CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 119. Berpura-pura


__ADS_3

"Aku merasa tak punya semangat hidup lagi..." Tangisan penuh keluh kesah itu terdengar mengiba.


Di atas selembar kertas merah berpola hias tembus yang disepuh emas, dilukis beberapa kuntum bunga magnolia yang kurus, aroma harum menerpanya. Samar-samar Xue Xue teringat akan bertahun-tahun yang lampau yang telah terlewati olehnya.


Dengan sikap kekanak-kanakkan, Nan Yuhuai kecil merampas hiasan rambut seorang dayang istana yang menjadi pengasuhnya, lalu menyelipkannya di pelipis Xue Xue yang berambut tebal bersama dengan sekuntum bunga magnolia.


Bunga magnolia adalah bunga kesukaan Pangeran Nan Yuhuai.


Kenangan masa kecil mereka berlompatan di pelupuk matanya, sekarang entah mengapa dia menjadi sangat rindu pada masa itu, saat mereka semua tak mengerti sebesar apa beban menjadi dewasa.


"Kakak Xiwu tidak perlu mencemaskan kakak Yuhuai lagi. Dia sudah berjalan menuju tangga langit. Kita yang hidup harus terus hidup dengan baik dengan begitu kita bisa menjalani kehidupan ini. Di kehidupan berikut kakak Yuhuai berhutang takdir denganmu, dia pasti akan mencarimu untuk membayarnya." Ucap Xue Xue panjang dan sedikit melankolis.


"Sungguhkah?" Pertanyaan itu terdengar penuh harap, keluar dari bibir pucat Yang Xiwu.


"Ya..." Jawab Xue Xue dengan nada tak yakin.


Kalimat yang di ucapkan oleh Xue Xue seperti sebuah penghiburan saja, adik pangeran Yuhuai ini tahu benar di mana hati kakaknya itu berada.


Ya, cinta Nan Yuhuai hanya pada selir Huanjin, istri kakaknya yang lain. Cinta mereka sungguh rumit, seperti teka teki yang tak bertemu ujungnya.


Mata Xue Xue bertemu dengan kerlingan Zhao Juren yang berbalut pakaian pelayan. Mata itu memberi isyarat tak sabar, karena tujuan mereka sesungguhnya sekarang adalah menemukan xiao perak milik pangeran Nan Yuhuai.


"Kakak..." Xue Xue melepaskan pelukan Yang Xiwu perlahan.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Xue Xue dengan hati-hati.

__ADS_1


Yang Xiwu menyeka air matanya, dia terlihat seperti anak-anak yang sedang menunggu pertanyaan saja. Binar matanya seperti kaca berembun. Anggukan lugu kepalanya menerbitkan rasa kasihan di hati Xue Xue. Perempuan ini hanya korban ambisi ayahnya, di nikahkan demi politik meski dia sungguh memuja Nan Yuhuai tetapi Xue Xue tak yakin jika Yang Xiwu mengerti tentang cinta.


"Aku mau mengambil satu barang kakakku Nan Yuhuai sebagai kenang-kenangan. Apakah boleh?" Tanya Xue Xue kemudian.


"Tentu saja boleh jika kamu menginginkannya, tetapi setahuku suamiku itu tak punya banyak barang bagus yang di sukainya. Adik Luoxia menginginkan barang apa?" Tanya Yang Xiwu sembari mengerutkan keningnya.


Sesaat Xue Xue melirik pada Zhao Juren yang terlihat setengah membungkuk. Yang dilirik tak bergeming, pura-pura tak menyadari.


"Aku mau sebuah seruling perak yang pernah di pinjamkannya padaku..." Xue Xue berdalih dengan hati-hati.


"Seruling perak?" Yang Xiwu mengerutkan keningnya dengan sedikit bingung.


"Ya." Xue Xue mengangguk cepat.


"Aku...aku tak yakin, tapi..."


"Xiao perak tua itu rasanya di minta oleh selir Huanjin sebelum dia membawa guci rambut suamiku untuk di sucikan ke kuil di gunung."


"Selir Huanjin?" Xue Xue terperanjat.


"Ya, selir Huanjin memintanya. Katanya Tuan Puteri Nan Luoxia yang mengutusnya untuk membereskan semua sisa upacara yang harus di lakukan untuk Kematian suamiku. Sekaligus...dia meminta beberapa barang pribadi milik suamiku, katanya Tuan Puteri Nan Luoxia yang menyuruhnya demikian."


Jawaban Yang Xiwu membuat Xue Xue tercengang, dia tak menyangka selir Huan melakukan hal yang melebihi dari seharusnya dia lakukan.


"Apakah...apakah ada yang salah?" Yang Xiwu menatap Xue Xue dengan bimbang.

__ADS_1


Xue Xue terdiam sesaat sebelum kemudian dia tersenyum lebar seakan dia melupakan perintahnya sendiri.


"Oh, aku lupa jika aku telah menyuruhnya untuk mengambilkan beberapa barang pribadi kakak beberapa hari yang lewat. Kesibukanku membantu paman Nan membereskan beberapa hal di istana membuatku benar-benar lupa ." Xue Xue menepuk jidatnya sembari menyeringai kepada Zhao Juren yang tak berkedip mencuri pandang pada Xue Xue.


"Sebaiknya, kakak Xiwu tidurlah, maaf telah mengganggu waktu istirahat kakak. Aku hanya mau memastikan keadaan kakak Xiwu baik-baik saja." Akhirnya Xue Xue berdiri, berusaha terlihat tidak mencemaskan sesuatu yang kini sedang berkecamuk di kepalanya soal Selir Huanjin.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." Wajah murung Yang Xiwu kembali lagi menghias rautnya.


"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, kakak. Bagaimanapun, kamu adalah istri dari saudaraku. Kita tetap adalah saudari." Xue Xue berusaha mengakhiri pembicaraan itu dengan kalimat pamit.


"Aku akan senang jika adik Louxia sering kemari."


"Tentu saja, jika ada waktu senggang aku akan sering melihatmu. Mungkin lain kali kita akan minum teh bersama." Xue Xue menyahut dengan sedikit tak sabar. Dia kemudian benat-benar mohon diri, berjalan tergesa menuju pintu di ikuti oleh Zhao Juren yang melangkah di belakangnya, sesungguhnya lebih tak sabar.


Bagaimana tidak, dia sudah rela berdandan seperti perempuan pelayan dan ternyata mereka tak mendapatkan apa-apa. Bukankah itu sangat menjengkelkan?


Yang Xiwu dan kepala pelayan kediamannya mengikuti untuk mengantar tapi begitu sampai di ambang pintu, sesosok tubuh dalam balutan jubah sutra emas yang menyolok berdiri dengan kepala yang terangkat. Dua orang pengawal pribadinya berdiri congkak di belakangnya dengan pedang yang tergantung di pinggang.


"Apakah kabar kiranya seorang puteri kerajaan bertandang malam-malam ke rumahku? Pastilah membawa kepentingan yang tak main-main."


"Paman perdana menteri?" Xue Xue terkejut bukan alang kepalang mendapati kehadiran seseorang yang selama ini adalah orang terakhir yang mumgkin ingin di temuinya di kerajaan Niangxi.


"Selamat datang di istana burukku ini. Suatu kehormatan puteri yang di kenal paling sibuk sejagat Niang ini mempunyai waktu kemari. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Kalimat itu serupa sindiran dan Xue Xue tahu dia sekarang dalam masalah besar.


Perdana menteri Yang Liujun menyeringai tak bergeming di tempatnya berdiri seakan tak mau memberi jalan kepada Xue Xue dan Zhao Juren.

__ADS_1


(Makasih ya, sdh setia dg novel ini☺️ besok kita lanjutkan lagi🙏 i love u my readers💓💓💓💓)


__ADS_2