CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 78. Pulang Sekali Lagi


__ADS_3

Xue Xue tak menyahut, dia hendak mengucapkan sesuatu tetapi urung, saat menyadari ucapannya mungkin saja akan menyakiti persaan Zhao Juren. Dia tak bisa menceritakan bagaimana Zhao Li Sui di beritakan mati dengan tubuh tergantung di bawah pohon Wisteria, tepat di atas kuburan yang konon merupakan kuburan Jiu Fei, wanita yang dipisahkannya dari Zhao Juren sekaligus Raja Yanzhie belasan tahun yang lewat.


Ingatan Zhao Juren sekejap terbang pada istana kediaman bangsawan Zhao, dimana dia di besarkan sebagai putera dari kakak Zhao Li Sui. Dia sungguh telah lama mati sejak wanita yang melahirkannya membuangnya dan mengatakan pada dunia, dirinya telah mati. Dia sakit tetapi dia tak pernah merasa dendam pada hal itu, buktinya jiwa Zhao Juren begitu terluka mendengar kabar kematian sang ibunda.


Bayangan pintu rumah masa kecilnya sedikit demi sedikit ditutup, bahkan sinar rembulan di luarnya pun terhalang, sejengkal, sejari, segaris, dan akhirnya gelap. Dirinya berdiri di ambang pintu, jari-jarinya menahan daun pintu, orang di balik pintu untuk waktu yang sangat lama tak juga pergi, angin agak dingin, bertiup dengan suara berdesir, bayang-bayang pohon di balik pintu bergoyang-goyang, dengan garang melemparkan bayangan yang berayun-ayun di jendela.


Waktu di jam air sedikit demi sedikit berlalu, akhirnya, terdengar langkah kaki yang bergemerisik, amat perlahan,


namun sedikit demi sedikit menjauh, semakin lama semakin jauh. Bayangan anggun ibunya yang berwajah keras itu terasa semakin menjauh.Β  Angin di balik jendela sekonyong-konyong menjadi kencang, bahkan pintu tak dapat menahannya, bertiup ke dalam dengan dingin melalui sela-sela pintu, Zhao Juren seakan melihat dirinya di sana, menempelkan kepalanya di daun pintu, di tengah kegelapan, ia perlahan-lahan memejamkan matanya.


"Kamu harus pulang." Kalimat perlahan itu membuyarkan lamunan Zhao Juren, itu adalah suara Xue Xue.


"Aku akan ikut denganmu." Tambahnya lagi, lebih pelan , terdengar tegas dan tak ingin di tolak.


Hari kedua puluh lima bulan tujuh, angin kencang, daun daun berwarna kuning berguguran di atas tanah Yanzhie.Β  Cuaca yang panas itu mendadak terasa dingin menusuk sampai ke tulang,Β  menyelimuti bagian luar dan dalam istana bawah tanah keluarga Zhao.


Musim gugur nyaris berada di penghujungnya, Zhao Juren telah menempuh perjalan tiga hari empat malam untuk bisa berada di kota Yubei ini. jarak yang harus di tempuh lima hari jika dia bertolak dari kota raja Nanxing itu bisa di perpendeknya hanya dalam waktu itu, setelah mendengar berita kematian sang ibunda. Bahkan, dia pergi pada sore itu saat Xue Xue pulang mempersiapkan diri untuk ikut dengannya.


"Tidak, bukan aku tak ingin dia ikut bersamaku, tetapi aku tak ingin dia menunda perjalananku karena kehadirannya. Aku ingin pulang lebih cepat dan memegang jasad ibuku, aku ingin melihat ibuku sebelum di bawa ke kepuburan agung para raja di kuil Zouhui. Meski itu hanya ku lihat dari jauh." Itulah alasan Zhao Juren meninggalkan Xue Xue supaya tidak berangkat bersamanya.

__ADS_1


Dia datang langsung ke istana kediamannya, dan menemukan Li Jin seorang diri di sana, saat dia berharap mendapati jasad sang ibunda berada di istana Weiyan dalam persemayaman masa berkabung seorang ratu yang meninggal -pada umumnya tetapi yang di dapatinya, tak ada seorangpun yang terlihat bersedih dengan kematian sseseorang yang pernah menjabat sebagai ibu suri kerajaan yanzhie hampir belasan tahun itu.


Tak ada tiga bulan berkabung untuk para rakyat seperti tradisi Yanzhie, tak ada airmata seperti kehilangan sosok orang yang berjasa pada negara, apapun yang pernah di lakukan oleh Zhao Li Sui seolah tak ada artinya setelah dia berkhianat pada Negara itu.


Dulu, Ibu Suri Li Sui adalah sosok yang di segani bahkan para gubernur dan kepala klan lebih dalam menunduk pada ibu suri dari pada kepada rajanya sendiri. Dan hari ini saat dia menemukan istana tak pernah menerima jasad sang ibu, dia merasa hatinya terluka begitu dalamnya. Meski bagaimanapun, Zhao Li sui adalah ibunya, pertalian darah meski sebesar apapun jaraknya tak akan bisa memisahkan perasaan seorang anak pada ibunya.


"Aku sudah menunggumu dalam beberapa hari ini, tuan muda. Aku tahu tuan akan segera tiba entah cepat atau lambat." Li Jin duduk di atas selasar tingkat dua istananya di tepi sungai. Dia menghadap sebuah lilin dan dupa perkabungan dengan pakain putih, layaknya seorang anak yang sedang berkabung untuk ibunya meski tak ada jasad orang di depannya kecuali seperangkat pakaian kebesaran ibu Suri yang pernah di pakai ibu Suri Li Sui selama dia memerintah dalam jabatan ibu suri.


Zhao Juren yang di balut pakaian hitamnya menatap nanar pada tumpukan baju yang dilipat rapih itu bahkan dengan mahkota kebesaran ibu suripun berada di sana.


Dengan buru-buru Li Jin berdiri dan membungkuk pada Zhao Juren.


"Di manakah jasad ibu?" Tanya Zhao Juren pada Li Jin yang tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.


Zhao Juren terdiam, matanya terasa panas tetapi dia tak ingin menangis. Tak pernah dalam sejarah seorang mantan ibu suri sekalipun di makamkan seperti orang biasa kebanyakan, tak ada perkabungan massal, tak ada penghormatan kerajaan. Ibu Suri, sejahat-jahatnya adalah istri resmi raja terdahulu, bukankan dia juga berhak mendapatkan penguburan yang penuh hormat?


"Tuan..." Li Jin mengangsurkan sebuah kertas kepada Zhao Juren, terlipat rapi, sebuah surat.


"Apa ini?" Dahi Zhao Juren berkerut.

__ADS_1


"Surat dari Yang Mulia permaisuri." Jawab Li Jin pendek.


Zhao Juren menerimanya, tanpa bertanya lagi dia membuka surat itu,


Pangeran Yan Juren,


Jangan memebenci kakakmu Yan Yue untuk kematianmu, Yang Mulia sangat menghormati ibu Suri meskip apapun yang telah terjadi di belakang. dan maafkan aku tak bisa mengabarkan dengan benar kematian ibumu, tapi akau tahu surat ini akan sampai padamu tepat waktu. Pemakaman ibu Suri Zhao Li Sui di serahkan istana kepada keluarga Zhao, setelah di semayamnkan selama sepekan di kuil Sunyen. Jangan kuatir, beliau telah di doa'akan dengan baik dan layak. Istana tak bisa membuat penghormatan seperti seharusnya, semoga saja kamu bis memakluminya. Aku percaya kamu pasti pulang untuk memberi penghormatan terakhir padanya. Istana Zhao bukan tempat yang menjadi perhatian jika kamu ingin kembali. Kamu bisa terus menyambangi makamnya dengan bebas jika itu tidak di lingkungan istana. Berdoalah padanya, kesalahan orangtua mungkin di tanggung anaknya tetapi doa anaknya akan membawa ketenangan pada orangtuanya meski berada di alam berbeda. Semoga kamu mengerti, Jasad tak perlu gelar dan kehormatan tetapi akan berarti jika menerima cinta dan penghormatan dari keluarganya. Sekali lagi Jangan simpan dendam pada Yang Mulia, dia telah berusaha menjalankan tugasnya.


dariku,


Zhao Juren melipat surat itu kembali dengan tangan gemetar, dia tak pernah merasa seharu biru ini, betapa dia hampir salah paham pada Yang Mulia Yan Yue, dan sekarang dia mengerti, Xiao Yi punya pemikiran sendiri. Suatu keputusan yang bijak tersirat karena mungkin saja saat dia berusaha kembali, dia tak akan bisa masuk ke dalam istana.


"Aku akan membawa tuan muda ke makam keluarga Zhao sekarang. Tuan muda bisa melihat wajah ibu suri untuk terakhir kalinya." Li Jin membungkuk sekali lagi.


"Aku sudah menempatkan orang-orang kepercayaanku untuk menjaga makam bawah tanah Zhao, karena aku tahu tuan akan tiba sebelum ibu suri di makamkan."


Dan sekarang, Zhao Juren sudah berada dalam makam bawah tanah yang senyap ini, di dalamnya sudah


digantungi lentera putih salju,, tirai tebal berterbangan, kain tipis putih mengundang untuk digulung, dengan ringan menyapu debu di tanah. Menatap nanar sebuah peti batu yang terbuka di sebuah ruangan tengah ruang bawah tanah itu, beberapa pengawal yang berjaga di sana sudah di keluarkan oleh Li Jin, sehingga Zhao Juren tak perlu menyembunyikan wajahnya di dalam tudung hitamnya.

__ADS_1



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’œ.


__ADS_2