CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 69. Sepenggal Ingatan Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Agh...lagi...Huan'er...lakukan lagi. Tekan di situ. Akh, ini enak sekali. Kamu benar-benar ahli melakukannya..." Suara Yang Mulia menggaung, aula besar itu amat besar,ย  entah dari mana, angin bertiup masuk, melayang-layang dengan ringan, membawa suara itu sampai belakang pintu, suara erangan yang samar-samar. Sinar mata selir Huan tenang, walaupun sedang memandang punggung orang yang berbeda dan ia tak pernah benar-benar mengangkat kepalanya, ia masih dapat membayangkan raut wajah orang itu.


Yuhuai, benar, seharusnya seperti ini, mata yang panjang dan sipit, pandangan mata yang tajam, batang hidung yang mancung, sepasang bibir yang amat tipis, bahkan warna bibirnya pun amat pucat, selalu tertarik ke dalam seperti ini, seakan tak memandang siapa pun.


Huan masih ingat saat dia tiba di puncak Beiyu, pemuda inilah yang menatapnya dengan tak henti. Sejak pertama Huan melihatnya, dia langsung menyukainya.


Dia jarang tersenyum hanya sorot matanya yang kelam memandang Huan kecil menjelang remaja itu dengan tatapan yang dalam menembus rumput kuning di padang rumput Beiyu.


Selir Huanย  berdiri di sana di remahan ingatannya menembus gunung dan lautan, kembali ke saat yang sudah berlalu itu, Pemuda itu, ia tetap tenang, matanya pun merah, tersenyum sesekali dan bersikap tenang.


Sejak saat itu, malamnya adalah ajang bermimpi, saat itu dirinya masih begitu kecil dan Yuhuai beberapa tahun di atasnya


Dia tak pernah menyangka pemuda tanggung yang sederhana dan di lihatnya begitu pendiam itu ternyata seorang pangeran yang di titipkan di sana. Jika dia tahu, dia bersumpah tak akan pernah menyimpan hati pada laki-laki bernama Yuhuai itu, yang ternyata seorang adik dari raja yang membuat petisi memusnahkan seluruh keluarga besarnya.


Hari itu, beberapa tahun yang lewat, sebuah kereta kerajaan menjemputnya pada saat bersamaan dengan hari tersiarnya kabar, permaisuri raja meninggal dunia. Pada hari itu pula, Huan menangis keras, meratapi nasibnya, kenapa langit selalu memusuhinya dengan takdir yang buruk.


"Aghhhh...Huan'er kamu ternyata ahli dalam hal ini...lakukan lagi..."


Tangan kanan Selir Huan menekan memijat semakin kuat, sementara tangannya yang lain menyusup ke balik rambutnya, dia meraba sebuah tusuk rambut dari kuningan, ujungnya tajam dan runcing. Bahkan kadang kala kulit kepalanya terluka karena dia selalu menyusupkannya ke balik rambutnya saat masuk ke dalam kamar Yang Mulia Nan.


Jemarinya gemetar ingin melakukannya, menusuk puncak kepala laki-laki yang kini terpejam menikmati pijatannya, tetapi anehnya dia tak bisa melakukannya seperti apa yang telah di rencanakannya bertahun-tahun terakhir.


Tangan kanannya terus memijat dahi sang kaisar, memijat lehernya, memijat bahunya, memijat punggungnya, seakan memijat seumur hidupnya yang terlunta-lunta.


Ia memandanginya puncak kepala sang raja, memandangi saudara dari lelaki yang dikejar olehnya selama separuh hidupnya di puncak gunung Beiyu, dicintainya dan kini dengan sadar dia bahwa dirinya dipermainkan oleh pangeran itu, dia hanya bertepuk sebelah tangan selama separuh hidupnya.


Jantungnya melonjak-lonjak dengan hebat, seakan hendak melompat keluar dari mulutnya, beginilah, apa boleh buat, bukankah seperti ini adalah yang terbaik? Dirinya telah menahan derita begitu lama, berjuang, menerima penghinaan, mengalami berbagai kesengsaraan, menanggung siksaan, semua penantian itu, bukankah demi saat ini? Berada di dalam kamar raja jahat ini?

__ADS_1


Waktu sudah dekat dia akan bertaruh nyawanya untuk membalas dendam semua leluhurnya yang mati di gantung dengan tidak hormat seperti para pengkhianat jahat.


Pada saat yang sama di balik pintu, seorang laki-laki dengan mantel warna biru gelap berdiri seperti arca, telinganya merinding menangkap suara erangan dari dalam dan suara kakaknya itu seperti seorang yang sedang begitu puas.


Nan Yuhuai, mengepalkan tangannya, matanya tak berkedip seolah sedang ingin mengumpulkan suara-suara itu ke dalam kepalanya.


Kasim pribadi Yang Mulia Nan membungkuk sekali lagi dan bersuara dengan suara yang hati-hati,


"Apakah...apakah Tuan Pangeran tetap ingin menemui Yang Mulia Nan di saat ini?" Tanyanya dengan gemetar. Dia sangat berharap Pangeran Nan Yuhuai mengurungkan niat untuk mengganggu kesenangan Yang Mulia Nan dengan selir barunya itu. Dia takut menjadi sasaran kemurkaan Yang Mulia jika membuat raja itu terganggu.


Cahaya di depan aula itu temaram, tak dinyana mengandung warna merah yang aneh, lilin kuning terang


menyala dengan tenang, memancarkan sinar yang amat lembut ke punggung Nan Yuhuai yang kaku.


Di tengah cahaya yang temaram seakan dapat merobek kain mantel hitam itu dan terbang pergi dengan cepat, ia mengerutkan dahinya, telinganya hanya dapat mendengar suara guruh yang bergulung-gulung di cakrawala, begitu jauh, namun begitu dekat. Suara Yang Mulia yang puas itu mengalahkan suara apapun yang singgah di telinganya, membayangkan wajah Huan yang tersenyum seperti bidadari itu membuat hatinya hancur.


Nan Yuhuai berbalik dan melangkah ke luar aula, ia pun tak memerlukan penunjuk jalan lagi karena sangat tahu dengan semua jalan di istana ini.


Kasim pribadi Yang Mulia Nan Chen membungkuk dengan lega, dia merasa beban di pundaknya menguap begitu saja.


Dia menatap senang pada kepergian Pangeran Yuhuai yang mendadak datang tepat setelah seorang pelayan dari istana Harem menyampaikan berita duka kematian nyonya Siaw.


Seorang kasim kecil yang membawa payung mengejarnya Pamgeran Nan Yuhuai, begitu pangeran muda itu melangkah keluar dari selasar aula raja.


Dia segera mengikuti dan menjajari langkah gontai tuannya itu


yang dengan perlahan berjalan di Lorong yang panjang, kabut

__ADS_1


malam memenuhi udara, hujan menerpa pundaknya, bagai bayangan setan kesepian.


"Tuan pangeran, kita kemana?" Dia bingung saat menyadari mereka tak menuju arah aula Yangguang, kediaman pribadi Yang Mulia Nan Yuhuai.


Alis Pangeran Yuhuai terangkat, lalu


ia berucap perlahan.


"Kita menuju istana Harem."


Kasim yang masih berusia belasan tahun itu menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Kita akan mengunjungi siapa malam-malam begini?" Tanya Kasim itu dengan sikap penasaran, dia memang masih belia polos dan menyenangkan karena itu Yuhuai memilihnya untuk mengganti kasimnya yang telah cukup tua.


"Kita akan menemui adikku Xue Lian." Jawabnya pendek. Dan kasim kecil itu tak lagi bertanya pada Tuannya.


Api lentera di sepanjang lorong menuju istana Harem bergoyang-goyang, memadamkan dirinya sendiri, sebagian di matikan oleh angin. Setiap beberapa meter ada pengawal yang berjaga, mereka


membungkuk setiap Pangeran Yuhuai melewatinya.


Malam kelam itu, begitu


panjang. Suara burung malam memecah kesunyian.



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2