CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 107. Mengantar Sampai akhir


__ADS_3

Pada hari Raya pekan terakhir musim dingin, sepekan telah berlalu sejak Yang Mulia Nan Chen di kabarkan meninggal dunia, kota Nanxing begitu muram dari ujung ke ujung.


Rakyat di sebagian wilayah menderita karena bencana dingin yang tak biasa, di wilayah lain setelah serangan pasukan Yanzhi di bawah pimpinan Qian Ren meninggalkan jejak penderitaan.


Meski pasukan Yu milik Qian Ren tiba-tiba di tarik mundur dua hari yang lalu, tetap saja kekacauan yang terjadi menyisakan banyak kesengsaraan bagi rakyat tak berdosa. Tak ada perang yang tidak meninggalkan penderitaan.


Niangxi yang congkak dan kaya raya itu mengalami keterpurukan yang luar biasa.


Perdana menteri Yang Liujun terlihat begitu berduka, dia bahkan hendak mengambil alih memimpin pemakaman tetapi paman raja, adik dari raja terdahulu, Nan Feng dari lain ibu tiba-tiba muncul dan mewalikan upacara.


Nan Feng memilih tinggal di luar istana, sejak kakaknya mangkat, memimpin sebuah padepokan yang juga tempat para tabib menimba ilmu mengenai medis. Nan Feng tak berambisi pada kekuasaan kecuali ketertarikannya pada ilmu kesehatan.


Sekarang tiba-tiba dia muncul dan membuat gusar perdana Menteri Yang Liujun.


Nasib ratu Lin Fangyin sungguh nelangsa, setelah penikamannya pada raja, dia di jebloskan ke penjara bawah tanah yang paling dingin.


Sang adik Lin Hongse, di tahan di kediamannya bersama keluarga dan orangtuanya, tak bisa keluar istana sementara Lin Fangyin belum di jatuhi hukuman negara.


Hukuman itu hanya akan di berikan oleh raja selanjutnya yang menggantikan raja Nan Chen.


Nan Luoxia berulang kali mengirim bawahannya untuk membujuk Bai Yueyin untuk kembali ke istana Bidadari sekedar menawar hati perempuan ini tetapi pengawal setianya itu tak mau pergi dari samping peti batu raja yang telah di tutup tanpa boleh di buka lagi atas perintah Xue Xue alias Nan Luoxia.


"Pergilah ke istana Bidadari, kamu akan jauh lebih tenang di sana." Ucap Xue Xue saat dia tiba kembali pada hari ke delapan di kuil kerajaan yang entah mengapa di jaga begitu ketat oleh banyak perempuan berpakaian putih dan kepala yang di ikat kain hitam, mereka jelas bukan dayang-dayang istana.

__ADS_1


Rumor beredar, adik raja, Puteri Nan Luoxia memerintah secara khusus seratus pasukan bidadari miliknya untuk menjaga jasad raja yang di simpan dalam peti batu bertatah giok itu.


Tak ada yang boleh mendekatinya, sampai waktu raja di makamkan pada hari ke sembilan sesuai aturan istana.


Dan tentu saja yang bukan kerabat dekat raja seperti tradisi Niang, tak satupun yang boleh menyentuh jasad raja. Selir-selirnya sekalipun tak di ijinkan menyentuhnya kecuali memberi penghormatan dari jauh.


Sesuai tradisi Niangxi, meski raja beristri seribu, tetap saja hanya istri utamanya saja yang boleh menyentuh jasad raja. Sementara saat ini, yang membunuh raja adalah permaisurinya maka tak ada yang bisa mendekati peti batu itu kecuali adik-adik raja dari permaisuri utama saja.


Nan Chen memiliki dua adik dari permaisuri utama raja terdahulu, Nan Yuhuai dan Nan Luoxia, otomatis kedua orang itulah yang mengurus jasad kakaknya.


Tetapi sampai hari ke delapan Nan Yuhuai tak pernah muncul di kuil tempat jasad raja di semayamkan. Nan Luoxia telah datang ke istana kakaknya itu dan Nan Yuhuai tak mau keluar dari kamarnya, dia mengurung diri dalam kesedihan yang tak seorangpun tahu mengapa dia begitu terluka oleh kematian kakaknya itu.


Semua orang tahu, dia tak dekat dengan sang raja sejak dia kembali dari pengasingannya di gunung.


Seorang bawahannya sendiri dari istana bidadari hendak menjemput Bai Yueyin dan membawanya pergi menuju danau lima warna namun ia berkeras untuk tetap tinggal, sebuah pikiran menahannya, membuat dirinya tak bisa dengan sembarangan pergi.


"Kenapa kamu menyiksa dirimu, Yueyin? kakakku tak akan suka melihatmu begini." Xue Xue tak berkedip menatap Bai Yueyin.


"Tidak, aku tak akan pergi. Hingga dia di kuburkan. Aku akan menjaganya, selama ini aku telah meninggalkannya, dia akan bersedih jika aku pergi lagi." Jawab Bai Yueyin.


Di belakangnya, terdengar isakan halus, Xue Xue membalikkan badannya dan melihat selir Huan sesenggukan di balik kerudung putihnya, dia juga tak berhenti berada di sana.


"Yueyin, aku juga mempunyai kesedihan yang sama denganmu atas kepergian kakak Chen tetapi aku tak bisa terus meratapinya, tak ada seorangpun yang mengurus istana ini jika aku terlarut dalam semua ini. Kakak Yuhuai bahkan tak lagi mau berbicara sepatah katapun padaku."

__ADS_1


Bai Yueyin menundukkan wajahnya, di pejamkannya mata menikmati suara tangis para selir raja jauh di belakangnya. Dia benar-benar tak mau pergi dari tempat itu.


Kadang di tengah tidur Bai Yueyin saat bersandar di tiang kuil karena kelelahan bersimpuh dalam sesal, ia bermimpi hingga dahinya basah kuyup penuh keringat dingin, Nan Chen sudah pergi, membawa pergi seluruh tari dan nyanyi dari istana Nan miliknya, istana yang begitu besar itu, uang biasanya selalu riuh oleh tabuh dan kecapi, oleh dayu suara xiao dan nyanyian kini tenggelam dalam sebuah kesunyian yang amat panjang.


Dia menangis, ketika berjalan di lorong yang tanpa ujung, ia bahkan merasa bisa mendengar detak jantungnya sendiri karena hening yang mencekam, suasana ini seakan selalu mengingatkan dirinya, bahwa ada seseorang yang sudah tiada, kekasih masa kecilnya yang ternyata di cintainya hingga mati itu dan dia selalu tenggelam dalam sesal bahwa ada beberapa hal yang belum dilakukan olehnya sebelum merelakan Nan Chen benar-benar pergi.


Di sepanjang lorong istana menuju taman besar pada sayap aula pelatihan pangeran adalah jalan yang dijalaninya bersama Nan Chen kecil, dalam ingatannya Nan Chen menarik tangannya saat masih kanak-kanak, berlari seakan gila di istana Nan, melewati Istana Harem yang selalu ramai, melewati Taman Bunga Niang, melewati jembatan kolam ikan raja dan sampai di hutan kecil bunga persik utara istana, lalu keluar dari gerbang istana utara.


Nan Chen membawa mereka berdua menaiki seekor kuda remaja miliknya, Nan Chen yang baru berusia sembilan atau sepuluh tahun itu duduk di depan dirinya, sambil tertawa menunjukkan jalan padanya, seringkali, ia berpaling dan mengolok-olok para pengawal yang seperti cacing kepanasan mengejar kuda mereka.


Nan Chen yang tampan selalu tersenyum dalam keusilannya, dia bahkan sudah suka menentang sejak dahulu.


Dalam sekejap mata, semuanya masih sama, namun manusia telah berubah, semua sudah berubah, bahkan kini Nan Chen sudah menghilang, hanya bersisa jasad tak bernyawa. Dan tragisnya, perempuan yang dinikahinya demi tahta yang di wariskan padanyalah yang mengambil selembar nyawanya.


"Yang Mulia aku tak akan pergi lagi..." Bisiknya, sembari mengatupkan bibirnya yang gemetar.


"Tuan puteri..." seorang pengawal berwajah tirus dan kulitnya pucat itu tiba dengan tergopoh-gopoh lalu membungkuk dengan pias gugup dan ketakutan.


"Tolonglah tuan puteri Luoxia..."



YANG MULIA NAN CHEN

__ADS_1


(jgn lupa dukungannya yaaaa🙏☺️ biar author tmbh semangat nulis☺️ i luv u all)


__ADS_2