
Hari ini Arneta benar-benar sangat sibuk, persiapan untuk pembukaan cabangnya di Bandung semakin dekat. Masih banyak hal yang harus di urus oleh Arneta. Arneta juga sibuk mengecek barang-barang yang harus dikirim ke Bandung untuk mengisi toko butik yang akan baru di buka.
Entah apa yang dipikirkan oleh Arneta saat ini, Arneta tidak bisa konsentrasi. Arneta memasukkan kartu ATM di mesin ATM sudah beberapa kali dan menekan tombol cencle. Dan karena Arneta sudah tiga kali menekan memasukkan pin yang salah akhirnya atmnya terblokir.
"Sial.." umpat Arneta kesal.
Arneta memandangi mesin ATM sambil meratap sedih.
"Bagaimana ini..." keluh Arneta. Arneta mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Arneta mengambil satu kartu atm lagi kedalam mesin atm. Arneta kembali memasukkan password nya, tekan tombol transfer. Arneta mengetik beberapa angka, setelahnya Arneta menekan tombol bertuliskan kata "Benar." Kemudian muncul tulisan di layar monitor " MAAF SALDO ANDA TIDAK MENCUKUPI." Arneta langsung lemas.
Diantara kebingungannya mata Arneta tidak sengaja melihat atm yang di berikan Abby waktu itu. Atm tersebut belum pernah di gunakan oleh Arneta. Arneta mengeluarkan atm tersebut dari dalam dompet.
"Pakai tidak, pakai tidak," Arneta menimbang-nimbang. Arneta ragu untuk menggunakannya.
Hari ini Arneta harus mentransfer uang ke Gita, karena Gita saat ini sedang berada di Bandung untuk mengurusi toko butiknya yang baru. Dalam keadaan kepepet seperti ini mau tak mau akhirnya Arneta mengungkapkan atm Abby. Arneta berniat setelah dari atm Arneta akan langsung ke bank untuk mengurus kartu atm miliknya yang terblokir, dan juga sekaligus menarik uang sesuai dengan jumlah yang di ambil dari kartu atm miliknya Abby.
Meskipun Arneta berstatuskan sebagai istri dari Abby akan tetapi Arneta tidak pernah meminta uang kepada Abby. Arneta berpikir bahwa dirinya tidak memerlukan uang pemberian suaminya. Arneta bisa memenuhi semua kebutuhannya tanpa minta kepada Abby.
Sementara itu di gedung berlantai tujuh belas, Abby sibuk memetik lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan angka yang tidak sedikit. Konsentrasi Abby pecah setelah masuk satu notifikasinya pesan dari handphonenya.
Abby meraih handphone yang terletak di atas meja. Abby melihat pesan yang masuk. Rupanya pesan itu berasal dari bank. Bank memberikan informasi jika atmnya baru saja melakukan satu transaksi.
"Arneta mengambil uang sepuluh juta, buat apa?," tanya Abby dalam hatinya. Tapi kemudian mata Abby menyipit.
"Jangan-jangan Neta mengambil uang untuk diberikan kepada kekasihnya itu," ucap Abby, hatinya pun panas dengan pemikirannya sendiri.
Abby langsung menghubungi Sarfa dan memintanya untuk datang keruangannya. Beberapa menit kemudian Sarfa datang sambil membawa laporan keuangan, pikirnya Abby memintanya datang untuk meminta laporan keuangan.
"Bee, ini laporan yang kamu minta," ucap Sarfa sambil menyerahkan map berisikan laporan keuangan.
"Siapa yang minta laporan keuangan Afa, aku mau tanya jadwal ku . Apa masih ada pertemuan hari ini," tutur Abby.
"Hari ini sudah tidak ada lagi jadwal meeting," jawab Sarfa.
__ADS_1
"Kamu lagi sibuk nggak ?" tanya Abby.
"Kerjaan ku semuanya sudah beres, mau ajak aku kemana?" ujar Sarfa, Sarfa sudah berharap Abby akan mengajaknya untuk pergi keluar mencari udara segar.
"Bagus kalo begitu Kalau begitu, kamu periksa laporan-laporan ini," ucap Abby dengan entengnya. Wajah Sarfa langsung berubah datar.
"Aku mau pergi dulu," Abby pamit setelah menyerahkan beberapa dokumen kepada Sarfa.
Sarfa hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Jika tahu begini Sarfa pasti akan mengatakan jika dirinya lagi banyak kerjaan pas saat Abby menanyainya tadi. Sarfa keluar dari ruangan Abby sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mau marah tapi itu bosnya.
Abby dari kantor langsung pulang ke rumah. Niatnya untuk menunggu Arneta pulang. Abby ingin menanyakan tentang uang sepuluh juta yang baru saja di gunakan oleh Arneta. Setibanya rumah Abby tidak melihat mobil Arneta terparkir di halaman rumah, Abby tahu jika Arneta belum pulang saat ini.
Abby masuk kedalam rumah dan meminta bi Jum untuk membuatkan jus buah. Hari belum terlalu sore tapi Abby sudah berada di rumah.
Sementara itu Arneta juga dalam perjalanan pulang ke rumah, Arneta merasa tubuhnya lelah. Sudah satu minggu ini Arneta selalu pulang malam makanya saat ini Arneta merasa kurang enak badan. Tubuhnya butuh istirahat.
Ketika Arneta memasukkan mereka mobilnya ke halaman rumah Arneta melihat mobil Abby sudah terparkir lebih dulu.
"Tumben lebah batu itu sudah pulang," ucap Arneta pelan. Arneta turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah berat. Biar bagaimanapun Arneta masih tidak ingin bertemu apa lagi berbicara dengan Abby. Arneta masih menyimpan amarahnya di dalam hati.
Arneta masuk ke dalam rumah dengan wajah dingin, sedingin hatinya. Arneta melihat Abby sudah berganti pakaian. Abby menggunakan pakaian santai saat ini. Arneta mempercepat langkah kakinya agar segera menjauh dari Abby.
Harapan Arneta untuk menghindari Abby tidak semulus dengan keinginannya.
"Neta...." panggil Abby. Arneta berpura-pura tidak mendengarkan jika Abby memanggilnya.
"Neta..." suara Abby mulai meninggi. Arneta masih terus melangkah pergi.
"NETA...!" akhirnya Abby berteriak memanggil Arneta.
Langkah Arneta terhenti setelah Abby berteriak memanggil namanya. Arneta membalikkan badannya menatap Abby dengan perasaan kesal.
"Kita berdua harus bicara," ucap Abby.
__ADS_1
"Sudah kukatakan diantara kita berdua sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan," ujar Arneta.
"Ada, ada yang harus kita bicarakan. Fan ini penting," tutur Abby.
"Seharusnya sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas antara kita berdua," jawab Arneta.
Sementara Abby dan Arneta berdebat Gracia dengan rasa malunya langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Arneta melihat kedatangan Gracia langsung mencibir.
"Itu, pujaan hati mu sudah datang, silahkan berbicara dengannya," ujar Arneta.
"Bee sayang, aku kangen sama kamu," ucap Gracia tangannya langsung merangkul tangan kekar Abby.
Abby mengeraskan lengannya dengan kasar supaya Gracia melepaskan tangannya. Gracia cemberut menggembungkan kedua pipinya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Abby pada Gracia.
"Aku kangen kamu," jawab Gracia sambil tersenyum manja.
"Kangen atau butuh uang?" ujar Abby dengan wajah datar.
Dan Gracia tanpa malu-malu langsung mengakui niatnya untuk bertemu Abby.
"Eh Bee kamu tahu aja apa yang aku mau," ujar Gracia.
"Aku sudah memberikan kamu atm yang berisikan uang seratus juta, bulan kemarin pun aku sudah memberikan kamu uang dua puluh juta. Sekarang kamu minta uang lagi!" ujar Abby mulai kesal.
Yang namanya Gracia tentu saja tidak memiliki urat malu pun langsung membela diri.
"Uang itu aku gunakan untuk belanja, dan juga perawatan. Itu semua juga buat kamu Bee. Aku dandan cantik seperti yang ni juga buat kamu,"
Arneta tidak ingin melihat drama antara Abby dan Gracia pun langsung membalikkan badannya berniat untuk meninggalkan Abby fan Gracia. Langkah kakinya terhenti karena tangannya tiba-tiba di tarik oleh Abby.
Bersambung
__ADS_1