
Arneta kembali menundukkan kepalanya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Robby memang memberikan alasannya, tapi tetap saja aku merasa ini tidak baik," ujar Arneta.
"Neta, bukan aku ingin membela Robby tapi apa yang di katakan Robby itu ada baiknya juga," balas Rika.
"Rika ... Arneta diam sesat menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya lagi
"Neta apa yang kamu takutkan?" tanya Rika. Rika bisa menebak keadaan Arneta saat ini dalam keadaan sangat sedih.
"Rika aku takut jika waktu yang di minta Robby justru membuat aku dan dia terpisah," ujar Arneta, Arneta mengungkapkan perasaan galaunya saat ini. Airmatanya Arneta kini mengalir deras lagi membasahi pipinya yang sudah kering kini kembali basa.
"Apa maksudmu Neta?" tanya Rika, Rika penasaran dengan ucapan Arneta.
"Sebenarnya aku tidak sengaja pernah mendengar percakapan ayah sama ibu," ucap jujur Arneta.
"Terus,..apa di bicarakan ayah sama ibu yang membuat kamu khawatir seperti ini, apa aku boleh tau?" tanya Rika penasaran.
"Waktu itu nggak sengaja aku mendengar jika aku akan di jodohkan dengan seseorang," ungkap Arneta. Arneta mengatakan apa yang menjadi ke galaunya saat ini.
"Ha...apa Neta? Kamu nggak salah dengar kan?" ucap Rika tak percaya. Rika terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Arneta barusan.
"Itu benar Rika, makanya hari ini aku ingin mengajak Robby ke rumah biar bisa bicara jujur sama ayah sama ibu, tapi Robby menolaknya," ucap Arneta sedih. Airmatanya Arneta kini semakin deras mengalir, sesekali Arneta mengusap air mata dengan tangan.
"Benarkah kamu akan di jodohkan Neta? Apa kamu sudah mengatakan hal ini sama Robby?" Rika kembali bertanya dengan ekspresi tak percaya apa yang baru saja di dengarkan barusan.
"Belum, aku tidak mengatakan hal ini pada Robby," jelas Arneta.
"Kenapa? Mungkin jika kamu berkata jujur Robby bisa merubah niatnya dan saat ini kalian berdua sudah bertemu sama ayah sama ibu," ungkap Rika yang kini ikutan galau.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya, Robby sudah lebih dulu menolak ajakan ku untuk bertemu dengan ayah sama ibu," ungkap Arneta di sela-sela tangisnya.
__ADS_1
"Neta yang kuat ya, sabar semoga kamu bisa melewati ini semua," ucap Rika sambil kembali memeluk tubuh Arneta. Rika kini bisa merasakan kesedihan dan kegalauan hati Arneta saat ini.
Rika dan Arneta saling berpelukan erat, Rika mencoba memberikan kekuatan kepada Arneta lewat pelukan. Rika kini tak bisa berkata-kata lagi, Rika tidak bisa memberikan saran atau ide. Rika justru ikut masuk merasakan apa yang kini di rasakan oleh Arneta.
Setelah melihat Arneta sudah mulai tenang,, Rika melepaskan pelukannya.
"Neta apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Rika.
"Entahlah, aku masih belum tahu," jawab jujur Arneta.
"Kamu sudah punya rencana apa gitu?" sekali lagi Rika bertanya mencoba mencari tahu apa yang akan di lakukan oleh Arneta kedepannya.
"Otakku buntu, aku tak bisa berpikir, aku benar-benar masih binggung mau berbuat apa saat ini," jawab Arneta sambil menundukkan kepalanya lagi.
"Neta,... apakah kamu akan menerima perjodohan ini?" lagi dan lagi rika mengajukan pertanyaannya.
"Entahlah, mungkin iya, mungkin juga tidak," jawab Arneta dengan suara lemas.
"Semua tergantung kondisi kedepannya seperti apa," lanjut Arneta lagi menyambung kata-katanya.
"Ya seperti yang aku bilang tadi, semuanya tergantung pada keadaan. Tapi jika aku bisa memilih maka aku pasti menolak perjodohan ini, tapi jika keadaan tidak memungkinkan mau tidak mau, suka ataupun tidak saya pasti akan menerima perjodohan ini meskipun itu sulit buat ku," jawab Arneta.
Pandangan mata Arneta kini menatap arah depan entah apa yang dia pikirkan saat ini. Segala bentuk perasaan kini bersarang di hatinya, rasa sedih kecewa sakit dan binggung harus berbuat apa.
Keheningan kini menyambut Rika dan Arneta. Mereka berdua sama-sama terdiam tak ada kata-kata keluar dari mulut Arneta dan Rika, tapi tidak dengan isi kepala mereka berdua. Arneta sibuk berpikir mencari alasan yang tepat untuk menolak perjodohan tersebut, sedang Rika sibuk mencari ide yang bagus agar perjodohan sahabat nya ini tidak terlaksana.
Haaah....
Hembusan nafas panjang Arneta terlepaskan.
"Masih belum punya ide untuk menolak perjodohan ini?" tanya Rika.
__ADS_1
"Belum," jawab singkat Arneta.
Arneta dan Rika kembali terdiam, keheningan kembali tercipta. Arneta yang kini sudah merasa tenang melirik tangan kirinya Arneta melirik jam tangannya. Hari sudah semakin sore tapi Arneta belum ingin kembali pulang ke rumah. Arneta tidak ingin orang tuanya melihat keresahan dan kesedihannya.
"Rika toko uda beres semuanya?" tanya Arneta memecahkan keheningan.
"Sudah donk, kenapa? kamu mau pulang?" tanya Rika. Entah.
"Aku belum ingin pulang, kamu liat wajah ku masih kusut," jawab Arneta sedih.
"Terus kamu mau apa?" lagi Rika bertanya. " Eh kita jalan aja yuk, mumpung masih sore sekalian cuci mata liat yang segar-segar gitu dan cari makan bagaimana,mau ya?" ucap Rika dengan bersemangat.
"Ayo, tapi beneran tokonya uda beres?" ucap Arneta.
"Sudah, semuanya sudah beres," jawab Rika meyakinkan Arneta.
"Nanti toko siapa yang tutup, ini masih sore pelanggan juga masih ada," ujar Arneta.
"Itu nanti mereka yang akan menutup toko," ujar Rika sambil menujuk dua orang karyawan yang berkerja di toko milik mereka.
"Ya sudah kita cabut sekarang, jangan lupa pamitan dulu sama mereka," ujar Arneta.
Setelah berpamitan kepada kedua karyanya Arneta dan Rika langsung menuju tempat parkiran mobil mereka terparkir. Rika dan Arneta menaiki mobil milik Arneta, sedangkan mobil Rika sengaja ditinggalkan di toko. Arneta mengendarai mobilnya menuju ke tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Arneta dan Rika menuju sebuah mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari toko mereka.
Setelah sampai di mall yang mereka tujuh Rika dan Arneta segera mencari toko yang menjajakan es krim. Es krim adalah makanan favorit Arneta dikala hatinya sedang galau. Setelah mendapatkan es krim yang mereka inginkan Arneta dan Rika kembali berjalan menyusuri setiap lorong yang ada dalam mall tersebut.
Kalau puas berkeliling Arneta dan Rika menuju sebuah restoran Sunda yang ada dalam mall. Rika dan Arneta mencari tempat duduk yang berada di salah satu pojok dalam restoran tersebut Arneta dan Rika sengaja memilih tempat yang berada di pojok karena Rika ingin melanjutkan membicarakan tentang perjodohan Arneta.
Setelah duduk Arneta dan Rika segera melambaikan tangan untuk memanggil pelayan restoran tersebut setelah pelayan itu datang Rika dan Arneta memesan makanan mereka masing-masing.
Bersambung..
__ADS_1