
Abby masih mendekap erat tubuh Arneta dalam pelukannya meskipun ada penghalang pembatas kursi antara Abby dan Arneta nyatanya Abby tidak memperdulikan hal itu. Arneta masih menitikkan airmatanya meskipun Abby sudah meminta maaf atas kesalahannya.
Arneta menghapus airmata dengan punggung tangannya.
"Kamu itu sungguh menyebalkan, tau. Aku selalu di buat menangis sama kamu," gerutu Arneta di sela-sela tangisnya.
"Aku benar-benar menyesal, aku minta maaf. Aku janji setelah ini tidak ada lagi airmata yang keluar dari kedua matamu. Aku janji.," ucap Abby bersungguh-sungguh.
Arneta melepaskan pelukannya Abby dengan enggan, meskipun sebenarnya Arneta masih ingin Abby memeluknya.
"Kita harus ke pengadilan sekarang," kata Arneta sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kan kita tidak jadi bercerai, kenapa harus ke pengadilan?" tanya Abby panik. Abby takut Arneta berubah pikiran.
"Bee, kamu lupa ya disana Sarfa dan pengacara pasti sudah menunggu" jelas Arneta.
"Biarkan saja, kita pulang sekarang," balas Abby.
"Ih, kamu itu lupa ya. Kamu harus membatalkan gugatan cerai kamu dulu di pengadilan Abby," ucap Arneta gemas.
"Hehehe, aku lupa," Abby lupa dengan gugatannya kepada Arneta.
Abby langsung tancap gas menuju ke pengadilan agama. Benar saja disana Sarfa sudah menunggu bersama pengacara seperti yang diucapkan Arneta. Abby turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Arneta. Setelah Arneta kekuar dari dalam mobil Abby langsung menggandeng tangan Arneta seolah takut Arneta menghilang.
Di luar ruangan Sarfa bersama pengacara menunggu kedatangan Abby dan Arneta.
"Sepertinya tugas kita untuk kasus ini sudah selesai," kata Sarfa memberikan kode pada pengacara. Pengacara mengikuti arah pandang Sarfa dan pengacara itu langsung mengerti maksud ucapan Sarfa. Pengacara langsung tersenyum kecil.
Abby dan Arneta menghampiri Sarfa yang sudah menunggu dari tadi.
"Aku dan istriku tidak jadi bercerai," ucap Abby.
"Dasar kurang kerjaan, kalau cinta kenapa harus menunggu sidang perceraian baru memutuskan untuk bersama?" ujar Sarfa kesal. Tapi meskipun demikian Sarfa merasa senang karena akhirnya Arneta dan Abby benar-benar bersatu lagi.
Sidang perceraian dimulai, saat sidang Abby langsung mengutarakan niatnya untuk mencabut dan membatalkan gugatan cerainya. Sidang berjalan dengan lancar. Arneta dan Abby sama-sama menandatangani surat pencabutan gugatan cerai.
__ADS_1
Semua urusan sidang sudah selesai, Arneta dan Abby memutuskan untuk pulang ke rumah. Abby hari ini tidak masuk kerja, seperti biasa Sarfa lah yang akan penganti Abby di perusahaan.
Hari ini untuk pertama kalinya Abby dan Arneta menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, Arneta dan Abby saling bertukar cerita dan saling menanyakan tentang hal yang sepele sampai hal yang rumit. Di kesempatan kali ini Abby dan Arneta ingin saling mengenal lebih dalam lagi. Seperti dua sejoli yang baru saja mengikat janji sebagai sepasang kekasih.
Setelah kembali bersama Abby sekarang lebih meluangkan waktunya untuk menemani Arneta. Tanpa Arneta tahu Abby ternyata diam-diam menyusun rencana untuk membuat kejutan untuk Arneta. Abby tentunya tidak melakukan hal itu sendirian, ada Sarfa dan Rika yang sebentar lagi akan menikah. Ada juga Gita bersama suaminya. Mereka semua membantu Abby dengan suka rela, ini semua demi kebahagiaan Arneta sahabat mereka yang baru saja menemukan kebahagiaannya.
Hari ini Abby mengajak Arneta kesuatu tempat yang Arneta tidak pernah pikirkan sebelumnya.
"Sayang, sudah siap?" tanya Abby. Panggilan Abby untuk Arneta kini berubah, dulunya memanggil Arneta dengan panggilan Neta, kini berganti sayang.
"Aku sudah siap," jawab Arneta.
"Kamu sangat cantik hari ini," puji Abby.
"Berati kemarin-kemarin aku jelek ya," protes Arneta.
"Tetap cantik," balas Abby. Abby tersenyum bahagia begitu juga dengan Arneta.
Tapi meskipun Arneta dan Abby sudah berbaikan nyatanya Abby dan Arneta belum melakukan yang seharusnya di lakukan oleh suami istri. Abby menunggu waktu yang tepat sampai benar-benar Arneta sudah merasa nyaman berada di sisinya.
Tiba di tujuan tempat kejutan akan di berikan oleh Abby kepada Arneta. Abby membukakan pintu mobil untuk Arneta, Arneta keluar dari dalam mobil secara perlahan matanya masih tertutup oleh selembar kain.
Abby menuntun langkah Arneta dengan sangat hati-hati, jangan sampai Arneta terjatuh. Tiba di depan altar Abby membuka penutup mata Arneta. Arneta membuka matanya dan melihat sekelilingnya, Arneta tahu di mana Abby membawanya. Arneta terkejut dengan apa yang dilihatnya, dirinya sudah berada di dalam gereja tempat dulu pemberkatan nikah dirinya dan Abby. Bukan hanya itu di dalam gereja pastor dan sahabatnya juga sudah berada di sana.
Arneta menatap Abby binggung, Arneta belum mengerti maksud Abby membawanya kembali ke gereja tempat mereka menikah. Abby meraih kedua tangan Arneta dan menggenggamnya erat.
"Sayang, disini aku akan mengucapkan janjiku padamu, dulu aku berjanji menikah denganmu karena terpaksa. Tetapi hari ini, di hadapan Tuhan, pastor dan sahabat kamu. Aku Abby, mulai hari ini berjanji akan menjadi suami dan seorang ayah yang baik untuk keluar kita, dan aku berjanji akan selalu setia mendampingi Arneta sebagai istriku sampai maut memisahkan," Abby kini mengucapkan janji pernikahan dengan sepenuh hati.
Airmata Arneta kini mengambang di pelupuk matanya, Arneta berusaha supaya airmatanya tidak jatuh tetapi Arneta gagal melakukannya. Arneta menangis lagi.
"Sayang, kenapa menangis , apa ada yang salah?" tanya Abby panik.
"aish, kenapa punya suami yang nggak peka. Aku menangis bahagia suamiku," ucap Arneta sambil tersenyum di selah-selah tangisnya. Hati Abby langsung berbunga-bunga karena ucapan Arneta istrinya.
"Semoga setelah apa yang kalian berdua lalui menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya. Singkirkan ego masing-masing. Sebagai penutup, saya doakan semoga pernikahan kalian berdua akan terus bersama sampai maut memisahkan," pastor memberikan selamat dan pesan untuk Arneta dan Abby.
__ADS_1
Semua yang menyaksikan kebahagiaan Arneta dan Abby ikut merasakan bahagia. Mereka menjadi saksi bagaimana dua insan ini akhirnya bersatu. Banyak sekali liku-liku kehidupan rumah tangga yang harus di jalani oleh Arneta dan Abby, pertengkaran dan selisih paham mewarnai awal pernikahan Abby dan Arneta dan semuanya terbayar lunas hari ini.
Sebagai penutup dari acara hari ini Abby mengajak mereka semua untuk makan bersama di sebuah hotel berbintang. Yang barang tentu Abby yang akan menanggung biaya semuanya.
Acara makan bersama berjalan dengan lancar, di sana ada tawa dan canda mewarnai acara makan bersama. Arneta dan Abby menjadi sasaran empuk dari kejahilan sahabat-sahabatnya.
Arneta dan Abby kini benar-benar menjadi seperti pengantin baru meskipun sudah setahun lebih mereka berdua Menik.
"Sayang, aku masih punya kejutan untukmu," ucap Abby. Semua yang ada di situ langsung berhenti dari kegiatan makan mereka. Semua menunggu kejutan yang akan di berikan Abby untuk Arneta, lebih tepatnya penasaran apa yang akan di berikan Abby. Lebih-lebih Arneta, Arneta lebih penasaran lagi. Arneta menunggu kejutan Abby dengan jantung berdebar kencang.
Abby mengeluarkan satu amplop coklat berbentuk persegi panjang dalam ukuran sedang.
"Sayang, ini tiket pesawat untuk kita berbulan madu," ucap Abby sambil menyerahkan amplop itu pada Arneta. Mendengar ucapan Abby wajah Arneta langsung berubah menjadi merah, Arneta tahu apa arti dari kata bulan mandu.
"Cie .. cie...."
Kata yang sederhana itu terucap dari bibir Rika dan Gita bersamaan. Wajah Arneta semakin memerah karena ucapan tersebut.
"Kita-kita ini nggak diajak gitu?" ucap Gita, otak Gita kembali absurt.
"Gila kamu, masak bulan madu harus ngajak orang. Astaga Gita, nanti kita menganggu acara buat anak," timpal Rika dengan kata-kata fulgar. Abby dan Arneta menjadi salah tingkah karena ucapan Rika.
"Tenang, aku juga sudah beli tiket untuk kita semua. Semua boleh ikut bulan madu menemani pengantin baru," ucap Sarfa sambil menunjukkan beberapa lembar tiket pesawat.
"Kok bisa?" balas Rika terkejut.
"Kita harus menjaga pengantin baru ini supaya tidak membuat masalah yang akan membuat kita semua kena getahnya," ujar Sarfa tanpa ada perasaan bersalah. Abby hanya menatap kesal pada Sarfa sebagai bentuk protes. Sayangnya protes Abby tak digubris oleh Sarfa, Sarfa justru meminta semua orang agar segera bersiap-siap karena mereka semua akan berangkat malam ini juga menemani Abby dan Arneta berbulan madu.
Sejak saat ini kehidupan rumah tangga Arneta berjalan dengan lancar. Kebahagiaan senantiasa menemani hari-hari Arneta. Sudah tak ada lagi airmata kesedihan yang keluar dari mata Arneta. Dan Abby melakukan janjinya untuk selalu mencintai Arneta sebagai istrinya. Tak ada lagi salah paham, Abby benar-benar menaruh kepercayaan penuh kepada Arneta, jika ada hal yang mengganggu pikirannya Abby akan bertanya pada Arneta. Sikapnya yang dulu selalu curiga kini telah hilang.
TAMAT
Maaf jika ada kesalahan yang dibuat oleh author. 🙏
Terimakasih sudah membaca sampai tamat kisah cinta Arneta dan Abby. Makasih juga untuk like komen dan hadiahnya❤️🙏
__ADS_1