
Di hari ke dua puluh musim dingin, pasukan Qian Ren menguasai satu provinsi Niangxi, Lin Hongse mati-matian memberi perlawanan di Qianan,
Pada malam hari itu, Permaisuri Agung Xiao Yi masuk ke aula Guangli, tubuhnya dijatuhi beberapa kelopak bunga yang seputih salju, raut wajahnya agak tertegun dan tegang. Dia telah memanggil perdana menteri dan beberapa orang menteri untuk sebuah pertemuan mendadak.
"Yang Mulia belum kembali?" Tanyanya pada perdana menteri.
"Belum Yang Mulia permaisuri."
"Yang Mulia hanya mengatakan ingin meninjau langsung wilayah perbatasan tetapi dia tak pernah mengatakan jika akan menyerang Niangxi." Permaisuri Agung Xiao Yi terlihat berusaha menyembunyikan perasaannya.
Perempuan yang di usia belum tiga puluh itu terlihat cantik dan anggun, dia mengerutkan keningnya, wajahnya bagai diselimuti selapis asap hitam, lilin setebalnya lengan kecil di belakangnya memancarkan sinar yang berkilauan, menyinari wajahnya yang pucat pasi, ia merendahkan suaranya, seperti anak burung di tengah angin kencang, dengan suara yang tajam dan berat, ia berkata, “Apakah kalian tahu sebenarnya rencana dari Yang Mulia?"
Perdana Menteri berpandangan sesaat dengan yang lain kemudian menggelengkan kepala.
"Yang Mulia hanya merencanakan perang di oerbatasan merebut kota Yichen kembali tetapi tak mengatakan akan dilakukan dengan cepat dan mendadak."
"Baiklah..." Permaisuri agung Xiao Yi menganggukkan kepalanya. Gaunnya terlihat terseret di atas lantai ketika dia berputar.
"Aku ingin semua tetap berada di istana, tak ada yang keluar dari kota. Perang ini mungkin berlangsung lama, kita harus selalu siaga. Yang Mulia mungkin mempunyai suatu alasan untuk apa yang terjadi. Tetapi, apapun itu..." Dia menarik nafasnya dalam-dalam dengan berat.
"Kita harus mendukung Yang Mulia." Ucapnya dengan tegas. Lalu dengan langkah panjang dia keluar dari aula Guangli. Di ikuti tatapan orang-orang yang di panggilnya.
"Dayang Chu..." Matanya melirik pada Dayang senior Chu Cu yang mengikutinya bersama beberapa dayang lain, langkah mereka tertuju pada istana Houho, kediaman resmi ratu.
"Panggilkan pengawal Chun padaku."
"Baik..." Chu Cu tanpa bertanya membungkukkan badannya dan ketika Permaisuri agung itu masuk ke ruangannya, Chu Cu sudah pergi mencari Pengawal Chun.
__ADS_1
"Chun menghadap Yang Mulia..."
"Pengawal Chun." Permaisuri Agung itu menatap lurus pada pengawal Chun.
"Bisakah kamu mengatur perjalananku ke Liangsu secara rahasia."
Pengawal Chun tertegun, dia tak menyangka mendengar permintaan ratunya itu.
"Yang Mulia permaisuri, itu terlalu berbahaya dan ku rasa...kurasa Yang Mulia raja tidak menginginkan jika Yang Mulia permaisuri meninggalkan istana." Sahut pengawal Chun dengan terbata.
"Aku tahu dia tak menginginkannya, tetapi aku tahu sekarang, Yang Mulia sedang memerlukan aku di sampingnya. Aku telah berjanji hidup dan mati bersamanya karena itu, meski melewati lautan darah aku akan mendampinginya..." Ucap Permaisuri agung Xiao Yi dengan penuh keyakinan.
Ada kekecewaan tersirat di wajahnya, Yang Mulia mengambil keputusan penting bahkan tak berbicara padanya.
"Perang bukan hal yang main-main, aku tak bisa membiarkan suamiku berubah menjadi monster karena dendam dan amarah yang di simpannya. Aku harus berbicara padanya, meski ke ujung langit sekalipun aku harus menemuinya." Desisnya perlahan, wajahnya menjadi sedikit memucat, hati Xiao Yi mendadak menjadi dingin, sebuah sensasi dingin bergulung-gulung naik dari lubuk hatinya, bagai asap dupa putih susu yang membumbung dari pedupaan, dengan perlahan berpusar, dengan bebas memasuki berbagai tempat.
Sinar rembulan sedingin es, di malam yang amat panjang ini, sebuah kesunyian menembus suara hiruk-pikuk, dan mulai bertumbuh.
Dengan demikian, setengah bulan berlalu, musim gugur telah lewat dan musim dingin ini berubah menjadi mencekam, udara berubah menjadi sedingin es dan lembab.
...***...
Kekacauan di bagian barat Niangxi telah membuat kota Nanxing menjadi semakin keruh. Lautan pengungsi sedang berjalan menuju kota, ransum makanan segera menyusut, semua kegembiraan musim semi sungguh tak berbekas lagi.
Selir Huan tinggal di Istana raja, dengan aula tepat di samping bangunan pribadi raja.
Hari demi hari, ia memandang cahaya mentari melintasi ambang jendela yang berwarna merah tua, menunggu datangnya sebuah hari.
__ADS_1
Ia sangat jarang melihat Raja Nan Chen sejak kejadian dia tidur bersama sang raja dalam keadaan mabuk, karena masalah perang ini, walaupun kekuatan militer Nanxing terguncang dan berkurang, keluarga-keluarga berpengaruh di barat daya telah masuk ke provinsi terdekat, kas negara yang melimpah di tahun sebelumnya menjadi terkuras.
Yang Mulia Nan biasanya begitu santai dan tidak terlalu pusing dengan semua urusan politik, semua sudah di atur oleh perdana Menteri Yang Liujun. Tetapi anehnya, akhir-akhir ini raja menjadi luar biasa sibuk, sehingga bahkan tarian dan nyanyian dari aula raja pun jarang ia dengarkan.
Jejak-jejak musim gugur menghilang, sinar dan bayangan bergoyang-goyang, bulan awal nusim dingin penuh duka, berita kematian menyesakkan dada.
Ketika bangun di pagi hari Selir Huan membuka jendela, dan melihat salju tipis di luar, di balik jendela, beberapa pohon wutong telah diselimuti oleh selapis bunga es yang putih bersih, selama tinggal di kota Nanxing pada sebuah rumah hiburan sebagai penari, dirinya sudah amat lama tak melihat salju jatuh karena dia banyak mengurung diri, hanya keluar jika memang perlu. Pagi ini dia ia mengenakan mantel dari satin merah terang, kelihatannya begitu berani, cantik dan kuat.
Pada pagi itu pula, dia menerima seorang tamu penting di kediamannya, Ratu Lin Fangyin.
"Selir Huan, aku tak tahu sihir apa yang kamu miliki hingga Yang Mulia Nan Chen begitu menyukaimu..." Kata-kata itu di ucapkan Lin Fangyin dengan tajam.
"Kamu tahu benar, aku tak akan ramah pada siapapun yang berusaha lebih dari aku." Ratu Lin Fangyin terdengar begitu terus terang.
Selir Huan berdiri seperti batu, dia tak bergeming.
"Kedatanganku kemari hanya ingin memintamu dengan baik-baik, keluarlah dari istana ini dengan suka rela. Sebelum aku mengusirmu." Kalimat itu di semburkan dengan nada yang begitu dingin.
Selir Huan mengangkat wajahnya perlahan.
"Yang Mulia ratu..." Selir Huan berucap dengan mulut bergetar.
"Yang berhak mengusirku adalah Yang Mulia raja. Dia telah mengamgkatku menjadi selir utama, aku tak bisa melawan perintah seorang raja."
"Selir Huan!!!" Suara itu terdengar begitu keras, menggema dalam ruangan selir Huan yang beratap tinggi itu.
"Kamu tidak tahu, sekejam apa aku jika telah memutuskan untuk membenci seseorang." Desisnya dingin, gigi putihnya bergemerutuk.
__ADS_1
"Aku tahu, Yang Mulia ratu. Aku tahu, bahkan seorang selir harus membayarnya dengan mahal untuk kebencian Yang Mulia Ratu." Sambut Selir Huan dengan tanpa ekspresi, tak ada rasa takut di wajahnya yang cantik itu.