CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 83.TAK PERNAH SAMA


__ADS_3

"Lian Ju! Panggil aku Lian Ju." Alis Zhao Juren yang legam itu terangkat tinggi. Dan tanpa aba-aba bibir cokelat mudanya yang sedikit basah itu mendekat, sangat dekat kepada bibir Xue Xue yang setengah terbuka, kehilangan kata-kata.


Xue Xue mengerjapkan matanya, dia tak bergeming saat Zhao Juren mendaratkan sebuah ciuman yang maha lembut, begitu hati-hati dan tanpa permisi.


Hening, sepi, hanya suara angin yang berkesiur dingin merasuk kulit mereka menyusup melewati jubah mereka.


"Maafkan aku." Zhao Juren menarik wajahnya yang bersemu saat menyadari gadis yang diciuminya itu tak bereaksi apapun.


"Kenapa...minta maaf?" Suara Xue Xue terdengar bergetar, memecah kesunyian. Zhao Juren tertegun, tangannya mengambang di usdara sementara tatapannya membeku.


"Aku minta maaf karena telah begitu lancang..."


"Tidak perlu minta maaf." Xue Xue menyahut cepat, wajahnya semerah meihua. Terlihat dia tak keberatan dengan apa yang telah terjadi dan kini dia sedang menunggu.


Tangan yang mengambang itu terulur perlahan dan menyentuh pipi mulus gadis di depannya itu, gerakannya ragu-ragu tetapi dia tak bisa menolak hasratnya untuk menyentuh kulit pipi merona Xue Xue.


Zhao Juren mendekatkan wajahnya, semakin dekat. Matanya mengawasi mata gadis di depannya itu, seolah mewaspadai setiap gerakannya. Dia takut gadis itu akan menolaknya lagi.


Xue Xue tak bergerak seperti arca, membiarkan jemari Zhao Juren membelai kulit pipinya.Betapa sebenarnya dia pun menyukai laki-laki ini sejak pertama bertemu, bahkan dia tak sanggup melukainya saat itu di atas tembok doting meakipun bisa, hanya saja dia tidak mampu berkata-kata untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


Sekarang, dia tak bergeming sama sekali, seolah begitu takut suaranya akan menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Zhao Juren. Saat pertama kali laki-laki ini berteriak dari atas kuda menantang dirinya berduel, itulah kala pertama pula jantungnya berdegup kencang saat bertemu dengan mahluk bernama laki-laki. Bahkan, saat dia menyebut namanya adalah jenderal Zhao Juren yang dia tahu benar adalah kekasih kakak angkatnya Jiu Fei sekalipun Xue Xue dalam rupa Jenderal Qui kala itu tak bisa membohongi dirinya, jantungnya seakan berlompatan dari rongganya.


Sekarang, dia mengerti mengapa Jiu Fei tak bisa menjabarkan tentang perasaannya pada Zhao Juren, cinta itu bukan sesuatu yang bisa di wakilkan dengan kata-kata, cinta itu soal perasaan yang misterius yang tak kita tahu kapan mekarnya.ย Cinta itu seperti angin, kita tidak bisa melihatnya tapi kita bisa merasakannya.


"Kenapa kamu membuatku seperti orang yang kehilangan akal ketika melihatmu? Kenapa kamu bisa memperdayaku seperti ini. Bahkan aku mengabaikan semua fakta tentang kita yang tak mungkin?"Ucap Zhao Juren dengan desisan yang berat, begitu lama dia tak merasakan bagaimana resahnya merindukan seseorang.


Xue Xue menangkap pergelangan tangan Zhao Juren dengan perlahan.


"Aku tak melakukan apa-apa..." Sambut Xue Xue sambil menenangkan hatinya, entah apa yang merasukinya, dia sungguh tidak mengerti. Tubuhnya seperti hanya sedang bergerak di bawah kendali hatinya.


"Lian Ju..." desah Xue Xue, dipejamkannya matanya dengan jemari yang masih mencengkeram erat pergelangan tangan Zhao Juren.


"Aku tak mengerti apapun tentang perasaan tetapi kenapa setiap saat selalu membawa benakku padamu? Sihir apa yang telah kau berikan padaku. Kalau itu mantra Yanzhie, kumohon hentikan..." Bisik Xue Xue dalam hati sambil menggenggam jemari yang mulia dengan kedua tangannya, matanya mulai terasa berkaca. Kerinduannya pada laki-laki ini terasa menyesakkan dada, meski dia tak berjumpa sua hanya dalam hitungan jari.


Di raihnya wajah Xue Xue lalu dengan tanpa sempat menghitung, bibir gadis itu yang merah muda sewarna kelopak mawar telah berada dalam kungkungan bibirnya. Ciuman itu sedikit lama, dalam beberapa helaan nafas yang tertahan. Keduanya larut dalam suasana yang aneh, ciuman yang canggung tetapi begitu ingin di tuntaskan. Itu adalah bentuk rindu yang tak lagi bisa di bendung.


Setelah beberapa lama dan mereka berdua hampir kehabisan udara karena desakan gairah itu, Zhao Juren melepaskan ciumannya dan mengambil nafasnya, membuat Xue Xue memalingkan wajahnya dengan jengah.


Mereka berdua telah berciuman layaknya dua orang dewasa yang saling mengharapkan belaian lebih. Ada rasa malu yang mennggelitik tetapi gairah itu begitu mendesak, siapakah yang kuasa menolak?

__ADS_1


Zhao Juren tak melepaskan dekapannya, pelukannya itu membuat tubuh ramping itu merapat padanya, dia tak bersuara tetapi pelukan itu jelas mengisyaratkan dia begitu merindukan gadis ini.


"Apakah...apakah sama rasanya?" Pertanyaan itu terdengar memecah hening, mengalihkan suara kaok burung malam di kejauhan.


"Ya...?" Zhao juren terpaku, berusaha menangkap pertanyaan yang setengah berbisik, yang datang dari dalam dekapannya.


"Apakah sama rasanya seperti saat dirimu memeluk kakak Jiu?" Tanya Xue Xue kemudian dengan suara yang nyaris tercekat. Zhao Juren tertegun dalam beberapa jeda sebelum kemudian dia melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Xue Xue dari tubuhnya.


Di tatapnya beberapa lama wajah Xue Xue, sejengkal demi sejengkal dengan tatapan setajam elang, membuat Xue Xue menjadi rikuh sendiri.


"Tak ada yang sama." jawabnya kemudian dengan nada tegas, seakan tak menyukai pertanyaan yang di berikan gadis ini.


"Tak ada yang sama soal perasaan, Xue Xue. Cinta pertama, kedua atau ketiga yang boleh singgah di hidup seseorang tak ada yang sama rasanya. Aku tak bisa mendeskripsikan perasaanku seperti apa saat memeluk dan menciummu dengan pada saat ku lakukan pada orang yang berbeda. Tak bisa ku ceritakan perbandingannya jika itu untuk membangkitkan rasa cemburu di hatimu. Yang berlalu adalah bagian dari masa lalu, bukankah tak harus aku menengok ke belakang jika hanya untuk membuat kita enggan maju ke depan." Zhao Juren berucap dengan suara tenang.


"Betapa kekanakannya jika kamu mencoba membandingkan dirimu dengan Jiu fei, jelas kalian adalah orang yang berbeda. Tak ada yang sama, saat kamu menyukai orang yang berbeda..."


Xue Xue mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, wajahnya seakan terbakar. Dia tak berkedip memandang laki-laki yang terpaku padanya begitu lekat. Perlahan sudut bibirnya tertarik, membuat sudut senyum yang begitu memukau seperti bunga yang merekah dari padang es, enyum itu membuat Zhao Juren sungguh sangat tampan, sangat sangat tampan!


Dengan gerakan cepat di tariknya Xue Xue ke dalam pelukannya, leher gadi itu di peluknya hingga kepalanya menengadah sedemikian rupa, lalu dengan sedikit liar diciuminya sekujur wajah Xue Xue. Gerakan yang begitu menghentak, gerakan itu menuntut Xue Xue yang masih melongo itu membalas semua yang dilakukan laki-laki itu dengan di tuntun oleh hasratnya sendiri.

__ADS_1



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ’œ.


__ADS_2