CINTA SETELAH LUPA

CINTA SETELAH LUPA
Bab 38 TETANGGA


__ADS_3

Gracia bergidik ngeri dengan pemandangan yang ada didepan matanya saat ini. Gracia langsung menjadi ciut setelah para ibu-ibu tetangganya Arneta keluar, apa lagi ada yang keluar sambil membawa sapu dan gunting, pisau.


Gracia menatap Arneta penuh dengan amara. Sedangkan Arneta berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di atas dada, ada senyum terukir di bibir Arneta membuat Gracia semakin geram.


"Hei pelakor masih mau tetap disini atau pergi?" ujar bu tetangga Arneta sambil memandangi Gracia dengan mata yang sudah terbuka lebar.


"Tapi aku belum bertemu dengan kekasih ku," Kila Gracia.


"Yang kamu temui itu suami orang..!" ucap tetangga Arneta dengan geram. Arneta masih tetap berdiri menyaksikan Gracia dan tetangganya.


"Tapi sebelum kekasih ku menikah dengan perempuan sial ini, dia adalah kekasihku," balas Gracia ngotot.


"Tapi sekarang laki-laki itu sudah menikah dan punya istri, kamu itu ya sudah salah masih membela diri..!" seru tetangga Arneta, kali ini tetangga Arneta langsung maju beberapa langkah mendekati Arneta dan Gracia.


Gracia yang melihat ibu itu maju menghampirinya langsung mundur beberapa langkah kebelakang.


"Hei apa yang kamu lakukan..?" ujar Gracia cemas.


"Aku mau kasih kamu pelajaran biar kapok jadi pelakor," balas bu tetangga tersebut.


Bukan hanya satu yang maju, para perempuan yang sedari tadi hanya berdiri diam diambang pintu kimi ikut bergerak maju. Gracia kini semakin takut tapi tak mau juga pergi. Gracia kini mencoba kembali masuk kedalam apartemen tapi di halang oleh Arneta. Jelas Arneta tidak akan membiarkan begitu saja Gracia masuk.


"Lepas...aku mau masuk," ucap Gracia sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Arneta.


"KELUAR...!" teriak Arneta pas di depan wajah Gracia. Arneta menarik paksa Gracia agar tidak sampai masuk ke dalam.


Setelah berhasil menarik Gracia Arneta langsung menutup pintu dan berdiri tepat di depan pintu juga.


"Oh jadi masih mau cari masalah?" ujar salah satu ibu-ibu tetangganya Arneta.


Gracia langsung memalingkan pandangannya ke arah ibu-ibu tersebut. Nyali Gracia langsung menciut setelah melihat ibu-ibu itu semakin mendekat ke arah Gracia.


Gracia langsung menatap wajah Arneta dengan tatapan penuh amanah, Gracia mengepalkan kedua tangannya sangat kuat , meskipun kuku panjangnya sampai menusuk daging Gracia tidak merasa hal itu saking emosinya.


"Ingat ya urusan kita belum selesai," ujar Gracia dengan nada mengancam.


"Kamu pikir aku takut, aku tidak pernah takut sama kamu," balas Arneta sambil tersenyum merendahkan.


"Aku akan adukan hal ini sama Abby, dan saya pastikan kamu akan mendapatkan ganjarannya. .." ucap Gracia.

__ADS_1


"Laporkan saja, saya tidak peduli," tantang Arneta.


"Kumu....!" ujar Gracia sambil menunjuk Arneta.


Dan Arneta pun mengangkat salah satu tangannya dan mengibaskan tangannya seperti lambaian tangan tapi dalam posisi terbalik.


"Hus...hus...hus.." usir Arneta.


"Mau kita hajar dulu baru pergi atau pergi sekarang sebelum di hajar..?" ujar bu tetangganya Arneta.


Gracia kini semakin terpojok tak ada jalan untuk dirinya menghindar dari ibu-ibu tersebut. Dengan tatapan sorot mata penuh kebencian dan marah Gracia akhirnya pergi meninggalkan Arneta. Langkah kakinya di hentakan kuat- kuat hingga berbunyi tuk tuk tuk sebagai tanda tak terima dirinya di usir


"Huuuu.....!


Seru para ibu-ibu tersebut dengan kompak.


Setelah Gracia benar-benar pergi Arneta mengucapkan terima kasih kepada tetangganya yang sudah menolongnya mengusir Gracia.


"Makasih ya ibu-ibu," ucap Arneta tulus.


"Sama-sama bu..." serempak ibu-ibu itu menjawab.


"Lain kali jika perempuan itu datang lagi jangan sungkan panggil kita-ya, " tawar bu tetangganya Arneta. Arneta pun tersenyum mendengar tawaran tersebut.


Arneta segera masuk kedalam dan langsung menutup pintu dan menguncinya. Kali ini Arneta harus lebih waspada lagi jika ingin membukakan pintu kepada tamu yang datang. Arneta tidak ingin hal ini terulang kembali, dirinya merasa tidak enak hati karena sudah membuat tetangganya terganggu bahkan terlihat perdebatan antara dirinya dan Gracia.


Arneta langsung menuju ke dapur memeriksa stok bahan-bahan yang tersedia di dapur, apakah ada bahan yang tersimpan untuk membuat kue. Arneta bernafas lega karena semua bahan yang di perlukan sudah tersedia.


Arneta mulai membuat kue, saat ini Arneta berencana membuat kue bolu. Arneta mengeluarkan semua bahan-bahan kue dan langsung mengolahnya menjadi adonan kue bolu.


Setelah siap Arneta memasukkan adonan tersebut dalam loyang cetakan kue bolu. Untuk hari itu waktu pertama kali Arneta berbelanja dirinya sempat melihat seorang bapak-bapak pedagang perabotan jadi Arneta sempat membeli beberapa cetakan kue. Dan hari ini cetakan kue tersebut akhirnya di gunakan.


Arneta memanggang dua buah kue bolu secara bergantian, setelah matang Arneta memotong kue bolu tersebut menjadi beberapa bagian dan langsung membagikan kue tersebut kepada tetangganya tadi yang sudah menolongnya. Arneta membawa kue bolu tersebut ke unit masing-masing tetangganya. Mereka sangat senang menerima kue pemberian Arneta. Hal ini membuat Arneta akhirnya merasa di apartemen ini dirinya tidaklah sendirian.


Arneta kembali menuju ke unit apartemennya tapi sebelum masuk Arneta tiba-tiba di sapa oleh seorang pria pas di sampingnya.


"Hai... orang baru ya," ujar pria itu dengan ramah. Arneta terdiam sejenak memandangi sosok pria tersebut.


"Ya ampun gantengnya...," kata Arneta dalam hati.

__ADS_1


Melihat Arneta yang terdiam pria itu pun berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya.


"Aku Heru..." kata pria itu sambil mengulurkan tangannya. Arneta menyambut tangan pria tersebut sambil tersenyum ramah.


"Aku Arneta tapi cukup panggil Neta aja," ucap Arneta.


"Nama yang cantik, pesisir seperti orangnya," balad Heru. Arneta pun tersenyum mendengar pujian tersebut.


"Sudah lama tinggal disini?" tanya Arneta sekedar basa-basi.


"Lumayan," jawab Heru santai.


"Aku baru pulang dari luar negri jadi baru pertama melihat mu disini," jelas Heru.


"Iya, saya isterinya Abby," ucap Arneta tak ingin pria tersebut berpikiran macam-macam tentang dirinya.


"Oh istrinya Abby, akhirnya menikah juga dia. Tapi untungnya tidak menikah dengan perempuan itu," ujar Heru. Arneta langsung mengerti siapa wanita yang di maksud. Arneta kembali tersenyum.


Arneta tak menyangka jika Heru ternyata juga kenal dengan Gracia. Arneta berpikir mungkin Gracia sudah sering datang kesini jadi Heru bisa mengenal Gracia.


"Ngomong-ngomong tadi saya liat kamu lagi bagi-bagi kue, buat aku mana?" ujar Heru.


"Ha..oh...


Arneta terkejut karena ucapan Heru.


"Kamu mau, sebentar ya aku ambilkan dulu," jawab Arneta.


"Beneran masih ada?" tanya heru dengan nada sungkan.


Tadinya Heru hanya ingin berbasa-basi tak di sangka Arneta menawarkan kue buatannya.


"Sebentar ya aku ambilkan dulu," ujar Arneta dan langsung masuk mengambil beberapa potongan kue bolu.


Selang beberapa saat kemudian Arneta sudah kembali dengan sebutan piring berisikan beberapa potongan kue bolu.


"Ini buat kamu," ujar Arneta sambil memberikan piring berisikan kue kepada Heru.


"Wah wangi banget kuenya pasti enak. saya nggak nyangka perempuan secantik kamu ternyata bisa bikin kue," puji Heru. Kembali Arneta hanya tersenyum mendengar ucapan Heru.

__ADS_1


"Oh ya makasih kuenya...aky masuk dulu ya. Mau mandi udah bau keringat nih" ucap Heru. Arneta mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui perkataan Heru. Mereka berdua pun segera masuk kedalam apartemen masing-masing.


Bersambung...


__ADS_2