
Angin malam terasa dingin berhembus di Kuil Zuihou, ketika tandu yang membawa rombongan raja dan permaisuri itu bertolak.
Rombongan istana itu di jaga dengan ketat oleh tiga lusin pengawal khusus raja yang di pimpin oleh pengawal Jian Jie dan pasukan penjaga dari istana Weiyan di pimpin seorang komandan keamanan khusus. Jumlah yang berada di dalam rombongan itu lebih dari seratus orang bersama beberapa pelayan dan dayang-dayang.
Upacara sembayang arwah itu telah selesai sebelum bulan berada di atas kepala. Yang Mulia Yan Yue sendiri yang memimpin upacara itu.
"Besok saat matahari di atas kepala, Pangeran Yan Juren putra Raja Tua Yan Houcun yang di kenal sebagai Jenderal Zhao Juren akan di makamkan. Yang Mulia Yan Yue sendiri yang akan mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Karena itu, pemakaman ini berlangsung secara tertutup. Yang menghadirinya hanyalah kerabat istana saja."
Demikian Kasim Chen mengumumkan perintah dari Yang Mulia Yan Yue.
Selama tiga bulan, kuil Zuihou itu di jaga ketat di bawah pengawasan Komandan Li Jin. Wakil dari Zhao Juren, tangan kanan orang kepercayaannya sekaligus sahabat terdekat Zhao Juren.
Sepeninggal rombongan istana, para rakyat yang mengikuti sembayang arwah itu juga berangsur membubarkan diri.
Kuil itu menjadi sesepi kuburan meskipun masih bersisa ratusan pengawal yang tampak menjaga ketat lingkungan kuil Zuihou.
Kuil Zuihou atau kuil peristirahatan terakhir itu adalah tempat pemakaman raja-raja. Letaknya berada di sebelah barat Istana Weiyan. Tempat yang agak terpisah dari bangunan-bangunan utama itu dipisahkan oleh hutan bambu buatan, tidak jauh dari tembok barat istana.
Di bawah langit malam kuil besar dengan tiga bangunan yang berjejer, bangunan utama di tengahnya adalah yang paling besar, di situlah aula utama tempat Peti batu atas nama Zhao Juren itu di semayamkan.
Kuil itu besar itu dipenuhi banyak ukiran naga di bagian luarnya. Beberapa patung terdapat di pekarangan kuil yang dipagari dengan tembok dari batu.
Tempat ini selalu terlihat sakral dan mencekam.
Zhao Juren termangu, .enatap dari kejauhan ketika tandu rombongan raja itu menjauh bersama puluhan lentera yang di pegang para dayang, dalam kegelapan seperti kampu yang berjalan dan berkelap kelip.
__ADS_1
Zhao Juren berkelebat menyusup menuju aula utama, ketika suasana menjadi senyap. Dia penasaran apa yang terbaring di dalam peti batu itu dan siapa yang menjaga peti itu.
Dalam ritual berkabung di Yanzhi selama jasad masih di semayamkan harus ada satu orang yang menjaga peti itu sebelum di bawa ke dalam ruang bawah tanah kuil Zuihou sebagai makam terakhirnya. Orang itu haruslah yang paling dekat dengan yang meninggal.
Zhao Juren menjejak lantai aula, dia mengambil jalan dari pintu belakang, mengelabui 4 orang penjaga yang berjaga di pintu belakang.
Di dalam aula terang benderang oleh lentera warna putih salju.
Sebuah peti dari batu pualam di letakkan di tengah ruangan persis di depan meja persembahan.
Pada aula utama itu hanyalah ruangan luas tanpa banyak ornamen kecuali beberapa meja tempat persembahan yang terletak guci-guci tempat dupa.
Pada dinding ruangan itu dipenuhi tirai-tirai tebal dan tipis yang tampak berkibar halus tertiup angin lewat celah-celah jendela yang tinggi.
Di depannya duduk bertumpu pada lutut seseorang yang mengenakan pakaian dari linen putih dari atas sampai bawah. Dia sedang memegang beberapa batang hio di depan dadanya sambil memejamkan mata. Dia adalah Li Jin yang terlihat khusuk mengucapkan do'a.
Saat kematianpun Li Jin setia di sampingnya, persahabatan itu bukankah melebihi rasa persaudaraan?
Li Jin membungkuk beberapa kali menghadap altar di depannya.
Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Zhao Juren melihatnya. Mata Li Jin terlihat cekung dan kurang tidur, pipinya sedikit bengkak.
"Tuanku..." Tiba-tiba Li Jin berucap, hampir membuat nafas Zhao Juren yang bersembunyi di balik tembok sambil mengintip dari celah tirai itu terhenti.
"Bukankah Tuan berjanji padaku akan kembali untuk menemuiku di kemah? bukankah tuan mengatakan tidak benar-benar akan pergi? Kenapa tuan menjadi ingkar? kebohongan pertama tuan padaku ini terlalu besar." Suara itu seperti keluh, Li Jin berbicara sendiri pada peti batu di depannya.
__ADS_1
"Selama ini aku menjagamu dan sekarang tuan membuatku menjadi aneh, karena hanya menjaga pakaianmu saja di dalam peti sialan ini. Aku bosan menjaga lilin-lilin ini sampai pagi. Dan berharap sebelum yang mulia menyembayangkan arwahmu, tuan kembali segera. Aku marah padamu, tuan! Aku benar-benar marah sekarang. Harusnya tuan memberitahu mereka tuan belum mati. Tuan hanya kelelahan saja dan menghilang sementara." Ocehan Li Jin terdengar begitu menghiba.
Dia beranjak, mengambil sebatang lilin besar dan menyalakannya di kepala peti.
"Apa hanya aku saja yang bisa tuan bodohi, hah?! Tuan Zhao Jurenku itu tidak semudah itu untuk mati, yang kutahu dia punya seribu nyawa. langit akan menolakmu jika mati sebelum aku! Masa seorang tuan lebih dulu mati dari pengawalnya? itu lucu sekali!" Li Jin terkekeh tetapi matanya berair. Dia sedang menangis!
"Tuan, besok mereka akan memakamkanmu. Memakamkan jubah perangmu ini saja. Aku tak percaya tuan sudah mati sebelum aku melihat sendiri sebesar apa luka robekan pedang menggaris kulitmu! Aku tak percaya tuan mati, sebelum aku mencucukkan jariku mengukur sedalam apa luka yang sanggup mengambil nyawamu itu. Aku sungguh tak percaya..." Suara Li Jin bertambah tinggi, dia seperti orang mabuk yang berbicara seorang diri.
"Shhh..." Zhao Juren mendesis bimbang, dia tak ingin mengejutkan Li Jin dengan kehadirannya tetapi jika dia tak keluar, tak sampai hati melihat keadaan Li Jin.
Li Jin tak mendengarnya, dia terus mengoceh sambil menggantikan beberapa lilin di sekeliling peti yang hampir habis.
"Li Jin..." Panggil Zhao Juren lirih setelah memastikan tak ada pengawal di ruangan itu selain Li Jin yang sedang menjaga petinya.
Li Jin tertegun, dia berbalik ke arah belakang. Dan saat dia melihat seseorang dengan jubah tertutup kain berkabung hitam dari atas sampai bawah itu berdiri di belakangnya, naluri prajuritnya segera keluar.
"Siapa kamu! Berani-beraninya memasuki kuil suci!" Li Jin melompat ke samping, dengan sikap siaga. Wajahnya merah antara marah dan terkejut.
"Li Jin, ini aku..." Zhao Juren berucap datar sambil membuka perlahan tudung kepalanya.
"Bukankah kamu yang memintaku kembali?" Sebaris senyum terpampang di bibir Zhao Juren.
Mata Zhao Juren membeliak sebesar kelereng, mulutnya terbuka lebar.
__ADS_1
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
...I LOVE YOU ALL❤️...