
"Buka saja untuknya..." Suara itu terdengar datar saja, tetapi siapapun akan gemetar mendengarnya. Suara Perdana Menteri Liujun.
Nan Yuhuai tertegun, dia berbalik dan mendapati lelaki tua yang terlihat masih gagah dalam pias yang selalu tenang itu menatapnya lurus tanpa berkedip.
Lalu dengan lamgkah setenang telaga dia menatap tajam pada para pembawa kereta itu.
"Bagaimana mungkin kalian berlaku tak hormat padanya, dia adalah menantuku..." Lanjutnya, kalimat itu bernada sindiran yang tak nyaman untuk di dengar.
Beberapa orang yang menarik kereta-kereta kayu itu dengan pundaknya terlihat ketakutan, mereka menjatuhkan lutut mereka di atas tanah.
"Tuan Perdana menteri...ampuni kami..."
Perlakuan yang sungguh berlebihan mengingat Yang Liujun tua itu sebatas perdana menteri bukan raja, bahkan perlakuan itu jauh berbeda saat mereka menghadapi Nan Yuhuai, seorang pangeran agung yang sedarah langsung dengan raja mereka.
"Bukalah seberapa banyak peti yang ingin dia lihat. Bahkan jika dia ingin mengambil salah satunya biarkan saja." Ucapnya tanpa ekspresi.
"Bukankah kamu sangat penasaran dengan isinya, menantuku?"
Pertanyaan itu terdengar tajam dan Nan Yuhuai tak tahu kata apa yang bisa di katakannya.
Lelaki yang bertabrakan dengan Nan
__ADS_1
Yuhuai tadi tergopoh-gopoh membuka peti-peti yang ada di dalam kereta kayu nanmunya, mata Nan Yuhuai segera terbuka lebar , kilau permata memenuhi pandangan mata merekanya. Batu kumala biru, batu kumala putih, batu zhumu, batu jamrud hijau, batu hongbao, batu mata kucing, mutiara laut timur, semua bertumpuk memancarkan warna saling berpijar menyerang mata Nan Yuhuai dengan kecantikan yang tak terkatakan.
Di peti lain, kain sutra brokat, satin bersulam dari Suzhou, mantel bulu yang berharga dari utara, semua kain terbaik yang petnah dilihat Nan Yuhuai.
Di peti lain lagi tersusun rapih, barang-barang antik yang bernilai tinggi, porselen halus dengan lukisan naga dan burung hong, lukisan dari para ahli seni terbaik di barat dan timur dan lain-lain yang nyaris tak bisa Nan Yuhuai sebutkan namanya, segala jenis barang mewah yang bisa dibayangkan orang di belahan dunia timur ini, hampir seluruhnya terkumpul di depan mata.
Tak hanya benda-benda itu sebenarnya di kereta-kereta lain yang berbaris hingga memenuhi pekarangan Perdana Menteri Liujun, ada banyak barang-barang perhiasan semacam chai bertatah permata, tusuk konde bermata jamrud ungu, merah sinabar, kalung mutiara, pakaian istana dengan bahan terbaik, sepatu bertatah kumala, perhiasan.
Dan pengawal belakang tak puas membuka sebagian peti, semua tutup kayu itu di buka untuk Nan Yuhuai di mana batu koral utuh setinggi dua zhang lebih, sketsel dan kelambu yang bertahtakan mutiara laut timur yang bercahaya sendiri di malam hari.
Mulut Nan Yuhuai ternganga, seumur hidup tak pernah dia melihat barang-barang semewah ini. Ini adalah harta karun yang bernilai hampir satu provinsi.
"Di kereta yang lain juga terdapat barang yang sama, bahkan Nan Chen sekalipun tak pernah melihat yang seperti ini." Perdana menteri Liujun mendekat dan tersenyum lalu mengangkat sebuah piala dari emas murni yang di tempa dengan halus.
"Harta dan tahta adalah tangga bagi laki-laki berdiri di langit. Kamu bahkan bisa memerintah siapapun dengan kekayaan. Aku akan mendapatkannya lagi untukmu hanya dengan menjentikkan jemariku."
Pangeran Nan Yuhuai tanpa sadar terjajar ke belakang. Dia menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering
"Da...darimana harta sebanyak ini?" Tanya Nan Yuhuai dengan bibir yang basah seketika oleh liurnya sendiri.
"Tak perlu kamu tahu dari mana semua ini berasal, enyah aku menjarah, menambang atau merampok separuh dunia. Hanya saja ketahuilah, Jika kamu bisa memberikan seorang anak laki-laki untuk puteriku, aku akan membuatmu menari di atas gunung emas." Perdana Menteri Yang Liujun tersenyum puas melihat bagaimana mata Nan Yuhuai menjadi begitu silau.
__ADS_1
...***...
Sinar mentari lepas pagi hari baru saja beranjak naik menuju siang, cahayanya bersinar masuk dari ambang pintu aula istana Nan yang suram, sinarnya terasa hangat dan sedikit menyilaukan mata hingga berkunang-kunang.
Xue Xue terus berlari sementara Selir Huan berada di belakang berlari tak kalah cepatnya meski wajahnya merah padam hampir kehilangan nafas.
Para dayang dan pelayan berlarian mengikuti. Perjalanan menuju aula raja itu seolah begitu jauh, gaun istana benar-benar membuat lamgkah Xue Xue sedikit terhambat, dia sangat ingin berlari dengan sekencangnya dengan ilmu peringan tubuh yang di kuasainya tetapi dia menahan diri, ini istana yang hanya tahu dia adalah puteri Nan Luoxia bukan Xue Xue yang hidup bebas di luar istana.
"Tabib! Panggil tabib!" Dari arah pintu itu berlarian dayang dan pengawal, keadaan di sekelilingnya begitu kacau balau, ada orang yang berteriak ketakutan, ada yang menjerit, ada yang dengan panik berlari ke wisma obat Tabib Istana Niang.
Melihat itu sekarang, Xue Xue tak perduli, dia melesat seperti busur tepat di pekarangan bangunan besar itu.
Dari berbagai penjuru para pengawal menerjang ke depan, golok yang seputih salju berkilat-kilat, memancarkan sinar keperakan, melukis cahaya putih di lantai.
"Demi langit, apakah kita terlambat?" Kaki Selir Huan yang kecil ramping itu terlihat dari balik gaunnya yang terangkat tinggi, dia berlari sambil menahan tangis.
"Kakak!!!" Teriakan Nan Luoxia memecah ruangan di mana raja Niangxi, Yang Mulia Nan Chen berada.
Lelaki itu menghadap pintu, tegak dengan mata nyalang, searah cahaya di mana seseorang berdiri membelakangi dalam gaun kebesaran berwarna senerah kirmizi.
"Kakak Nan Chen?"
__ADS_1