
Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut mendadak binggung setelah mendengar pertanyaan Arneta. Abby lebih terkejut lagi karena Arneta tidak mengingatnya.
Abby menghampiri Arneta dan langsung menggenggam tangan Arneta.
"Sayang ini aku, Abby suamimu," ujar Abby. Arneta dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Abby.
Arneta menatap Abby dengan tatapan binggung. Arneta merasa bahwa dirinya tidak mengenal Abby.
"Suami..?" tanya Arneta masih tetap memandang Abby.
"Iya Neta, aku Abby suamimu," Abby mengulangi kata-katanya.
"Tidak mungkin, kamu pasti bohong," Arneta menolak pengakuan Abby.
"Tidak mungkin aku menikah dengan mu, aku mencintai orang lain. Jangan asal bicara kamu," ucap Arneta. Hati Abby langsung merasa sakit seperti di sayat pisau.
Abby tak ingin menyerah begitu saja, Abby kembali mencoba mengingatkan bahwa dirinya adalah suaminya Arneta.
"Neta, kita sudah menikah dan kamu adalah istri ku," ucap Abby yang mulai di landa kegalauan.
Arneta mengangkat kedua tangannya di udara dan melihat jari manis.
"Kalau aku sudah menikah kenapa di jari aku tidak ada cincin pernikahan," balas Arneta semakin binggung dengan pengakuan Abby.
Tak ingin melihat Arneta semakin binggung bu Maya maju selangkah mendekati Arneta.
"Nak, apakah kamu lupa dengan mama?" ucap bu Maya. Arneta memandangi wajah wanita yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Arneta bisa melihat meskipun wanita itu sudah berumur tapi kecantikannya masih visa terlihat dengan jelas.
Arneta memicingkan matanya sambil berusaha mengingat siapa wanita cantik ini.
"Tante temannya ibu aku kan," ucap Arneta ragu-ragu.
"Iya benar, mama adalah temannya ibu kamu," ujar bu Maya senang.
Abby kembali mencoba meraih tangan Arneta dan mencoba meyakinkan Arneta bahwa dirinya adalah suaminya.
"Neta...."
Belum sempat Abby memegang tangan Arneta, Arneta lebih dulu mendekap tangannya di dada.
Beberapa detik kemudian Arneta memegang kepalanya karena terasa sakit.
"Aduh..."Arneta meringis.
"Sayang kamu kenapa," ucap Abby panik. Arneta terus memegangi kepalanya dan masih meringis kesakitan.
"Kepala ku sakit," aduh Arneta.
"Dokter.... dokter..." teriak Abby memanggil dokter.
Suster jaga yang mendengar teriakkan Abby langsung menghampiri dan masuk kedalam ruangan Arneta.
"Ada apa..?" tanya suster itu.
__ADS_1
"Kepala istri saya sakit," ujar Abby.
Suster itupun melihat Arneta yang sudah sadar. Suster itu langsung memencet tombol pada dinding kamar untuk memanggil dokter.
Dengan tak sampai satu menit dokter pun datang. Setelah tiba dokter pun melihat Arneta yang sudah bangun dari tidurnya.
"Pasien sudah sadar," ucap dokter tersebut.
"Dok, kepala istri saya sakit," terang Abby.
"Saya periksa dulu ya," jawab dokter.
Dokter itupun melakukan tugasnya sebagai dokter memeriksa kesehatan Arneta.
"Apa ada yang sakit?" tanya dokter pada Arneta.
"Kepala saya sakit sekali dok" jawab Arneta. Arneta mengatakan apa yang dirasakannya.
"Nanti saya kasih resep obat, biar kepalanya tidak sakit lagi,"jawab dokter itu kembali tersenyum ramah.
Setelah selesai memeriksa dokter itu mengatakan bahwa Arneta akan di periksa lagi untuk mengecek kondisi kesehatan Arneta secara keseluruhan.
"Maaf sok, kenapa istri saya tidak mengingat saya sebagai suaminya," tanya Abby.
"Benarkah....? ucap dokter itu sedikit terkejut.
"Iya dok, disini hanya aku yang tidak diingat oleh istri saya," terang Abby. Abby ingin mengetahui kenapa Arneta tidak bisa mengingatnya.
Dengan patuh semua orang yang ada dalam ruangan tersebut pun keluar sesuai dengan permintaan dokter tadi. Akan tetapi Abby masih berdiri di tempat enggan untuk keluar. Abby penasaran kenapa Arneta bisa melupakannya.
"Maaf pak, saya minta agar bapak keluar sebentar dulu," dokter itu mengusir Abby secara halus.
"Tapi dok...," protes Abby belum terucap sampai selesai suster sudah membukakan pintu agar Abby segera keluar. Dengan berat hati Abby pun keluar.
Dokter pun mulai memeriksa Arneta secara intensif. Dokter bukan hanya memeriksa kembali tubuh Arneta tapi dokter tersebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada Arneta. Hingga akhirnya dokter itu bisa menarik satu kesimpulan tentang Arneta.
Selesai memeriksa dokter dan suster keluar dan menemui keluarga besar Arneta.
"Disini siapa orang yang paling dekat hubungannya dengan pasien?" tanya dokter. Pak Jaya segera maju.
"Saya ayahnya Neta," ucap pak Jaya.
"Saya suaminya," Abby tak ingin kalah.
"Baiklah, saya minta bapak berdua keruang saya," pinta dokter tersebut. Dengan perasaan campur aduk Abby dan pak Jaya mengikuti arah langkah dokter itu.
Setibanya di dalam ruangan kerja dokter, dokter itu mempersilahkan Abby dan pak Jaya untuk duduk terlebih dahulu.
"Dok, ada apa dengan putri saya?" ucap pak Jaya dengan perasaan cemas. Abby pun ikut bertanya tentang Arneta.
"Istri saya nggak kenapa-kenapa kan dok?"
"Maaf kalau saya harus menyampaikan berita ini, dari hasil pemeriksaan tadi pasien mengalami penyakit yang di sebut amnesia disiosiatif," terang dokter.
__ADS_1
Ha..
Abby dan pak Jaya sama tercengangnya mendengar ucapan dokter.
"Tapi kenapa bisa bisa dok?" ucap Abby gusar.
"Sebenarnya bukan kecelakaan yang membuat pasien mengalami amnesia, tapi ada faktor lain yang merupakan penyebabnya," ucap dokter.
"Maksudnya dokter apa?" pertanyaan ini diucapkan secara bersamaan Abby dan pak Jaya.
"Begini, pasien mengalami amnesia disiosiatif. Amnesia disiosiatif itu tercetus dari trauma atau stress berat yang dialami pasien sebelum kecelakaan," jelas dokter itu.
Abby langsung merasa sesak nafas setelah mendengar penjelasan dokter tersebut.
"Dok, apa masih bisa di sembuhkan?" tanya pak Jaya dengan perasaan cemas.
"Bisa disembuhkan lewat obat-obatan dan dukungan orang-orang disekitar," jawab dokter.
"Berapa lama istri saya berada dalam kondisi seperti ini?" tanya Abby.
"Kalau masalah itu saya sebagai dokter tidak bisa memprediksi kapan pasien akan pulih ingatannya. Tetapi menurut pengalaman saya pribadi sebagai dokter, pasien kehilangan ingatan itu bisa hanya beberapa jam, tapi ada juga yang berbulan-bulan bahkan ada yang sampai tahunan. Dan yang lebih parahnya lagi ada pasien yang benar-benar kehilangan ingatannya untuk selamanya," tetang dokter tersebut.
Abby dan pak Jaya semakin pusing mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Arneta.
"Dok, apa yang bisa kami lakukan agar anak saya bisa kembali seperti dulu?" ucap pak Jaya.
"Tetap awasi putri bapak, coba bawah kembali putrinya ketempat-tempat yang dulu pernah didatanginya, tapi ingat jangan memaksakan pasien untuk mengingat kembali kenangan yang dulu karena itu bisa berakibat fatal bagi pasien," terang dokter itu lagi.
Setelah mendapatkan ketenangan dari dokter Abby dan pak Jaya keluar dari ruangan dokter. Setelah berada di luar ruangan pak Jaya langsung memukuli Abby.
Bug
"Aduh yah..." Abby meringis kesakitan.
"Gara-gara perbuatan mu anakku jadi seperti ini," ujar pak Jaya emosi.
"Ampun yah, aku janji akan berubah ," ucap Abby berjanji.
"Aku akan membawa Neta pulang ke rumah, dan kamu silahkan urus surat perceraian kalian berdua," ucap pak Jaya marah.
Bersambung
Sebagai informasi aja.
Amnesia disosiatif memiliki ciri hilangnya memori episodik yang dapat berlangsung selama berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun. Amnesia jenis ini banyak disebabkan oleh alasan psikologis seperti trauma atau depresi.
Penyebab amnesia disosiatif
Peristiwa traumatis atau stres berat biasanya menyebabkan amnesia disosiatif. Trauma biasanya sesuatu yang dialami individu selama masa kanak-kanak, seperti pelecehan seksual atau pengabaian emosional.
Orang dengan amnesia disosiatif melupakan informasi pribadi yang penting.
Amnesia ini sering berlalu dan ingatan dapat dipulihkan. Namun, dalam beberapa kasus yang sulit, informasi yang hilang tidak dapat kembali.
__ADS_1