
Selama perang dingin antara Abby dan Arneta, Abby di buat pusing tujuh keliling. Abby belum juga menemukan cara yang tepat untuk bisa lagi berbaikan dengan Arneta. Arneta selalu menghindar dari Abby, bukan hanya menghindar tapi Arneta benar-benar tidak ingin bertemu dengan Abby walaupun tinggal serumah.
Di dalam ruang kerjanya Abby benar-benar tidak bisa konsentrasi pada kerjanya, sudah satu minggu lebih Arneta mengacaukan Abby, Abby gelisah.
Tok
Tok
Pintu ruang kerjanya Abby di ketuk seseorang.
"Masuk..." perintah Abby.
Sarfa masuk sambil membawa sebuah map yang berwarna coklat di tangganya.
"Pagi Abby..." sapa Sarfa. Abby bukannya menjawab ucapan Sarfa tapi menyenderkan kepalanya di atas meja kerjanya.
Sarfa melangkah mendekati Abby yang terlihat kusut.
"Ada apa Bee?" tanya Sarfa.
"Neta.." balas singkat Abby.
"Kenapa, belum baik-kan juga?" tebak Sarfa.
Abby mengangkat kepalanya menghadap Sarfa. Ada kegelisahan jelas terpancar di mata Abby.
"Belum..." jujur Abby mengakuinya.
"Bukankah itu baik.." pancing Sarfa.
"Baik kepala mu..," ujar Abby kesal.
"Kan dengan begini akan lebih mudah buat mu bercerai darinya," tutur Sarfa seenaknya.
Abby terkejut dengan ucapan Sarfa, ada perasaan tidak rela untuk berpisah dari Arneta.
"Cerai...?" Abby mengulangi kata cerai yang di ucapkan Sarfa dengan nada binggung.
"Iya cerai, bukankah perceraian kamu dengan Arneta tinggal empat bulan lebih dua minggu pagi," Sarfa mengingatkan Abby tentang jumlah bulan yang tersisa waktu pernikahan Abby dan Arneta.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengingatkan soal itu," ucap Abby tak suka.
"Tapi memang seperti itu kenyataannya Bee, sesuai dengan perjanjian yang kamu buat dulu. Ingat tidak?" tutur Sarfa. Sarfa mengungkit surat perjanjian yang dibuatnya atas perintah Abby.
Abby jengkel jika mengingat surat perjanjian yang dibuat, juga bisa Abby mengulang waktu tentu saja Abby ingin kembali pada masa Abby membuat perjanjian itu dan menghilangkannya. Abby menyesali dengan ide gilanya soal perjanjian pernikahannya dengan Jika tahu akhirnya seperti ini Abby tidak akan membuat surat itu.
Abby mengusap wajahnya dengan kasar. Abby benar-benar tidak berdaya saat ini. Jika Abby boleh memilih, Abby akan memilih melihat Arneta marah-marah daripada mendiamkannya seperti ini.
"Afa, kamu punya ide nggak, usul gitu biar aku sama Neta baik-kan?" ujar Abby meminta
Sarfa menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan sebagai jawabannya. Abby menarik nafas berat.
"Percuma pinter, tapi tak punya ide," ujar Abby meremehkan Sarfa. Sarfa tidak merasa sakit hati akan kata-kata Abby barusan, Sarfa mengerti perasaan Abby. Dan memang juga antara Abby dan Sarfa sudah biasa bercanda seperti tadi.
Abby merubah posisi duduknya, duduk dengan tegak siap untuk melanjutkan pekerjaannya. Mata Abby tertuju pada amplop coklat yang di pegang Sarfa sejak masuk kedalam ruangannya.
"Itu apa Afa..?" tanya Abby sambil menunjuk amplop coklat yang di pegang Sarfa.
"Oh, ini laporan yang kamu minta," ucap Sarfa sambil meletakkan amplop coklat tersebut di hadapan Abby.
"Laporkan tentang apa, perasaan semua laporan minggu ini sudah saya cek semuanya," ujar Abby. Abby lupa jika dirinya pernah meminta Sarfa untuk menyelidiki Robby mantan kekasih Arneta.
Sarfa menarik kembali amplop coklat yang tadi diletakkan di atas meja Abby.
"Hei tunggu dulu," ucap Abby sambil menahan amplop coklat tersebut agar tidak diambil lagi oleh Sarfa.
"ini laporan yang mana?" Abby belum mengerti maksud Sarfa.
Sarfa menarik dalam nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Abby.
"Ini tentang laporan yang kamu minta saat di cafe waktu itu, ingat nggak ada laki-laki yang terlihat akrab dengan istri mu," tutur Sarfa mengingatkan.
Abby langsung semangat mendengar penjelasan Sarfa. Akan tetapi di satu sisi Abby juga degdegan akan hasil penyelidikan Sarfa. Abby mendorong amplop coklat tersebut kearah Sarfa. Sarfa mengerutkan keningnya menatap Abby binggung.
"Kamu sudah tidak tertarik dengan laporan ini, ya sudah aku ambil lagi," ujar Sarfa sambil tangannya menarik amplop tersebut.
"Bukan begitu, aku mau kamu bacakan hasil penyelidikan kamu tentang pria itu," jawab Abby.
Sarfa mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop tersebut. Sarfa bersiap untuk mulai membacakan setiap kata yang terlukis dalam kertas tersebut.
__ADS_1
"Laki-laki itu bernama Robby, teman kuliah Arneta tetapi mereka berdua berbeda jurusan. Robby juga berteman baik dengan kedua sahabatnya Arneta. Mereka berempat seringkali menghabiskan waktu bersama. Robby sekarang bekerja di perusahaan X dan Robby masih memiliki keluarga yang lengkap. Ayah dan ibunya Robby masih hidup sampai sekarang. Kedua orang tuanya Robby sangat bangga dengan prestasi Robby. Dan ternyata Robby itu pernah melamar di perusahaan...." Sarfa belum selesai membaca isi laporan perkataannya di potong Abby.
"Stop....terlalu bertele-tele, langsung pada intinya saja. Ada hubungan apa antara Arneta dengan peri itu," penjelasan Sarfa yang terlalu panjang membuat tidak sabaran.
Sarfa membalikkan satu kembar kertas kebelakang, Dan Sarfa langsung membaca pada inti laporan tersebut.
"Robby dan Arneta merupakan sepasang kekasih, Robby sangat mencintai Arneta begitu juga dengan Arneta. Mereka berdua sudah menjalin cinta selama dua tahun lebih. Robby dan Arneta sebenarnya sudah merencanakan pernikahan tapi gagal di tengah jalan," penjelasan panjang dan padat akurat di bacakan Sarfa untuk Abby.
Abby melempar tubuhnya bersandar pada kursinya. Abby gelisah.
"Pantas Arneta terlihat canggung saat itu, rupanya laki-laki itu mantan kekasihnya," ujar Abby.
"Ada satu hal penting yang kamu lupakan Abby," ucap Sarfa.
"Maksudnya.." Abby.
"Robby bukan hanya kekasihnya Arneta,ingat mereka berdua hampir ME NI KAH...," ujar Sarfa memberikan tekanan pada kata menikah.
Abby merubah raut wajahnya menjadi tegang.
"Jadi laki-laki sialan itu mencoba mendekati Arneta lagi, begitu maksud mu," ucap Abby.
Sarfa menaikkan kedua bahu dan tangganya.
"Tidak boleh, laki-laki itu harus jauh dari Arneta," Abby tidak terima Robby mendekati Arneta lagi.
"Dimana dia bekerja?" tanya Abby.
"Dia bekerja di perusahaan X dan saat ini sedang di tugaskan di luar daerah," jelas Sarfa.
Abby menarik nafas lega mendengar penjelasan Sarfa. Abby berpikir bahwa saat ini posisinya masih aman, masih ada waktu untuknya agar bisa berbaikan dengan Arneta.
"Tapu Bee, dua minggu lagi Robby akan kembali ke Jakarta," sambung Sarfa. Abby yang tadi sudah merasa lega kini kembali cemas
"Cuma sebentarkan?" Abby penasaran.
"Tidak, kali ini Robby akan bekerja di Jakarta, tugasnya di luar sudah selesai lebih cepat dari seharusnya," jelas Sarfa sambil melihat kembar kertas ditangannya.
"Gawat kalau begini, Neta tidak boleh bertemu dengan laki-laki itu," Abby kembali panik. Biar bagaimanapun Abby tidak akan rela melepaskan Arneta. Hatinya tidak bisa menerima jika Arneta pergi meninggalkannya dan kembali dengan Robby.
__ADS_1
Bersambung
"