetap sadar. Tapi usaha Abby sia-sia Arneta sudah kehilangan kesadarannya penuh. Abby semakin panik dan cemas melihat kondisi Arneta yang semakin lemah. Darah terus saja mengalir dari tubuh Arneta.
Gita, Rika dan Robby segera menghampiri Arneta yang ada dalam pelukan Abby.
"Apa yang kamu lakukan padanya Abby?" teriak Rika marah.
"Ini bukan saatnya kita berdebat. Nyawa Arneta jauh lebih penting," ucap Robby mencegah agar Rika tidak mengamuk saat ini. Robby hafal betul sikap Rika yang terbilang nekat dan barbara, Robby juga tau jika Rika mengamuk tidak ada yang bisa menghentikannya. Rika akhirnya bisa menguasai emosinya karena ucapan Robby. Gita dan Rika meneteskan airmata melihat kondisi Arneta yang sudah berlumuran darah.
Beberapa saat kemudian ambulans pun tiba. Para petugas medis dengan sigap mengangkat tubuh Arneta dengan di pindahkan ke atas tandu. Setelah itu tubuh Arneta di bawah masuk kedalam mobil ambulans. Di dalam ambulans petugas medis memasang selang oksigen ke hidung Arneta. Petugas medis pun memberikan suntikan penghilang rasa sakit ke tubuh Arneta. Dan bukan hanya itu karena tubuh Arneta masih terus mengeluarkan darah petugas medis itupun berusaha menghentikan pendarahan tersebut dengan menempelkannya perban.
Sebelum masuk dalam ambulans Abby meminta sarfa agar ikut ke rumah sakit. Didalam mobil ambulans Abby berkali-kali meminta Arneta agar kuat dan bertahan. Kata-kata maaf pun berulang kali terucap dari mulutnya. Abby tidak menyangka jika perkataannya berakibat fatal bagi Arneta.
__ADS_1
Ambulans melaju dengan sangat cepat menujuh ke rumah sakit yang terdekat. Sarfa mengikuti mobil ambulans dari belakang. Selama perjalanan Sarfa juga sempat menghubungi orang tua Abby dan menyampaikan apa yang terjadi saat ini.
Ambulans segera tiba di rumah sakit, dengan gesit para petugas medis mendorong tandu beroda itu masuk kedalam rumah sakit. Arneta segera di bawah keruang tindakan untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Beberapa dokter yang bertugas saat itu segera melakukan tindakan untuk menghentikan darah yang keluar dari tubuh Arneta.
Dokter melihat kondisi Arneta yang semakin lemah karena sudah terlalu banyak darah yang keluar.
"Sus, ambil kantong darah cepat," perintah dokter pada salah satu perawat yang ikut menangani Arneta. Mendapat perintah suster itu pun segera keluar dari ruangan tindakan. Suster itu setengah berlari keluar dari ruangan tersebut.
Abby melihat suster itu berlari pun semakin di landa kecemasan. Abby belum mendapatkan kabar bagaimana kondisi Arneta saat ini.
Suster itu pun kembali sambil membawa satu kantong darah di dalam sebuah kota kecil. Suster tersebut langsung masuk kedalam dan menyerahkan kantong darah tersebut pada dokter. Dokter pun langsung memasang selang di tubuh Arneta untuk transfusi darah.
"Sus, kita masih membutuhkan dua kantong darah lagi" ucap dokter.
"Di bank darah hanya tersisa satu kantong saja dok," ujar suster.
"Minta keluar pasien untuk mencari darah yang sesuai dengan pasien sebagai cadangan," ucap dokter.
Suster itu kembali keluar untuk menemui keluarga Arneta.
"Keluarga pasien ibu Arneta," panggil suster setelah berdiri didepan pintu.
"Saya...!" jawab Abby cepat. Sarfa pun ikut mengajukan tangannya setelah mendengar panggilan tersebut.
Abby segera menghapiri suster itu.
"Saya sus, saya suaminya Arneta. Ada apa?" tanya Abby dengan perasaan was-was.
* Pasien banyak kehilangan darah, kami pihak rumah sakit saat ini tidak memiliki stok darah pasien. Apakah ada yang golongan darahnya sama dengan pasien?" ucap suster itu.
Belum sempat Abby menjawab perkataan suster itu tiba-tiba muncul suara seseorang menawar darahnya.
"Saya sus, darah saya sama dengan golongan darah pasien. Ambil darah saya aja,"
__ADS_1
Bersambung