CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 73. Cinta Itu...?


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


Ketukan di pintu kamar Xue Xue segera membuat dua insan ini menyadari


diri, wajah keduanya memerah dalam sekejap.


"Tuan puteri, sekarang sudah tsangat larut, bolehkah aku masuk?" Itu suara Bai Yueyin.


Xue Xue dengan cepat mendorong tubuh Zhao Juren supaya turun dari tempat tidur, dia sendiri melompat dengan gugup.


"Ya, masuklah." Sahutnya sambil merapikan rambut dan gaunnya yang sedikit berantakan, hal serupa di lakukan oleh Zhao Juren yang segera kembali menyadari jika dia dalam pakaian seorang wanita.


Bai Yueyin masuk dengan tatapan yang penuh curiga pada Zhao Juren. Matanya yang tajam setajam elang tersu mengekori sosok yang berdiri tegang tak jauh dari Xue Xue.


"Tuan puteri, sebaiknya anda istirahat, seorang pengawal tadi menyampaikan pesan Yang Mulia Nan Chen, besok anda di minta untuk mengurus kematian seorang selir yang meninggal tadi dalam keadaan hamil. Yang Mulia hanya ingin secara khusus anda menanganinya tanpa sepengetahuan orang-orang harem." Kalimat itu di ucapkan Bai Yueyin dengan sedikit bimbang mengingat keberadaan orang lain sekarang yang berada di atara mereka.


Xue Xue mengerutkan keningnya.


"Siapa yang meninggal? istri Yang Mulia yang mana?"


"Nyonya Siaw."


"Oh." Xue Xue menganggukkan kepalanya.


"Tuan Zhao..." tiba-tiba Bai Yueyin berbalik kepada Zhao Juren.


"Sebaiknya anda pergi sekarang ke aula pelayan, aku telah meminta sebuah kamar untukmu dan temanmu itu di belakang dapur istana pada Dayang Mei. Di luar ada anak buahku yang akan mengantarkanmu, ku harap anda tak perlu berulah. Besok pagi pastikan saja anda keluar dari istana ini. Saya sama sekali tak ingin membuat Tuan puteri saya kesulitan gara-gara anda. Jika anda adalah orang biasa tak akan saya mencemaskan majikan saya dengan begitu besar. Status anda jelas bisa membuat kegaduhan yang besar jika di ketahui bersama dengan majikan saya."ย  Ucap Bai Yueyin dengan tegas, dia jelas tak merasa perlu meminta ijin pada Xue Xue untuk mengatakan hal ini yang serupa perintah.


"Yueyin..." Xue Xue sendiri terlihat tak berdaya pada pengawal pribadi sekaligus orang yang di anggapnya kakak ini.

__ADS_1


"Tuan Puteri, sudah cukup bermain-mainnya. Ini adalah istana, aku takut ini sudah terlalu jauh. Resikonya sangat besar jika sampai ketahuan. Istana ini bahkan dindingnya pun memiliki mata." Bai Yueyin membungkuk pada Xue Xue yang diam seribu bahasa.


"Mari Tuan, aku mengantarmu keluar."


Dan Xue Xue tak berusaha menahannya, kecuali membiarkan Zhao Juren segera keluar.


"Aku akan menunggu kabarmu di penginapan kota." Ucap Zhao Juren sebelum mengikuti langkah Bai Yueyin keluar.


***


Semalaman ini Xue Xueย  tidur dengan sangat nyenyak, seakan berendam di air yang sangat hangat. Dalam angan-angannya ia seakan kembali ke barak pasukan yang hangat, lalu ketempat yang sangat di sukainya, istana Tianshi,ย  berdiri di antara pepohonan persik yang mengelilingi istana itu, menikmati keharumannya yang begitu khas. Sepeninggal Zhao Juren malam tadi, dia tak langsung tidur tetapi bergelut dengan khahayalannya sendiri. Luar biasa anehnya perasaan yang kini sedang menggelayut padanya. Zhao Juren, kekasih lama kakak Jiu Fei itu, akhirnya dia telah bertemu dan sekarang dia tak memungkiri pesona laki-laki itu, yang bahkan sanggup membuat Jiu Fei mengkhiati satu negara dan kehilangan keluarganya.


Seseorang menjulurkan tangannya yang sedingin es, menepuk-nepuk wajahnya dengan


lembut, begitu memaksa untuknya bangun dari tempat tidur, Xue Xue malah semakin memejamkan matanya dan meringkuk lebih kuat di balik selimutnya.


"Tuan Zhao, kenapa kamu begitu menggangguku." gumamnya di sela kantuk.


Seketika itu juga, ia hampir merasa matanya berkunang-kunang, otaknya tak terlalu terang, ia menatapnya tanpa berkedip, dengan perlahan mengerutkan keningnya, wajahnya amat serius.


"Sebaiknya kamu bergegas bangun, permaisuri Fangyin ingin bertemu, dia sekarang sedang ada di luar." Lanjut Bai Yueyin sambil menarik selimut Xue Xue. Dia biasa melakukannya sejak gadis ini remaja, Nan Chen menunjuknya menjadi pengawal sang adik.


"Kakak Fangyin?" Xue Xue menggaruk kepalanya yang tidak gatal. wajahnya terlihat kesal karena mimpinya terputus gara-gara istri kakaknya itu pagi-pagi sudah ingin menemuinya.


"Aku heran, jika aku kembali ke istana ini, banyak sekali masalah yang terjadi, semuanya begitu mengganggu karena itulah aku sangat menyukai Istana Tianshi. Di sana lebih tenang dari semua tempat di Nanxing ini." Xue Xue berucap sambil menurunkan kakinya ke bawah tempat tidur hendak menuju baskom yang sudah di siapkan oleh pelayan untuk mencuci mukanya. Ketika bersamaan dengan itu seseuatu jatuh ke lantai, berwarna keemasan.


"Apa ini?" Xue Xue memungut sebuah seruling yang tak seberapa panjang mengkilat cantik dalam warna keemasan.


"Itu sepertinya sebuah Xiao." Bai Yueyin mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Xiao? Apa itu Xiao?"


"Xiao adalah seruling khas dari daerah Yanzhie..."


Jawaban Bai Yueyin membuat Xue Xue terdiam, dia yakin ini adalah barang milik Zhao Juren yang tercecer.


"Tuan puteri, Yang Mulia permaisuri Lin Fangyin menunggumu." Tegur Bai Yueyin.


"Aku tahu..." Jawab Xue Xue sambil meletakkan Xiao itu ke dalam laci meja bacanya.


"Yueyin..." Xue Xue mulai mencuci wajahnya, pelayan yang duduk berlutut di sebelahnya tampak setia memegang beberapa kain yang terlipat rapih di nampan, menunggu Xue Xue selesai mencuci muka.


Untuk beberapa puteri, pelayanlah yang mencuci wajahnya dan membersihkan mukanya bahkan memandikannnya tetapi untuk Xue Xue, dia terbiasa melakukan sendiri meskipun doa adalah puteri nomor satu di Niangxi setelah Yang Mulia Nan Chen dan pangeran Nan Yuhuai.


"Ya..."Yueyin yang berdiri tak jauh dari sana mengernyitkan dahinya.


"Apakah...apakah kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Xue Xue dengan suara gamang.


Wajah Bai Yueyin memerah dia membuang tatapannya sesaat dengan jengah, pertanyaan itu membuat dadanya bergemuruh sesaat.


"Kenapa tuan puteri bertanya hal seperti itu?" Bai Yueyin balik bertanya.


"kakak Jiu pernah berkata...cinta itu ketika kita memejam mata dan merasakan orang itu ada di kepala kita. Cinta itu adalah keinginan untuk tetap berada pada tempat yang sama bersama orang yang kita sukai...cinta itu...membuat kita berani dari lebih dari yang kita duga. Cinta itu..." Xue Xue terdiam sesaat tak melanjutkan kalimatnya dengan kebingungan sendiri menerjemahkan perasaannya.


"Cinta itu...kadang tak sesuai harapan, dia bisa menjadi racun mematikan jika kamu membiarkannya merasukimu terlalu dalam..." Kalimat itu terdengar lirih, di ucapkan oleh Yueyin dengan wajahnya yang datar dan sedingin es di utara.


๏ฟผ


...Bai Yueyin...

__ADS_1


Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ’œ.


__ADS_2