
Abby dan Arneta turun dari mobil secara bersamaan, Arneta tidak menunggu Abby untuk membukakan jalan untuknya karena hak itu sangatlah tidak mungkin. Arneta berjalan mengekor di belakang Abby.
Dari dalam rumah pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya sedang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Arneta dan Abby.
"Tua sudah datang," ucap wanita paruh baya itu menyapa Abby dan Arneta.
"Bibi, mama yang minta bibi kesini?" tanya Abby. Rupanya Abby sudah mengenal wanita itu.
Dia adalah bibi Jum yang sudah bekerja lama di keluarga pak Ady dan bu Maya, memang benar bahwa bi Jum di perintahkan untuk mengurus Abby dan Arneta. Bi Jum di jadikan mata-mata oleh bu Maya untuk mengawasi tingkah laku Abby.
Arneta memandangi bi Jum dengan tatapan penasaran karena Arneta melihat bi Jum sangat akrab dengan Abby.
"Bi Jum, ini Neta istri saya," ujar Abby memperkenalkan Arneta. Arneta segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bi Jum.
"Saya nyonya," ucap bi Jum setelah berjabat tangan dengan Arneta.
"Jangan panggil saya nyonya, tapi panggil nama saja s ya bi Jum," ucap Arneta.
"Tapi nyonya itu tidak baik dan tidak sopan untuk saya memanggil nyonya hanya dengan sebuah nama saja," jawab bi Jum.
Arneta pun mengerti akan maksud dari perkataan bi Jum. Arneta berpikir sejenak untuk mencari solusi untuk nama panggilan untuk dirinya.
"Saya panggil non aja ya nyonya," tawar bi Jum. Arneta pun langsung menyetujui usul bi Jum. Dengan anggukan kepala Arneta menyetujui jika dirinya di panggil Non saja oleh bi Jum.
Selesai mencari nama panggilan Arneta dan Abby langsung masuk kedalam rumah, di dalam Arneta terkejut dengan apa yang lihatnya saat ini. Semua perabotan rumah sudah tertata rapi. Karena tahu bahwa Arneta suka memasak Abby membawa Arneta menuju ke dapur..Dan di dapur pun Arneta kembali terkejut, semua perlengkapan dapur pun sudah lengkap dan sudah di susun rapi pada tempatnya.
__ADS_1
Setelah puas melihat dapur Abby membawa Arneta ke lantai dua, dimana tempat kamar tidur terletak.
"Ini kamar ku dan kamar kamu ada di sebelah," ucap Abby sambil menujuk pintu kamar yang persis terletak di samping kamarnya. Arneta menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Arneta segera melangkah masuk kedalam kamarnya yang di tunjuk Abby barusan. Di dalam kamar pun Arneta di buat takjub. Tempat tidur berukuran besar sudah lengkap terpasang seprai berwarna biru mudah senada dengan sarung bantal. Fi dalam kamar pun sudah ada satu set lemari baju berukuran besar dan ada juga meja rias. Arneta mengagumi isi kamarnya.
Di kamar sebelah Abby sedang duduk di atas kasurnya yang empuk. Abby merenungi kejadian selama dua hari ini dan bagaimana sikap Abby terhadap Arneta. Abby merasa ada yang salah dengan apa yang sudah di perbuatnya terhadap Arneta. Abby mulai membanding-bandingkan sikapnya terhadap Arneta dan Gracia. Selama Abby berpacaran dengan Gracia Abby tak pernah sekalipun marah kepada Gracia saat Abby melihat Gracia berbica dengan laki-laki lain, tapi kenapa berbeda dengan saat ini. Abby sangat tidak suka jika Arneta dekat dengan pria lain.
Abby mulai binggung sendiri dengan perasaannya. Abby pusing sendiri.
"Apakah aku sudah mulai menyukai perempuan aneh itu?" ucap Abby pelan"Tidak mungkin, itu mustahil," protes Abby pada dirinya.
"Tapi kenapa aku merasa marah jika melihat perempuan aneh itu dengan laki-laki lain?* tanya Abby pada dirinya. Abby mengusap wajahnya dengan kasar.
Dari dalam kamar Arneta bisa mendengar suara mesin mobil di nyalakan, Arneta berjalan menghampiri jendela kamarnya yang berhadapan dengan arah halaman depan rumah. Arneta menyibak tirai yang menutupi kaca jendela. Dari Atas Arneta bisa melihat Abby sedang berada dalam mobil, Arneta menebak jika saat ini Abby akan pergi tanpa berpamitan dengan dirinya, Beberapa saat kemudian mobil Abby lun bergerak maju pergi meninggalkan halaman rumah. Arneta hanya menarik nafas dalam-dalam melihat kepergian Abby.
Arneta kembali duduk di atas ranjangnya yang empuk, Arneta duduk termenung seorang diri karena tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ingin n merapikan barang-barang bawaannya tetapi mobil yang membawa semua barang Arneta belum juga sampai.
Karena tidak tahu harus berbuat apa Arneta memutuskan untuk berkeliling rumah barunya mumpung Abby tidak ada. Arneta mulai berkeliling mulai dari dalam kamarnya, Arneta mengecek kedalam kamar mandi terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi ternyata sangat luas.
Selain melihat kamar mandi Arneta turun kebawah ke lantai satu dan mulai berkeliling, di halaman belakang rumah sudah ada kolam renangnya, ad a juga sebuah taman kecil di samping kolam. Arneta mengagumi rumah barunya.
Puas berkeliling Arneta menuju dapur ingin melihat apa yang bisa dilakukannya saat ini. Mungkin memasak sesuatu pikir Arneta. Arneta melihat bi Jum sedang merapikan beberapa barang kedalam kulkas yang besar.
"Bi ada yang bisa saya bantu?" tawar Arneta sambil mendekati bi Jum.
__ADS_1
"Eh Non, nggak usah.Ini sudah tugas saya," jawab bi Jum sopan.
"Aku bantu ya, aku bisa bosan jika tidak melakukan apa-apa," balas Arneta sambil memasang muka sedih.
"Nggak usah Mon, ini juga udah selesai," balas bi Jum.
"Atau Non ingi buat sesuatu atau mungkin Non mau masak?" ucap bi Jum.
"Boleh juga tuh bi idenya, bi Jum mau aku buatin apa, kue atau yang lainnya?" tawar Arneta bersemangat.
"Eh, Non bisa masak?" tanya bi Jum binggung. Bi Jum tak percaya jika Arneta bisa memasak.
"Aku bisa masak tapi nggak sepintar bi Jum," balas Arneta merendah.
"Beneran Non bisa masak, kalau gitu Non mau buat apa biar bibi bantu," jawab bi Jum yang ikut bersemangat.
Bi Jum senang mengetahui jika nyonya mudahnya teryata bukan wanita yang anti dapur.
"Non kalau mau buat kue semua bahannya ada di rak sebelah sini, tapi kalau mau buat masakan laik atau yang lainnya bahan-bahannya ada di dalam kulkas. Mulai dari daging sampai seafood pun ada," terang bi Jum.
"Kira buat aja ya bi, tapi janji bibi nanti bantuin ya," kata Arneta sambil tersenyum senang.
Setelah sepakat untuk membuat kue Arneta dan bi Jum mulai sibuk. Arneta mengecek bahan-bahan kue yang di perlukan agar di keluarkan dari dalam lemari penyimpanan. Sedangkan bi Jum mengeluarkan bahan-bahan yang di sebutkan oleh Arneta. Arneta membuat kue dengan hati yang gembira, Arneta untuk sejenak melupakan sikap Abby saat menujuh rumah baru.
Bersambung
__ADS_1