CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 13 SEDIH


__ADS_3

Lima hari setelah pertemuan Arneta dan Robin, Robby belum memberikan kabar apapun kepada Arneta tentang lamaran pekerjaannya. Sementara itu Arneta menjalani harinya dengan rasa cemas memikirkan tentang perjodohan dan menunggu kapan Robby akan datang menemui orang tuanya.


     Hari ini Arneta pulang agak sore, dengan langkah yang agak gontai wanita memasuki rumah.


"Sore ya," siapa Arneta setelah melihat ayahnya sedang duduk di ruang tamu.


"Sore sayang bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya ayah Arneta.


"Semuanya baik-baik saja ya, ayah bagaimana pekerjaan kantor sama tokonya apa semuanya baik-baik saja?" Arneta menjawab pertanyaan ayahnya sekaligus mengajukan pertanyaan yang sama kepada ayahnya.


"Ayah baik juga oh ya kamu pasti capek istirahat dulu gih," ucap ayah Arneta.


"Hari ini Anita tidak begitu capek ayah kebetulan di toko pekerjaannya semuanya berjalan lancar masalah urusan kampus semuanya udah selesai jadi tinggal menunggu hari wisudanya saja ayah," balas Arneta lagi.


"Syukurlah kalau begitu Neta waktu wisudamu tinggal dua minggu lagi kan nak?" Tanya ayah lagi.


"Iya ya tinggal dua minggu lagi masalah toganya udah selesai Arneta urus pokoknya tinggal tunggu hari H-nya aja semuanya udah beres," jawaban Arneta antusias.


"Wah sebentar lagi  anak ayah akan menjadi sarjana. Ayah sangat senang mendengarnya," tutur ayah Arneta dengan rasa bangga.


"Ya Neta mandi dulu mandi dulu ya, bau keringat nggak tahan badan lengket semua," pamitan nikah kepada ayahnya.


"Ya sudah mandi gih tapi nanti setelah mandi ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu nak," ucap ayah


Deg..


Arneta yang mendengar ucapan ayahnya yang terakhir membuat jantungnya terasa seperti dicubit. Ada rasa gelisah yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.


"Apakah ayah akan membicarakan tentang perjodohan itu?" Arneta bermonolog dalam hatinya.

__ADS_1


"Baik yah minta mandi dulu ya," jawab Arneta kepada ayahnya.


      Dengan suasana hati yang sangat gelisah meninggalkan ayahnya segera menuju kamarnya ingin segera membersihkan diri seperti yang sudah diucapkan tadi. Setibanya di dalam kamar ada tas segera menuju ke tempat tidurnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk, gelisah takut cemas bertumpuk di hati Arneta. Pikirannya pun kini menerawang entah ke mana. Arneta belum menemukan jawaban yang tepat jika seandainya apa yang di cemaskan benar-benar terjadi.


      Arneta belum tahu alasan apa yang akan diberikan kepada ayah dan ibunya seandainya jika dirinya menolak perjodohan itu. Saat ini Arneta sangat yakin jika ayahnya mengajaknya bicara saat ini ingin membahas soal perjodohan yang sudah didengarnya.


       Arneta mengintip jam yang ada menempel di salah satu dinding kamarnya, 


Haaa


Hembusan nafas berat Arneta memecah sunyinya kamar,  Arneta merebahkan tubuhnya di atas kasur selama 5 menit sebelum dirinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


    Dengan langkah berat Arneta menuju ke kamar mandi tapi sebelumnya Arneta meraih handuk yang tergantung di salah satu pojok kamarnya. 


Lima belas menit sudah Neta berada dalam kamar mandi, tubuhnya yang tadi terasa lengket kini kembali bersih wangi khas sabun mandinya menempel di tubuhnya membuat Arneta merasa segar kembali. 


      Setelah selesai mengenakan baju yang bersih  Arneta segera duduk di meja rias miliknya. Arneta menyisir rambutnya yang panjangnya hanya sebahu wanita bercermin sesaat memandangi wajahnya ada senyum kecil yang melingkar yang menghiasi wajah Arneta, tapi senyum kecil itu tiba-tiba menghilang setelah Arneta mengingat pesan ayahnya sebelum dirinya mandi.


      Setelah selesai merapikan dirinya Anita segera menemui ayahnya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Ayah lagi baca apa?" tanya Arneta setelah duduk di samping ayahnya. Arneta bersikap seperti biasanya Anita tidak menunjukkan kegelisahan dan keresahan yang dihadapan ayahnya.


"Ayah hanya baca berita yang berkembang saat ini Neta, oh ya kamu udah lapar belum?" ucap ayah Arneta.


"Neta belum lapar ya," jawab Arneta.


"Neta, Ada yang ingin ayah sampaikan sama kamu, tapi ayah ingin kamu memberikan jawaban sesuai dengan isi hatimu nak," ucap ayah Arneta.


"Ayah ingin bicara tentang apa? Kalau masalah kerjaan semuanya baik-baik saja soal kampus udah selesai semua ya tinggal nunggu hari wisudanya aja ayah nggak perlu cemas," jawab Armada. Arneta berusaha tenang meskipun hatinya saat ini benar-benar sangat gelisah, pasalnya Arneta bisa menebak apa yang akan dibicarakan ayahnya.

__ADS_1


"Kita tunggu ibu dulu ya baru ayah membicarakan yang ingin ayah sampaikan ke kamu nak,"tutur ayahnya Neta.


"Baik ya, ibu masih di dapur?"  ucapkan Neta.


"Iya ibu lagi dibuat teh sama gorengan," balas ayahnya Neta.


      Ruang tamu kembali sepi, tak ada pembicaraan antara ayahnya Neta dan Arneta. Ayah Arneta sedang berpikir kata-kata yang tepat saat memulai pembicaraannya dengan Arneta anaknya. Sedangkan Arneta berusaha bersikap biasa-biasa saja seolah-olah dirinya belum tahu apa yang akan disampaikan oleh ayahnya. 


     Sementara ayah Anita dan Neta sibuk dengan pikirannya masing-masing ibu keluar dengan membawa baki yang berisi secangkir kopi dan teh manis lengkap dengan gorengan pisang yang tertata rapi di atas piring.


"Eh kok pada bengong sih ayo pada mikirin apa hayo," ucap bu Nola setelah melihat suami dan anaknya saling diam termenung tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Ayo diminum tehnya jangan lupa pisang gorengnya dimakan," ucapan ulang lagi.


Ucapan Bu Nola dibalas dengan senyuman oleh suaminya dan anaknya. Bu Nola mengambil posisi duduk di samping suaminya setelah meledakkan nampan yang berisikan teh dan pisang goreng yang di bawahnya tadi.


"Nita apa semua persiapan untuk wisuda nanti udah selesai semuanya?" tanya Bu Nola.


"Sudah bu semuanya udah beres," jawab Neta.


"Nanti pas acara wisuda nanti ayah sama ibu ingin bikin pesta kecil-kecilan sebagai ucapan syukur atas kelulusan kamu, nanti kamu jangan lupa undang teman-temanmu ya," ucapan Nola lagi.


"Makasih Yah makasih Bu nanti Neta undang teman-teman Neta sama karyawan Neta," jawaban Neta.


"Ayah Bu apakah kakak akan pulang di hari wisudanya Neta?" tanya Neta.


"Sepertinya kakakmu belum bisa pulang Nita ayah sudah menelpon kakak katanya kakak nggak bisa ninggalin kerjaannya di sana. Kakakmu sedang melaksanakan proyek baru yang ditugaskan oleh perusahaannya," balas ayah Neta.


"Yah tapi tak apalah yang penting kakak di sana baik-baik aja," ucap Natal, ada rasa sedih di hatinya Neta karena kakaknya ternyata tidak bisa pulang untuk menyaksikan hari wisudanya.

__ADS_1


"Ayah, tadi kata ayah ingin mengatakan sesuatu pada Neta Apa itu?" tanya Neta meskipun hatinya dilanda kegundahan yang amat sangat Neta memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya.


Bersambung


__ADS_2