
Pemandangan di sudut-sudut jalan Kotaraja Niangxi masih seperti dahulu, angin sejuk dari permukaan danau berkesiur lembut, membawa keharuman segar bunga lotus bertiup dengan dari utara.
Pohon-pohon liu di kedua sisi jalan berayun-ayun seiring tiupan angin, ranting-rantingnya berputar-putar, bagai pinggang lincah seorang gadis penari. Begitu tenang namun muram.
Di bawah cahaya mentari sore yang terbenam, senja memancar warna oranye, burung-burung yang kelelahan kembali ke pohon, sungai merona dipenuhi bayang-bayang merah, amat luas seakan diwarnai dengan darah.
Jauh di tengah Danau lima warna, istana bidadari itu terlihat sepi tapi ada sesuatu di sana yang tak ada orang tahu. Senja menyembunyikannya bahkan dari tatapan langit yang bersedih.
Niangxi mengadakan perkabungan nasional kepada semua penduduknya, tak terkecuali meakipun situasi sedang genting di negara itu. Semua orang mengenakan pakaian kasar berwarna putih, bahkan lentera yang tergantung pun ditutupi kain putih, ketika berjalan di jalan, dimana-mana terasa rasa duka yang penuh keputusasaan.
Raja mereka meninggal di tikam sang ratunya sendiri, berita itu sepertinya membakar udara, membuat panas tiada terkira.
Dari sudut ke sudut hanya cerita itu yang terdengar, bahkan agresi yang yang dilancarkan oleh pihak Yanzhie seakan perlahan terhenti.
Tak etis memang jika peperangan tetap berlangsung, di atas duka negara musuhnya.
"Sungguh sial nasib raja Chen muda. Seharusnya seorang raja meninggak di arena perang atau di atas tempat tidurnya karena di mamah usia bukannya mati sia-sia di ujung belati istrinya sendiri." Gunjingan itu ada di setiap sudut kota berkabung itu, iba dan sesal seakan membuat raja Chen menjadi begitu lemah di depan semua rakyatnya.
Hari sedikit demi sedikit menjadi gelap, malam turun perlahan, bulan amat bulat, terbit dari pucuk-pucuk pohon yang menjari rantingnya dengan berkilauan tergantung di cakrawala nun jauh di sana.
Di sebuah kamp, perbatasan Yanshan Yang Mulia Yan Yue berdiri dengan gelisah menatap langit yang muram.
"Seharusnya Nan Chen mati di tanganku, dia telah mengambil nyawa adikku, Juren. Kenapa langit malah mengambil hak itu dariku." Yang Mulia Yan Yue berucap lirih, dia mendonggak ke arah langit yang sepi.
__ADS_1
Komandan Jian Jie baru saja tiba, dia telah menarik mundur pasukannya hingga perbatasan dari provinsi terdekat atas perintah Yang Mulia Yan Yue tetapi Qian Ren tetap bertahan di luar kota.
Suasana berkabung itu membuat segala sesuatunya berhenti mendadak begitu saja padahal sebentar lagi mungkin saja mereka telah menguasai dua provinsi paling utara dari Negara Niang itu.
"Perang ini akan ku lanjutkan setelah perkabungan ini berakhir. Aku akan merebut kota yang telah membunuh Juren itu. Aku membalaskan setiap darah yang tertumpah, bahkan untuk Jiu Jiu..." Yang Mulia Yan Yue bertekad, ingatannya sekelebat lewat pada Jiu Fei, perempuan itu adalah satu-satunya penghubung antara dirinya dan Niang. Mati di negeri Orang dengan jasad terkubur di bawah pohon Wisteria, tak ada yang menginginkannya. Niang telah membuang perempuan itu karena pengkhianatannya tetapi bagi Yan Yue, cinta pertamanya itu telah memberikan kesetiaannya sampai ke belulang-belulangnya. Bukankah dengan merampas negara Niang dia bisa membuat Jiu Fei tenang dan dendam Juren terbalaskan?
"Yang Mulia, ada rombongan dari istana Gubernur bari saja tiba, mengantarkan logistik..." Jian Jie menunduk sesaat. Kalimat itu terhenti.
Yang Mulia tak bergeming, soal pengiriman logiatik itu sudah biasa dan dia tak pernah ambil pusong dengan itu. Menurutnya berita itu tak penting sama sekali untuk di bahas.
"Sekaligus...." Jian Jie terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya.
Alis Yang Mulia Yan Yue naik di sela lirikannya.
"Sekaligus?"
"Siapa?" Tanya Yang Mulia Yan Yue, sekarang Jian Jie menerima perhatian raja itu sepenuhnya.
"Aku akan menyuruhnya kemari jika Yang Mulia berkenan..." Jian Jie sekonyong membungkuk, dan tak segera tegak seakan menunggu jawaban Yang Mulia Yan Yue.
"Apakah ini penting?" Tanya Yang Mulia.
"Nyonya Su Nuo mengatakan demikian." Jawab Jian Jie tanpa mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Nama Su Nuo membuat Yang Mulia sedikit tertegun, itu adalah selir pertama yang masuk ke istana Weiyan, bagaimana mungkin dia tidak ingat?
Seorang gadis muda umur lima atau enam belas dengan gaun merah merona, pipinya nyaris semerah bajunya. Dia bertemu di malam pertamanya pada usia 18 tahun. Tepat setelah Jiu Fei di kirim ke kuil untuk menjadi bikshuni.
"Yang Mulia, aku siap melayanimu." Ucapnya tenang dengan kerudung yang menutup wajahnya, suaranya di buat sedewasa mungkin padahal Yan Yue muda tahu benar dia bahkan tak mengerti arti melayani sama sekali.
Dan Yang Mulia Yan Yue meninggalkannya dengan sumpah serapah dan kemabukan, dia membenci perempuan yang datang tanpa di undangnya itu, senentara perempuan yang sangat di inginkannya telah meninggalkannya begitu saja dalam patah hati tanpa secuilpun kata.
Su Nuo, selir pertama yang ketakutan menangis di sudut kamarnya ketika Yang Mulia Yan Yue merobek bajunya dan menyuruhnya menunjukkan cara melayani yang di maksudnya itu.
Tangis ketakutan gadis muda itu masih di ingat Yang Mulia Yan Yue hingga sekarang. Dan dia sadar, perbuatan jahat Su Nuo ketika mencelakai Selir Chie Yuan itu adalah rasa sakit yang mengendap dari semua perlakuannya.
"Su Nuo?" Yang Mulia Yan Yue menatap tajam pada Jian Jie, terlihat tak suka.
"Kenapa Gubernur Su mengirimkan puterinya kemari? Dia tahu benar aku telah menceraikannya beberapa tahun yang lalu." Suara Yang Mulia Yan Yue sedikit kesal.
Jian Jie tak menjawab, dia tahu Yang Mulia bahkan bisa lebih marah jika tahu siapa yang sebenarnya menyusul raja itu ke kampnya ini.
"Nyonya Su Nuo membawa pesan dari Yang Mulia Permaisuri Agung."
Kalimat yang dilontarkan Jian Jie serta merta membuat Yang Mulia terkejut. Puluhan hari dia telah meninggalkan istana dan sekarang sedang berada di bibir kota Yitchen, entah berapa lama dia menahan rindu pada sang istri tetapi tekadnya begitu kuat untuk merebut negara Niang hingga dia bahkan berusaha membunuh rindu itu dalam mimpi.
"Ada apa dengan Xiao Yi? Apakah permaisuriku sakit atau..." Tanyanya dengan suara sedikit keras.
__ADS_1
"Yang Mulia Permaisuri baik-baik saja, Yang Mulia raja tak usah kuatir..." Sebuah suara lembut itu terdengar dari belakang punggung Yang Mulia Yan Yue, membuatnya sontak berbalik.
(Maafkan Author yang Hiatus begitu lama untuk novel ini, doaka novel ini segera author tamatkan yaaaaa π π π luv u all buat yang setia menunggu, maafkan author yaaaaaa)