
Angin malam meniup tirai sutra tipis, di bawah sinar rembulan minggu terakhir di musim gugur, hawa dingin menyeruak sampai ke tulang.
Yang Mulia Nan Chen berpaling ke arah pintu setelah seorang kasim memberitahukan Selir Huan baru saja tiba, wajahnya riang, matanya agak memicing, masih wajah seekor rubah yang menyeringai, ia berkata sambil tersenyum kecil ke arahnya, "Kau akhirnya datang, Huan".
Suara ini sangat tenang, namun membuat hati Huan terasa pedih, ia memandanginya, dan merasa bahwa wajahnya masih sama seperti ketika dirinya meninggalkannya beberapa hari yang lalu, menyengir nakal setelah di pijat olehnya, raja ini keras kepala dan bandel, namun dapat melihat segalanya dengan jelas. Matanya itu bersinar mendatangkan iba di suatu kala.
"Ya, Yang Mulia, anda memanggilku?" Tanya selir Huan sambil membungkuk, semenjak dia menjadi selir dia semakin merasa berbeda mengenali Yang Mulia Nan Chen. Sikap urakan dan nakalnya saat berada di aula pesta tak nampak saat mereka sedang berada di satu ruangan hanya berdua.
Waktu berlalu dengan cepat, begitu banyak peristiwa terjadi secara beruntun, begitu cepat hingga dirinya tertegun, sekarang ia memandanginya, dengan samar-samar, dirinya merasa bahwa ia agak asing, namun juga agak membuat iba.
Ia berjalan ke depan, berjongkok di sisi Yang Mulia Nan Chen yang sedang setengah terbaring di tempat tidur besarnya, wajahnya terlihat sedikit pucat dari biasanya, lalu dengan sikap enggan Selir baru sang raja itu menarik bibirnya, matanya terasa pedih.
"Aku hanya memanggilmu untuk merasakan pijatanmu yang nyaman itu. Badanku kurang sehat hari ini, pesta tadi malam membuatku sedikit kelelahan." Yang Mulia Nan Chen terkekeh.
"Oh..." Selir Huan melirik pada seorang pelayan yang baru saja tiba dengan mangkuk berisi minyak bunga.
Semakin Yang Mulia tersenyum seperti itu, selir Huan merasa hatinya semakin bimbang, dendam berkarat yang di embannya terasa begitu susah untuk di keluarkan.
"Ku mohon, janganlah bersikap baik padaku...aku merasa sulit bernafas jika anda membuatku nyaman." Bisiknya dalam hati, ia memaksa dirinya untuk tersenyum, lalu berkata sambil mengangguk, "Aku akan memijat kepala anda, Yang Mulia, berbaringlah dengan nyaman" Selir Huan meraih baki yang di letakkan sang pelayan.
__ADS_1
"Aku tak ingin berbaring sendiri, tetapi aku ingin di pijat sambil berbaring di pangkuanmu ." Ucap Yang Mulia Nan Chen tiba-tiba. Selir Huan terpana, dia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Semenjak dia di angkat menjadi selir Yang Mulia Nan, dia tak pernah sekalipun di t!duri oleh raja ini, sehingga dia tak punya kesempatan menusukkan tusuk konde besi yang ada di selipan rambutnya ke jantung laki-laki ini, sebuah cita-cita yang dipendamnya hampir dari separuh umurnya sekarang.
Saat berada di aula pesta, dia diperlakukan seperti perempuan penghibur tetapi ketika berada di dalam kamar Yang Mulia, tak ada yang tahu, dirinya di acuhkan sedemikian rupa.
Dengan tubuh gemetar, selir Huan naik ke atas tempat tidur Yang Mulia, dirinya tak bisa memungkiri sekarang dia menjadi gugup dan merinding.
Beberapa saat kemudian Yang Mulia Nan Chen berbaring di paha Selir Huan, perempuan muda nan molek ini jengah, tak biasanya Nan Chen begitu tenang.
Jendela separuh terbuka, menyembunyikan bagian paling belakang kolam lotus yang rimbun di balik jendela kamar Yang Mulia Nan Chen.
Selir Huan menunduk, dengan diam meraba-raba pola hias yang rumit di sisi mangkok minyak beraroma bunga mawar itu.
Selir Huan tercengang, tubuhnya menjadi kaku nyaris tak bergerak, dia tahu benar arah kalimat itu tentang apa.
Yang Mulia Nan berbaring dengan sikap tenang, matanya terpejam, rambutnya terurai di atas kain sutra yang dikenakan selir Huan.
Angin sejuk bertiup ke dalam kamar Yang Mulia mekewati celah jendela yang sedikit terbuka, genta angin di luar jendela berdentang-denting, ketika menengadah untuk melihat ke atas, nampak bahwa genta itu diukir dengan ukiran yang rumit dan indah, sisi-sisinya dihiasi dengan ukiran tembus berpola bunga yang saling berpasangan, dihiasi bedak emas yang amat halus, walaupun bertahun-tahun ditiup angin dan disinari matahari, warnanya masih cerah berkilauan. Genta di atas langit-langit kamar raja itu berdenting halus, setiap orang yang pernah melihatnya terheran-heran bagaimana bisa raja beristirahat dengan bunyi denting jika tertiup angin itu.
__ADS_1
Yang Mulia menarik nafasnya, dengan mata yang masih terpejam. Lalu dia berucap dengan hambar, "Paman Jiu dan bibi Liu juga di kuburkan di sana".Tambahnya, suaranya menerawang.
Tak pernah selir Huan segugup ini saat orang lain menyebut nama kakek dan neneknya. Tanpa angin tanpa badai, Yang Mulia Nan Chen berbicara tentang keluarganya, yang telah lama berusaha di lupakannya di antara kubangan dendam dan kemarahan. Darah pengkhianat seakan di alirkan lewat ubun-ubunnya sehingga dia bersembunyi sedemikian lama dari nama keluarga Jiu, meski dia adalah keturunan terakhir yang terselamatkan oleh pelayan mereka.
Yang dia tahu, setelah keluarganya di bantai, kakek nenek, paman bibi dan orangtuanya serta kakak-kakaknya, dirinya yang masih kecil berada di pelukan seorang pelayan meninggalkan tempat penjagalan berkubang darah itu, tak bisa berbuat apa-apa meninggalkan mayat-mayat yang mungkin membusuk sendiri tak terurus atau mungkin jadi makanan burung.
Dirinya hanya terus menangis ketakutan, di bawa berlari melewati hutan, menerobos semak berduri, melewati rawa-rawa dan kegelapan, sang pelayan itu terus menggendongnya hingga sehari semalam tak henti.
Bagaimana bisa kemudian orang yang paling bertanggungjawab atas pembantaian itu menceritakan tentang makam keluarganya yang dikiranya di bakar dengan kejam atau di umpankan pada binatang. Di Nanxing, mayat pengkhianat akan di lemparkan ke pinggir jalan dan si biarkan hingga membusuk jadi makanan hewan.
selir Huan mengangkat kepalanya, sudut-sudut mulutnya mengantung, air mukanya seakan berkabut, namun sinar matanya terlihat ketakutan.
Perlahan Yang Mulia Nan Chen membuka matanya, mata itu bersinar begitu aneh dan tak terselami.
"Waktu hidup, tak bisa hidup bersama, setelah mati berada dalam satu lubang, pertarungan mati-matian terakhir itu juga tak sia-sia jika kita menaruh nyawa kita untuk membayar kesakitan, bukankah itu impian kita?"
Sesaat mereka berdua bertukar pandang, jemari Selir Huan gemetaran. Dia tak sanggup memberikan tekanan pada tengkorak kepalq yang kini berbaring tanpa takut di atas pahanya.
"Huan'er, apakah yang kamu tunggu?" Yang Mulia Nan menatap ke arah wajah Selir Huan begitu tenangnya.
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ