
Awan mendung di langit tiba-tiba saja, perahu yang membawa Zhao Juren menyeberang itu tanpa di sadari telah sampai di seberang sungai. Sungai ini adalah perbatasan lain yang memisahkan wilayah antara tanah Niang dan tanah Yan.
Zhao Juren seperti orang yang mati rasa, dia tak bisa melihat jelas apa yang ada di depannya. Fikirannya melayang seperti awan, mengambang serupa kiambang.
"Tuan, kita sudah sampai." Suara bapak pemilik perahu itu hampir tak terdengar di telinga Zhao Juren.
Kebenaran Jiu Fei sedang menguasai kepalanya. Penyesalan seperti sedang menggeledah setiap ruang jiwanya.
Di dunia ini, apa yang terlihat di depan mata belum tentu itu yang benar.
Zhao Juren menginjakkan kakinya kembali si atas tanah Yan setelah sekian lama, dia pulang kembali. Turun dari perahu itu, tanpa banyak bicara dia memberikan beberapa koin dari kantung pinggang yang di berikan Xue Xue sebelumnya kemudian menyusuri pinggir sungai itu beberapa jenak dan kemudian sampai di sebuah kampung nelayan yang kecil. Permukiman sederhana itu menyambutnya dengan kedai makan yang tak seberapa besar.
Rasa lelah, jiwa dan raga membuat tubuh Zhao Juren seperti baru saja bangkit dari sakit sekian lama.
Lututnya sedikit goyah dan badan terasa melayang.
"Tuan, mari masuk." Seorang laki-laki berbadan tambun dan perut buncit yang jenaka menghampirinya, matanya yang sipit memicing ramah, celemek lusuhnya terlihat bernoda arang.
"Sepertinya anda dari perjalanan jauh. Tuan tentunya lapar." Dia merentangkan tangan kanannya sambil membungkuk, mempersilahkan Zhao Juren masuk ke dalam kedainya yang tampak membumbung asap dari depannya.
Seorang laki-laki muda dan perempuan yang cukup berusia terlihat sedang bersenda gurau di depan tungku bakaran. Di depannya, beberapa ikan tampak sedang di bakar dengan di bungkus daun pisang.
Bau masakan segera menyergap penciuman Zhao Juren, menggelitik syarafnya, rasa lapar bangkit tanpa di aba-aba.
"Ya, aku sepertinya lapar." Zhao Juren memegang perutnya dan tanpa diminta dua kali dia segera masuk ke dalam kedai.
__ADS_1
"Tuan tak salah untuk singgah di kedai Wangyu. Di sini kami menyediakan menu khusus yang tak akan bisa tuan temukan di manapun. Ikan Wu guo segar yang di bakar dalam daun. Tuan bisa menikmatinya dengan nasi dan saus Releng yang luar biasa." Tuan pemilik kedai ini benar-benar luar biasa dalam memperkenalkan menu kedainya itu. Sebelum Zhao Juren duduk dia sudah mengoceh tak henti.
"Saus Releng?" Alis Zhao Juren naik, dia tak pernah mendengar ada nama saus itu di daerah Yanzhi.
"Sttt...itu nama saus yang di buat dengan menggabungkan rempah-rempah wilayah Yanzhi dan Nanxing, tuan." Pemilik kedai berwajah bulat itu menurunkan suaranya sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Kami meraciknya sendiri, saus Releng itu adalah kombinasi rasa dingin dan pedas yang panas di lidah setelah kita memakannya.
Saus tradisional khas ini yang terbuat dari merica Nanxing, cabai dari lereng Yanshan, minyak, dan rempah-rempah asal Yanzhi. Ikannya kami tangkap dari sungai ini, ikan guo." Pemilik kedai itu berucap dengan setengah berbisik, sangat kentara dia bangga dengan apa yang sedang di ceritakan.
Zhao Juren menatap pemilik kedai itu tak berkedip, baru kali ini dia mendengar masakan sejenis itu, menggabungkan rempah-rempah dari dua negara yang bermusuhan.
"Tuan, dari mana? Tuan penyeberang dari Nanxing? atau...atau orang Yanzhie yang ingin menyeberang?" Tanyanya dengan setengah membungkuk, seolah itu adalah pembicaraan rahasia.
"Oh...aku...aku..." Zhao Juren menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit bingung. Tak ada yang mengenalnya, jika dia adalah seorang jenderal besar di Yubei.
"Ada semacam itu di sini?" Zhao Juren terbengong-bengong.
"Akh, tuan jangan berpura-pura. Aku tahu benar, kain yang tuan gunakan itu berbahan dari sutra hitam Niang, hanya modelnya saja di buat seolah-olah itu pakaian daerah Yanzhi." Pemilik kedai itu menepuk bahu Zhao Juren sambil tertawa terbahak-bahak. Badannya bergoncang lucu, seakan baru saja menangkap basah seorang penipu amatir yang sedang berusaha mengelabuhinya.
Zhao Juren sekali lagi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Apakah...apakah aku bisa mencicipi ikan guo dan saus releng yang luar biasa itu sekarang?" Tanya Zhao Juren kemudian sambil menyeringai. Perutnya sudah tak lagi bisa berkompromi, dia lupa kapan terakhir benar-benar makan dengan benar.
"Oh, iya...astaga!" Pemilik kedai itu menghentikan tawanya sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Hidangan anda akan segera tiba, tuan." Teriaknya sambil tergopoh-gopoh pergi.
Zhao Juren menghela nafasnya, seorang pelayan berusia belasan, masih kategori anak-anak membawa sebuah nampan berisi seteko teh hangat dan gelas dari tembikar. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sungkan, meletakkan nampan itu di meja dan meninggalkannya setelah mempersilahkan Zhao Juren meminumnya.
Zhao Juren tak pernah tak dilayani, bahkan untuk secangkir teh seseorang akan menuangkannya untuk dirinya. Sekarang dia duduk sendiri menghadap meja kayu sederhana itu, melayani dirinya sendiri sebagai rakyat yang bahkan tak dikenal sama sekali, selayaknya pengembara yang sedang singgah saja.
"Mari Tuan, Guo bakar anda sudah datang..." Tak berapa lama, hanya sempat Zhao Juren menengak segelas teh, si pemilik kedai yang suka berbicara itu kembali dengan pelayan laki-laki yang tadi membakar ikan di depan kedai.
"Ming, letakkan di sini. Tuan muda ini harus makan banyak sebelum melanjutkan perjalanannya." pemilik kedai itu menurunkan sepiring besar ikan lengkap dengan guyuran saos bertabur irisan cabai, jamur jingu sejenis jamur enoki dan daun mint.
Asapnya membumbung tipis, menandakan masakan itu baru di bangkit dari api, besertanya ada semangkok nasi putih hangat. Hidangan di depan Zhao Juren benar-benar menggugah selera.
"Silahkan di nikmati tuan..." Pemilik kedai itu bersiap berbalik pergi tetapi Zhao Juren menahannya lengannya.
"Ya, tuan? ada apa?" Pemilik kedai melotot karena terkejut.
Zhao Juren mengedarkan pandangan, kedai kecil itu sepi pengunjung kecuali sepasang suami istri yang sedang duduk menghadap jendela. Mereka asyik berbicara sambil makan sup ikan.
"Jika anda tidak sibuk, bisakah anda menemaniku makan?" Tanya Zhao Juren kemudian.
"Hah?!" Pemilik kedai itu melongo, baru kali ini dia menerima permintaan pengunjung yang aneh itu.
"Sttt...aku adalah pengembara dari Niang hanya ingin berjalan-jalan ke sini, konon katanya di Yanzhi banyak makanan enak. Aku adalah orang yang suka makan." Zhao Juren berucap dengan sedikit berbisik. Tawa si pemilik kedai pecah, wajahnya memerah karena puas karena tebakannya benar.
"Ha...ha...ha...tentu saja aku tak salah tebak tuan, dengan sekali melihat saja aku tahu kalau tuan adalah pengembara dari seberang. Jangan kuatir, tuan selama tuan bukwn penyusup politik, tuan akan aman." Pemilik kedai itu menarik kursi kayu di depan Zhao Juren lalu duduk dengan wajah riang.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu aku bukan penyusup politik?" Tanya Zhao Juren sambil mulai mengambil sumpit.