
Pelayan yang membawa Zhao Juren itu membungkuk dalam-dalam lalu mundur sembari memberi isyarat untuknya keluar bersamanya.
"Keluarlah tapi tinggalkan dia."
Suara Puteri ini terdengar datar, wajahnya tanpa ekspresi. Nona Bai Yueyin terdiam, matanya bergantian menatap junjungannya itu dan kepada Zhao Juren yang menunduk dengan tegang menyembunyikan wajahnya.
Pelayan yang tadi mengajak Zhao Juren mengantarkan makanan itu mencuri pandang ke arah Zhao Juren deng pias bingung dan setengah ketkutan. Dia tidak tahu apa kesalahan apa yang membuat pelayan baru ini ditahan oleh puteri Nan Luoxia. Yang dia tahu selama ini Puteri Nan Luoxia tak pernah terlalu tertarik dengan siapaun apalagi mengurusi pelayan. Dia adalah puteri yang tak banyak bicara di dalam istana, dalam suatu waktu dia pulang ke istana ini tetapi kemudian akan menghilang berhari-hari. Bahkan kadang berpekan-pekan dia hanya membersihkan istana kosong ini tanpa pernah di tinggali oleh Puteri Nan Luoxia selama beberapa lama.
Puteri Nan luoxia adalah adik kandung satu ayah dan satu ibu dari Raja Nan Chen, dia sangat di sayangi oleh raja dan juga di manjakan oleh kakaknya yang lain, pangeran Nan Yuhuai, pangeran ke 2 adalah adik kandung Yang Mulia nan Chen dan juga kakak Nan Luoxia. Pangeran Nan Yuhuai sudah menikah dengan puteri perdana menteri, memiliki seorang putera. Pangeran kedua ini sedikit pendiam dan tak menyukai pesta berlebihan, satu-satunya pangeran yang hanya mempunyai satu istri di Niangxi. Adik-adiknya pangeran yang lain dari selir-selir raja terdahulu yang sudah menikah mempunyai istri lebih dari satu bahkan sudah memiliki beberapa gundik tetapi dia tetap hanya dengan satu istri meski rumor mengatakan, dia dan istrinya hanya terikat pernikahan karena perjodohan yang di paksakan oleh Yang Mulia raja sebelumnya dengan perdana menteri.
"Yang Mulia puteri..." Suara Bai Yueyin memecah senyap, dengan nada suara yang tidak senang, sekarang dia terlihat sangat waspada.
"Kamu juga pergilah Yueyin." Kalimat itu pendek, di ucapkannya tanpa mengalihkan pandangan dari Zhao Juren.
"Tapi..."
"Aku akan baik-baik saja." Sahutnya dengan suara tegas. Kalimat itu menyatakan tak ingin di bantah.
Sejenak Bai Yueyin ragu tetapi kemudian dia perlahan mundur dan ketika mencapai pintu dia berbalik dan menutup pintu.
Pintu besar dari kayu berat berukir itu di tutup tanpa decit dan bahkan tanpa suara. Meninggalkan dua orang yang berdiam diri dalam hening. Suara nafas Zhao Juren tertahan tak tahu harus memulai dari mana, dia hampir yakin Nan Luoxia alias Xue Xue ini mengenal dirinya.
"Kamu, siapa namamu?" Pertanyaan perempuan di depannya itu terdengar acuh tak acuh, nada suaranya seolah tak tahu apa-apa.
"A...aku?' Zhao Juren menjadi tergagap, dia tak menyangka pertanyaan itu di lontarkan padanya padahal dia bersiap-siap untuk membongkar jati dirinya, karena dia nyaris yakin seratus persen puteri ini adalah Xue Xue.
__ADS_1
"Siapa lagi? memangnya aku bertanya pada orang lain? bukankah hanya kita berdua yang ada di sini?" Nan Luoxia melangkah maju, senyumnya hambar, ternyata ketika Zhao Juren mengangkat wajahnya gadis ini sama sekali tidak ramah menatap dirinya.
"Nona..." Zhao Juren mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seolah tak sabar supaya perempuan ini mengenalinya.
"Jangan panggil aku nona, jika orang lain mendengar kamu memanggilku dengan tidak hormat seperti itu, aku tak menjamin kepalamu masih berada di lehermu saat kamu keluar dari gerbang istana Xue." Sergahnya dengan acuh tak acuh lalu perlahan duduk menghadap meja di mana makanannya di siapkan.
"Panggil aku Yang Mulia Puteri, dimana pun kamu melihatku. Dengan begitu kamu akan baik-baik saja." Lanjutnya, dingin.
Zhao Juren terpana, dia tak menyangka jika puteri Nan Luoxia ini berlagak seolah tak mengenalinya, padahal Zhao Juren tadinya sangat yakin bahwa Nan Luoxia adalah orang yang sama dengan perempuan bernama Xue Xue atau Xue Lian yang beberapa pekan yang lalu mengantarnya sampai pinggir sungai perbatasan Lijiang. Bahkan dari pertama kali melihat Nan Luoxiapun, terlebih matanya yang sebening berlian itu menurut Zhao Juren hanya satu-satunya di miliki orang di dunia ini dan juga suaranya, sama persis dengan ketika Xue Xue berbicara, hanya saja sekarang mungkin terdengar begitu formal dan penuh ritme, khas seorang perempuan bangsawan yang terhormat.
"Kenapa kamu bengong begitu, kamu sama sekali tak sopan sebagai pelayan karena belum menjawabku, bukankah aku bertanya siapa namamu?"
"Namaku Ju...Ju'er." Jawab Zhao Juren dengan salah tingkah sekarang dia mau tak mau menipiskan logatnya supaya sedikit feminim. Dia bingung kenapa Nan Luoxia bersikap tak mengenalinya, padahal mengingat kemampuan Xue Xue, perempuan itu tak akan mudah di kelabui, apalagi dia mengenal sekali bagaimana bentuk wajah dan tubuh Zhao Juren. Si Pengawalnya Bai Yueyin sekalipun dalam sekali lihat sudah menunjukkan kecurigaan padanya, apalagi orang dengan kemampuan setinggi Xue Xue.
"Ju'er?" Sesaat wajah Nan Luoxia seperti menahan senyum tetapi kemudian rautnya kembali datar.
"Shi Ming?"
"Kamu tak kenal Shi Ming? Bukankah dia pelayan yang tadi mengantar kalian masuk? Shi Ming adalah pelayan pribadiku yang bertanggungjawab mengurus dari urusan makanan sampai kebersihan istanaku."
"Oh..." Zhao Juren masih kebingungan mengatur sikapnya, fikirannya sedang tak menetap, dia malah sedang berfikir apakah Xue Xue dan nan Luoxia adalah orang yang berbeda? Jika mereka orang yang berbeda seharusnya mereka adalah saudara kembar identik karena kemiripannya bahkan suaranya. Tetapi setahu Zhao Juren Puteri Nan Luoxia tak punya saudara perempuan.
"Hei, kemarilah." Nan Luoxia melambaikan tangannya memberi isyarat Zhao Juren duduk di depannya. Dengan tergesa Zhao Juren mendekati meja itu dan duduk.
"Sejak kapan seorang pelayan duduknya seperti seorang tuan?" Nan Luoxia mengernyit dahi melihat kaki Zhao Juren seperti bersiap untuk makan juga.
__ADS_1
"Oh! Maafkan aku." Benak Zhao Juren segera mengingat bagaimana biasanya seorang pelayan bersikap saat melayani dirinya, lututnya kemudian di jadikannya tumpuan duduk, dia merasa malu sendiri karena harus duduk seperti seorang gadis pelayan.
Sesaat dia hanya terdiam, tak tahu apa lagi yang harus di lakukan sebelum kemudian Nan Luoxia memberi kode dengan kepalanya.
"A..apa?"
"Aku mau makan sekarang bukan mau beradu tatap denganmu." Ucap Nan Luoxia dengan suara yang terdengar jengkel.
"Aku...aku harus bagaimana?" Zhao Juren tak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya.
"Astaga, bagaiman bisa kamu lulus tes sebagai pelayan istana dengan sikapmu yang lelet seperti ini? besok sepertinya aku harus memanggil kasim Lee. Dia sekarang mungkin terlalu tua dan tak becus untuk mengurusi pelayan."
"Maaf...maafkan saya nona eh Tuan Puteri, saya hanya pelayan dapur kasar bukan pelayan kamar, saya tak tahu sama sekali dengan hal ini. Saya hanya diminta bantuan untuk mengantarkan makanan." Zhao Juren menjelaskan sambil berusaha mencuri pandang, dia berharap menemukan kebohongan di wajah Nan Luoxia bahwa dia tidak sedang berpura-pura tak mengenal dirinya.
"Banyak alasan." Sahut Nan Luoxia dengan pias gusar, memicingkan matanya kesal.
"Buka tutup mangkok dan semua piring itu." Perintahnya. Zhao Juren segera mengikuti instruksi Nan Luoxia, puteri ini mendadak galak di depannya.
"Sekarang...cobalah semuanya." Nan Luoxia meletakkan lengannya di atas meja, alisnya naik seakan mempersilahkan Zhao Juren mencicipi semua hidangan di depannya.
"Mencoba semuanya?"
"Hei, biasanya Yueyin yang mencicipinya sebelum aku memakannya. Bukankah kamu tahu, makanan anggota keluarga raja harus diperiksa lebih dulu. Sebagai adik raja, apakah kamu bisa menjamin bahwa tak ada orang yang tertarik untuk meracuniku?" Mata Nan Luoxia melotot lebar, tatapan itu mengingatkannya pada Xue Xue saat berada di pelukannya di tepi sungai ketika pertama kali dia membuka cadar Xue Xue.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏
...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...