CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab 34. Menjelang Pesta Lentera


__ADS_3

Hari berikutnya, sebelum gelap Zhao Juren sudah memasuki kotaraja Nanxing dengan menggunakan kuda paman Wang. Dia menitipkan di sebuah kandang penitipan binatang yang tiba-tiba menjamur menjelang pesta Lentera.


Kota ini luar biasa meriahnya meski pesta lentera belum dimulai, tetapi jalanan sudah sangat ramai bagai kumpulan semut, di mana-mana penuh rombongan orang yang berjalan kian-kemari, pakaian mereka benar-benar penuh warna warni.


"Ini masih sore tetapi orang sudah seramai ini, luar biasa pesona malam pesta lentera ini." Gumam Zhao Juren sambil merapikan hiasan kepalanya, khas Niangxi, hiasan itu menutupi kunciran rambutnya yang hitam legam. Beberapa jepitan meramaikannya, meski sedikit risih Zhao Juren tetap mengenakannya.


Dia sama sekali tak ingin terlihat seperti orang Yanzhi sekarang.


Jika di tilik sedikit cermat, Zhao Juren malah lebih mirip seorang pelajar di akademi kerajaan dari pada seorang jenderal, apalagi tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Untuk orang yang hanya mengenalnya sambil lalu mungkin bisa terkecoh dengan tampilannya yang baru ini.



Langkah Zhao Juren menjadi sedikit berhati-hati, jalanan cukup padat oleh manusia yang entah datang dari belahan mana.


Berbagai macam kios makanan kecil, aneka aksesoris, manisan buah, permen gula dan pernak pernik diatur berbaris mengelilingi jalan raya. Mereka berjejer memanggil siapapun yang lewat, menawarkan dagangannya.


Zhao Juren melewati kerumunan dan harus berpapasan dengan hati-hati karena banyak pengasong arak panas yang ikut berlalu lalang menjajakan jualannya.


Segala jenis tembakau di kemas, gincu dan mainan juga ikut memenuhi jalan utama Nanxing.


"Ops!" Zhao Juren mencoba memiringkan tubuhnya ketika seorang gadis penjaja tanghulu hampir menabraknya.


"Maaf, tuan...apakah anda mau tanghulu ini?"


"Tidak. Terimakasih." Zhao Juren balas membungkuk ketika gadis itu dengan tersipu membungkukkan badannya. Matanya tak bisa menyembunyikan kekaguman pada paras pria yang hampir membuat dagangannya berhamburan itu.

__ADS_1


"Tempat ini terlalu ramai." Zhao Juren mengeluh sendiri, sebentar saja dia merasa tubuhnya berkeringat.


Karena hari itu hari raya penting di Aula kebesaran kota yang di hadiri orang-orang penting kerajaan, para bangsawan dari keluarga kaya yang sehari-hari tidak keluar rumah berbondong-bondong keluar dari wisma mereka dengan antusias sambil tak lupa memamerkan pakaiannya dan perhiasannya.


Di mana-mana di jalan, nampak beberapa orang mengusung tandu serta mengendarai kereta kuda, tak kalah banyaknya di jalanan menuju aula kebesaran kota. Para gadis melayangkan suara tawa riang serta tawa cekikikan bersama dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari danau di kejauhan, sementara para pria muda terlihat berjalan dengan gaya gagah, memamerkan dada bidang mereka, mereka mengobrol dengan keras sepanjang jalan, suasana sore itu membuat Zhao Juren takjub.


"Yubei, sungguh tak seramai ini meskipun ada pesta musim semi. Di sana semua bangsawan beramai-ramai memenuhi villa-villa untuk membuat pesta mereka sendiri, rakyat biasa berpesta di jalanan, berbelanja dan menikmati berbagai pentas drama jalanan ataupun musik-musik serta atraksi.


Di aula Guangli yang hadir hanya orang-orang penting dan undangan.


Betapa berbedanya suasana pesta musim semi di Yanzhi dan Nanxing.


Zhao Juren terus melangkah menyibak keramaian, menuju sebuah kedai arak yang cukup besar di tengah kota, karena masih sore dia berencana minum sedikit untuk menghangatkan badan sekaligus mengisi perutnya.


"Tuan, kami menyediakan arak Huang jiu dari Xiantan. Ini arak terbaik di kedai kami, warnanya semerah pipi gadis perawan. Apakah tuan mau mencobanya?" Tawar sang pelayan dengan bersemangat.


"Arak Huang Jiu? Ya, tentu saja aku sangat berminat mencobanya. Tolong dengan daging kalau ada, aku sedikit lapar sekarang." Zhao Juren meminta dengan sopan.


"Pilihan yang tepat tuan, arak kami ini sangat cocok di makan dengan daging sio bak ." Pelayan itu tersenyum lebar.


"Sio bak?" Zhao Juren mengernyitkan dahinya.


"Ya, tuan. Sio bak kami dari daging babi muda yang kami marinasi satu malam dengan campuran tahu merah yang difermentasi.Kami meraciknya dengan 5 bubuk rempah terbaik dari Lijiang. Bukan hanya itu, daging babi bagian atas kami oles dengan cuka beras. Kerenyahan panggangannya pasti membuat tuan ketagihan."


Zhao Juren tak bisa berkata-kata, para penjual di Niangxi ini benar-benar luar biasa dalam memperkenalkan dagangan mereka supaya pembeli tertarik.

__ADS_1


Akhirnya Zhao Juren mengiyakan saja, lalu sibuk memperhatikan ke jalanan, mempelajari kota itu dengan seksama.


"Huuuuh..." Zhao Juren menarik nafas kuat dan menghembuskannya dengan lega, dia tak pernah sebebas ini berjalan-jalan dalam hidupnya, tak ada yang mengenalnya dan tentu saja si Li Jin, pengawalnya yang cerewet itu tidak menempel lagi bersamanya.


Menjadi orang yang di anggap mati itu ternyata tidak jelek juga.


Tak lama Daging sio bak dan arak Huang Jiu itu tiba, Zhao Juren tak menunggu lama, menyantapnya dengan bersemangat. Cita rasa makanan selatan memang aneh di banding utara, di sini makanan di sediakan dingin sementara di Yanzhi hampir semua makanan di sajikan hangat atau panas. Perbedaan iklim mungkin adalah alasannya. Tempat yang hangat seperti Nanxing tak perlu makanan yang panas kecuali di musim dingin.


Saat asyik menikmati sajian di mejanya, mata Zhao Juren tertumbuk pada seorang gadis yang baru masuk ke dalam kedai dengan gaya santainya yang menarik perhatian.



Rambutnya yang panjang sepunggung di kuncir tinggi, poninya panjang yang lebat terurai di kiri kanan dahinya. Hiasan kepala khas Nanxing dari kain tebal bermotif sisik, dibandingkan dengan wanita-wanita yang berdandan dengan semarak di jalanan tadi pakaian yang kenakan gadis ini tergolong sangat sederhana, wajahnya polos tanpa polesan tetapi dia terlihat cantik dan menarik. Tampilan ini mengingatkan Zhao Juren pada Jiu Fei.


Akan tetapi mata Zhao Juren bukanlah mata biasa, dia cukup tahu kualitas barang yang dipakai kebanyakan orang, meskipun gadis muda ini berlagak seperti perempuan sederhana bagaimanapun Zhao Juren dengan sekali lihat tahu benar, yang dikenakannya adalah barang mahal, dibandingkan dengan pakaian rakyat biasa, jahitannya sangat bagus dan bahannya adalah semi sutra berwarna kelabu bercampur warna merah bata di beberapa bagian, roknya terbuat dari sutra berwarna dengan lapisan celana putih teratai. Kecantikan bangsawan yang berusaha ditutup-tutupi!


"Paman Qiong, berikan aku arak!" Dia berjalan santai ke meja di sudut yang berseberangan dengan Zhao Juren tanpa terlalu memperhatikan sekelilingnya. Tetapi bukan itu yang membuat Zhao Juren terhenyak.


Suara gadis ini begitu akrab di telinganya dan matanya ketika di cermati dari jarak cukup dekat, begitu familiar.


Ya, Zhao Juren merasa mengenalnya! Mata itu yang seperti berlian, tajam berkilau, itu seperti milik seseorang.


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...


 

__ADS_1


__ADS_2