
Kematian Nan Yuhuai membuat istana Nan seperti di bakar api, panas di dua kubu, dan tentu saja para pemberontak yang sangat ingin mendudukkan Pangeran Nan Yuhuai pada tahta Niangxi, di bawah kendali perdana menteri Yang Liujun
Sekarang, jalan-jalan di kota sudah tak seperti hari biasanya, semuanya suram, hanya ada beberapa rumah dan toko yang sepi. Di tengah perkabungan nasional kota Yanzhie semua perayaan dibatalkan, rakyat jelata tak lagi keluar rumah, tak ada orang yang berlalu-lalang, para pedagang penjaja arak dan makanan kecil yang berada di sepanjang jalan tak lagi keluar. Jalan-jalan kota yang tadinya penuh sesak sekarang leluasa, dedaunan yang menguning bergulung-gulung dengan kacau di segala tempat, sering terjatuh di pakaian yang putih bersih.
Selir Huan, berdiri seperti seorang perempuan yang di tinggal menjanda dua kali.
Berhari-hari dia meratapi kematian Raja Nan Chen yang telah mengambilnya menjadi suami itu, dia merasa hidupnya kehilangan tujuan hidup.
Bagaimana tidak, tujuannya selama bertahun-tahun membunuh lelaki yang memusnahkan keluarganya, tetapi akhirnya kesumat itu menguap begitu saja. Dia jatuh hati pada orang yang seharusnya menanggung setiap air mata dan darah keluarganya yang tertumpah.
Kini, saat dia melihat bagaimana jasad pangeran Nan Yuhuai terbaring di sebuah kamar persemayaman, hatinya seakan hancur luluh berantakan.
"Kamu begitu berkeras ingin melihatnya, aku terpaksa membawamu kemari, meski sebenarnya ini melanggar aturan." Xue Xue tak bergeming di sebelah selir Huan yang bersimpuh tanpa berucap sepatah katapun, kecuali bibirnya yang gemetar sendiri.
Malam baru saja turun, Xue Xue tak bisa berbuat apa-apa selain menyelenggarakan kematian kakaknya yang lain di kuil luar istana utama karena di kuil agung istana masih ada jasad raja Nan Chen, kakaknya tertua yang belum di kuburkan ke persemayaman terakhir keluarga istana.
"Kapan kamu mengenal kakakku ini?" tanya Xue Xue dengan suara yang rendah, menatap liukan sebatang lilin yang ada di meja, tepat di belakang kepala Nan Yuhuai.
"Dulu...dulu...kakak Yuhuai adalah temanku." Ucapnya lirih, dia memegang dadanya, sekarang tidak lagi soal kehilangan tujuan hidup tetapi dadanya terasa sangat sesak seakan tertumbuk kayu yang paling besar.
Xue Xue memalingkan wajahnya yang tirus dan berbalut kesedihan itu.
"Di gunung Beiyu..." Selir Huan tak dapat menahan air matanya yang menetes perlahan.
__ADS_1
"Ada seorang remaja yang selalu menatapku dengan muram, dia menyimpan sakit karena rindu dendam pada sang ibu yang telah membuangnya ke gunung Beiyu. Hanya seorang dayang tua yang selalu mengirim pesan padanya dan membuatnya percaya , tidak ada seorangpun yang di cintai oleh ibunya selain dirinya. Putra yang sangat di agungkannya. Garis takdir itu seperti lingkaran, berputar-putar tak jelas dan itu sangat menyakitkan." Selir Huan berucap seperti gumam yang di ceritakannya pada dirinya sendiri.
"Dia yang selalu bertanya, cinta macam apa yang membuang sang anak jauh-jauh? Ibu seperti apa yang tak pernah rindu memeluk anaknya dan tak pernah memikirkan bagaimana tangisan kesepian sang anak terkurung di puncak gunung Beiyu, disana mungkin di kelilingi oleh mata air panas yang hangat tetapi hati Yuhuai tak pernah merasa hangat. Dia adalah temanku sependeritaan sepenangungan." Selir Huan merasa hatinya begitu hampa saat mengenang Nan Yuhuai.
"Apakah langit telah berbuat adil padanya? Hingga kematiannya adalah satu-satunya jalan untuk bisa lepas dari semua penderitaannya? Aku dulu tak berfikir dia meninggalkan aku, sampai tahun kesedihan itu menjemputnya. Kakak Yuhuai benar, takdir selalu suka berdiri di ketinggian yang berbeda untuk memperhatikan kita, lalu tanpa kompromi memvonis kita untuk menjalani hal-hal yang menyakitkan." Selir Huan tertunduk begitu dalam, jubah berkabungnya telah basah, kering dan basah bergantian tak henti.
Dia ingat dirinya sendiri, perempuan yatim piatu yang tersesat hingga gunung Beiyu dengan pakaian compang camping dalam rupa gadis kecil yang rambutnya di kepang satu. Dia kelaparan, bahkan karena terbiasanya menahan lapar, dia tak menangis meski perutnya melilit seperti di ikat.
"Berikan aku sepotong roti maka aku akan berhutang budi seumur hidup padamu." Ucapnya kala itu.
Nan Yuhuai muda terpana, begitu mudahnya dia mengatakan akan berhutang budi demi sepotong roti. Pemuda itu berlari ke dapur dan mengambil sepotong roti untuk gadis ini dengan segelas susu segar yang seharusnya sebagai jatah makan paginya.
Selir Huan ingat dia begitu bahagia ketika memakan roti itu dengan lahap dan setelahnya Nan Yuhuai menggandengnya menuju dapur kuil.
Selir Huan adalah gadis yang gigih, dan dia sama kesepiannya dengan Nan Yuhuai muda.
Setiap hari mereka akan bertemu di sebuah padang rumput kuning, dan Yuhuai akan menemaninya belajar menari berbekal sebuah kitab tari usang. Cita-cita selir Huan adalah menjadi penari dan visa masuk ke istana untuk membunuh raja Nan Chem muda yang telah menghukum mati semua keluarganya demi pengkhianatan bibinya Jiu Fei.
Sekali lagi, waktu bagai burung yang mengepakkan sayapnya, cepat atau lambat, ia tak akan dapat mengepakkan sayapnya
lagi dan berubah menjadi tulang belulang putih, begitu tak berperasaan, begitu kejam.
Kini terbujurlah temannya itu yang pernah membuatnya mengira akan menjadi pasangan hidupnya di kemudian hari tetapi meninggalkannya untuk menikahi seorang perempuan terhormat di kota Niang. Lelaki yang kemudian di anggapnya pengkhianat karena ternyata adik dari seorang raja yang sangat di bencinya.
__ADS_1
Xue Xue menepuk bahu selir Huan perlahan.
"Kamu kehilangan seorang teman, tetapi aku kehilangan seorang kakak. Dulu, aku berpisah dengannya dalam masa kanak-kanak, kemudian bertemu saat dewasa tetapi kemudian langit mengambilnya dengan cepat. Aku tak perlu menceritakan padamu bagaimana rasa kehilangan orang yang di sayangi, karena kamu mungkin juga tahu rasanya." Bisik Xue Xue, dia sudah tak punya air mata lagi untuk di usap.
Dia tak punya kekuatan menguatkan orang lain karena dia sendiripun sekarang sangat memerlukan tempat untuk bersandar.
Seraut Wajah Zhao Juren berkelebat di benaknya, lelaki itu, dalam tatapan dingin dan teduhnya terasa menjadi sumber kehangatan yang aneh. Memikirkan Zhao Juren, memberinya kekuatan untuk tetap bertahan di dalam seribu kemelut yang kini di tanggungnya.
"Kakak Yuhuai mungkin telah bertemu ibunda yang selalu di rindukannya. Mungkin sekarang dia tahu kenapa ibunda memilih membesarkannya di Beiyu dari pada di istana." Ucap Xue Xue parau.
...***...
Setelah berjalan amat lama, Zhao Juren bersama Changyi tiba di depan kedai mie di mana ia makan terakhir kali dia meninggalkan kota raja Nanxing menuju kota Yichen. Tak di nyana, mereka masih buka, hanya saja tak ada tamu, lelaki pemilik kedai duduk di kursi, terkantuk-kantuk. Perang dan masa berkabung benar-benar membuat kota yang meriah itu nyaris mati suri.
Dalam pakaian hitamnya, Zhao Juren terlihat lebih kurus. Berpekan-pekan dia berada di dalam kuil suci kota Yichen bersama seorang rahib tua, dan sekarang dia di panggil Nan Luoxia kembali lewat sebuah pesan rahasia. Dia merasa perjalanannya tak sia-sia, segenggam rahasia yang dipegangnya akan mengembalikannya pada Yanzhie suatu saat nanti.
"Tuan...apakah kedai ini masih buka?" Tegur Zhao Juren.
Melihat Zhao Juren dan pemuda dengan pakaian lusuh tetapi terlihat riang itu masuk, untuk sesaat ia tertegun, lalu tiba-tiba melompat bangkit, ia memperhatikannya dengan seksama selama beberapa saat, mengelap bangku untuknya, lalu menyeretnya dengan suara berderit untuk tempat duduknya.
Istri pemilik kedai yang dahulu masih sama, tubuhnya yang tambun itu begitu serasi dengan perawakan sang suami. Wajahnya bulatnya berseri-seri, pandangan matanya tak terfokus, namun sambil tersenyum ramah, ia berkata, "Tuan berdua sudah lama sekali tak datang, tuan mau makan mie panjang umur lagi?".
Zhao Juren agak tertegun, lalu bertanya, "Kau masih ingat aku?"
__ADS_1