
Sang mentari sedikit demi sedikit naik ke angkasa melewati batas langit, lalu sedikit demi sedikit tenggelam di ufuk barat yang semerah darah.
Musim dingin yang aneh, malam ini tak ada tanda-tanda akan turun salju. Bulan merah yang dingin merayap naik ke pucuk wutong tua, memancarkan sinar putih keperakan, pasir dalam jam pasir terus mengalir , persis seperti kehidupan dalam raga itu, yang perlahan-lahan seolah akan diambil pergi.
Sebuah tangis tersedu-sedan mendadak terdengar dari mulut selir Huan yang duduk di sebelah seorang tabib tua berambut perak keputihan.
Di balik tirai yang berkabut, sosok seorang wanita nampak seperti asap hitam, lalu mendadak tersungkur, di balik tenda yang tebal, pandangan matanya tak jelas, hanya melihat dengan samar-samar sebatang lilin merah bergoyang-goyang.
"Yueyin..." Suara itu terdengar samar memecah sunyi. Selir Huan terdiam sesaat, matanya bertemu pandang dengan tabib di sebelahnya, dia adalah asisten tabib yang ada di balik tirai di mana raja terbaring lemah setelah nyaris kehabisan darah.
"Yueyin."
Ketika tersadar, keadaan di sekelilingnya sunyi senyap, dalam keadaan linglung, ia mengira bahwa dirinya masih bermimpi, ia melihat wajah sang tabib dan hampir melompat ke balik tirai itu, memastikan apa yang dia dengar.
Setelah kejadian siang tadi, selir Huan satu-satunya yang berjaga bersama beberapa pengawal dan tiga orang tabib istana. Xue Xue keluar dan berusaha mencari kakaknya Nan Yuhuai.
Raja yang kritis di sembunyikan dari khalayak, supaya tidak membuat kegaduhan mengingat masa kacau seperti ini.
"Nyonya selir?" Seorang tabib keluar dari balik tirai.
"Mungkin Yang Mulia sedang memanggilmu." Ucapnya sambil membungkuk, air muka tabib ini suram mendadak berubah menjadi sedih, ia menunduk tanpa berkata apa-apa, lalu setelah melihat selir Huan tak merespon dua berkata dengan pelan, "Yang Mulia mungkin hendak bertemu denganmu".
Selir Huan tak menunggu dua kali, dia tak perduli bukan namanya yang di panggil tetapi dia senang Yang Mulia Nan Chen akhirnya sadar.
Aula peristirahatan raja telah berubah menjadi amat tenang, sunyi senyap, dengan gugup Selir Huan melangkah masuk, menembus kelambu dan tirai yang berlapis-lapis, melangkah sampai ke hadapan ranjang naga di mana Yang Mulia Nan Chen terbaring lemah.
Dengan samar-samar ia merasa dingin menjalari hingga sumsumnya, seakan dirinya akan melebur dalam aula pribadi raja yang sepi ini.
__ADS_1
Di atas tempat tidur naganya, Yang Mulia Nan Chen tak membuka matanya. Bibirnya kering dan pucat.
"Yang Mulia"
Ia berlutut di sisi ranjang, jari-jemarinya sedingin es, dengan perlahan ia menjulurkan tangannya, ujung-ujung jarinya pun menyentuh lengannya, namun setelah itu mundur, ia merasa bahwa tubuhnya dibandingkan tubuhnya sendiri sangat dingin, bagai salju di Yoowu yang sepanjang musim dingin tak meleleh, bagai gletser yang tak berubah sepanjang masa.
.
Tabib yang memegang pergelangan tangan Yang Mulia Nan Chen karena memeriksa nadinya, segera melepaskan tangan Yang Mulia dan mundur. Tak ada yang tahu, selir muda ini adalah kesayangan raja.
"Yang Mulia ini aku Huan'er..." Bisiknya parau, napas selir Huan begitu pelan, suaranya bagai sayap kupu-kupu yang dalam sekejap mata akan terbang pergi.
"Aku datang melihatmu, bisakah kamu membuka matamu, Yang Mulia..." Selir Huan berucap gemetar. Dulu, dia bermimpi membunuh orang ini tetapi sekarang bahkan melihatnya terbaring sekarat membuat hatinya menggigil begitu sakit.
Bulu mata Yang Mulia Nan Chen agak bergerak-gerak, setelah itu ia membuka matanya, pandangan matanya perlahan-lahan terfokus, tanpa berkata apa-apa, ia memandangi selir Huan memastikan siapa kini yang menggenggam tangannya.
Ada kelebat kecewa yang lewat di tatapan nanarnya, ketika menyadari siapa yang sedang bersimpuh di pinggir tempat tidurnya, bukan yang di carinya.
Sinar matanya begitu tenang, seakan dengan samar-samar menyimpan begitu banyak hal, dengan susah payah, ia mengangsurkan tangannya, setelah itu, sambil tersenyum hambar, ia berkata dengan lirih, "Kamu...."
"Yang Mulia, apakah engkau baik-baik saja?"
"Huan'er. Aku masih hidup?"
Air mata Selir Huan bercucuran dari rongga matanya, dengan perlahan ia mengenggam tangan sang raja:. Rasa duka mencekik tenggorokan Selir Huan ia tersedu-sedan, tak kuasa bersuara.
Dahi Yang Mulia Nan Chen berkerut, ia menjulurkan jari tangannya, lalu dengan lembut menyeka pipi Selir Huan yang sedingin es, setelah itu, ia berkata sembari tersenyum samar.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?"
Air mata Selir Huan jatuh berderai-derai, ujung-ujung jarinya mengandung rasa duka yang amat dingin, " Aku takut Yang Mulia..." Isak selir Huan.
Yang Mulia Nan Chen mendadak tertawa, ia berbaring terlentang di ranjang, memandangi atap ranjang yang penuh pola hias yang rumit, di atasnya disulam tulisan berukir ‘Chángshòu’ dengan huruf-huruf kuno, sebuah doa panjang umur buat sang raja.
"Apa yang kamu takutkan? Aku baru tahu rasanya lega..."
"Ampuni aku Yang Mulia, seharusnya aku lebih cepat datang padamu..." Selir Huan terisak.
"Huanjingku yang malang..." Suaranya tenang dan kalem, sama sekali tak mengandung amarah, dengan tenang ia berkata, "Bagaimana bisa menyalahkanmu, dia itu ratuku, siapa....."
Tiba-tiba, ia terengah-engah dengan hebat, suaranya lemah dan tak berdaya, selir ahuab terpana, dia hendak mencari tabib, namun tangannya dicengkeram erat-erat oleh Yang Mulia Nan Chen, tenaga di pergelangan tangannya begitu kuat, hampir tak dapat dibayangkan bahwa orang ini sedang terluka parah.
“Siapa, siapa yang dapat menyangkanya, Huan? Jangan salahkan dirimu untuk apa yang terjadi..."Helaan nafas itu menghempas berat
Angin malam menerobos lengkungan-lengkungan atap, meniup telinga patung binatang penjaga atap yang terbuka, menimbulkan suara mengaung, di kejauhan, terdengar suara tangisan tertahan para wanita istana, suaranya dengan amat sayup-sayup melayang ke arah mereka. Itu tangisan para selir raja yang jumlahnya puluhan.
"Huan, mendekatlah kemari, ada yang ingin ku katakan padamu...". Yang Mulia melambaikan tangannya yang lemah.
Dengan patuh selir Huan mendekat, ketika tangan Yang Mulia meraih lehernya hingga wajah mereka begitu dekat. Deru nafas Yang Mulia menyembur di kulitnya. Mungkin jarak mereka sejengkal.
"Aku hanya ingin kamu tahu, aku tak pernah menyentuhmu malam itu, kita hanya mabuk. Jadi jangan takut lagi jika aku pergi." Bisiknya di cuping telinga selir Huan.
Selir Huan terpana, wajahnya yang sembab itu merah merona, bagai sehelai daun yang berpusar-pusar, dengan sekuat tenaga, ia mengenggam mengepalkan tangannya.
Yang Mulia Nan Chen memandanginya beberapa lama nafasnya semakin terengah, lalu mendadak tersenyum dengan lemah, senyum itu mendadak bagai sebuah pusut yang menusuk hati Huan'er, dirinya entah mengapa begitu terpukul, air matanya berlinangan di pipinya, lalu mengalir masuk ke dalam mulutnya, rasanya pahit tak tertahankan.
__ADS_1
"Maukah kamu melakukan sesuatu untukku?" Tanyanya lembut dan samar. Selir Huan mengangguk, mulutnya terkatup menahan tangisnya. Jiwanya terluka, selama ini mengira raja ini telah menidurinya saat dia tak sadar. Tetapi, kenyataannya? Selir Huan bingung kenapa sekarang dia merasa kecewa jika ternyata malam itu tak terjadi apa-apa.
"Panggilkan Nan Luoxia kemari, katakan bawa serta Yueyinku..."