
Dahinya mendadak berkerut dalam-dalam, suaranya pun mengandung kebencian yang samar-samar, dengan susah payah, ia mengucapkan beberapa kata itu dari sela-sela giginya, "Menurutmu, apakah aku pantas menyandang status sebagai raja?"
Selir Huan diam seribu bahasa, dia tak berani berbicara, keringat dingin sebesar biji kacang seperti halnya air mata yang juga turun tak terbendung di pipinya.
"Aku bukan raja, Huanjin. Aku hanya seorang pengecut yang berpura-pura menjadi raja." Rahang Yang Mulia Nan Chen mengeras.
Prang!
Cawan arak pecah menjadi dua, serpihan porselen yang tajam menusuk daging telapak tangannya,
diantara telunjuk dan ibu jarinya, darah segar mengucur perlahan, kental dan semerah houyun.
"Yang Mulia..." Selir Huan menangkap jemari raja yang kini wajahnya lebih beku dari es dari utara Yanzhi itu.
Dengan ketakutan di bukanya telapak tangan Yang Mulia Nan Chen, membuang sisa serpihan porselen yang pecah itu dan tanpa diminta membersihkan darah yang mengucur dari sela jemari Yang Mulia Nan Chen dengan bajunya sendiri hingga gaun yang dikenakannya itu penuh dengan noda darah.
Selir Huan mendadak teringat, banyak tahun yang lalu, di wisma keluarga Jiu, di bawah pohon wutong di sebuah malam musim gugur, kakaknya yang umurnya sama dengan sang raja terbaring dengan menggengam mata pedang, sementara ujungnya menusuk dadanya. Kakaknya yang selalu lembut padanya, menatapnya dengan nanar seakan mengusirnya pergi menjauh, darah yang mengucur deras dari dadanya itu lebih merah dari bunga haitang.
"Jangan...jangan lakukan ini, Yang Mulia..." suaranya setengah berbisik, dia ketakutan bukan alang kepalang, warna merah itu menerbitkan trauma di jiwanya.
__ADS_1
"Huanjin? Namamu Huanjin bukan? Gadis kecil yang hilang 12 tahun yang lalu dari pembantaian keluarga Jiu?" Senyum itu terlihat sanar di bibir Yang Mulia Nan, dia membiarkan perempuan cantik yang pucat pasi dalam wajah sembab itu membersihkan lukanya, entah berapa kali dia telah merobek gaunnya untuk membalut lukanya.
"Yang Mulia, silahkan membunuhku setelah ini. Aku rela. Aku sudah tak punya dendam lagi..." Sahut Selir Huan sambil melepaskan tangan Yang Mulia Nan Chen.
Dengan samar-samar, di sebuah sudut yang diselimuti debu, angin dengan pelan meniup gelombang waktu, waktu berbalik ke bertahun-tahun yang lalu, suara tangisannya sendiri menggema dalam benaknya bagai angin sepoi-sepoi musim gugur, membuyarkan kabut tebal yang tak putus-putusnya di istana yang dingin dan sepi itu.
"Mungkin, keluarga Jiu memang tak di takdirkan hidup di dunia lebih lama. Hingga tak ada keturunan Jiu yang berdiri di bawah langit setelah ini. Tak apa, setidaknya aku telah berusaha..." Air matanya yang sempat terhenti jatuh itu, kembali meleleh. Dia terlihat lelah jiwa dan raga, telah berperang dengan hatinya sendiri seakan mendobrak kediaman raja yang suram dan sulit diukur ini.
"Huanjin, sekarang kamu adalah selirku. Dirimu sendiri yang melempar dirimu ke dalam neraka ini, menjadi bagian dari istana ini adalah kematian. Lalu untuk apa aku membunuhmu lagi?" Yang Mulia Nan Chen tertawa kecil. Tak ada lagi kesakitan diperlihatkan oleh wajahnya dari berapa mata luka yang merobek kulitnya malam ini.
"Aku...aku..." Selir Huan tak bisa menahan tangis yang di tahannya dari tadi, dia tersungkur di lantai, suara sedu terdengar memecah sunyi.
Yang Mulia Nan Chen meraih tubuh selir Huan, di peluknya erat seperti dua orang sepenanggungan.
Pertama kali dalam hidup selir Huan menangis di pelukan seseorang dengan begitu lepasnya. Di dada seseorang yang di bencinya seumur-umur tetapi malah merasakan kedamaian aneh di suatu titik. Di tempat yang tak di sangka-sangkanya, pelukan seorang raja.
...***...
Sinar malam bagai air, cahaya dan bayangan yang pekat di siang hari sedikit demi sedikit menghilang, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jernih dan terang, bulan dingin bagai bunga es, permukaan tanah mendadak menjadi dingin, di penghujung musim gugur menuju musim dingin, setiap orang merasakan hawa dingin mulai menyapa, seakan mengais tangan para perempuan untuk membuatkan mantel untuk anak-anaknya.
__ADS_1
Otot justru terasa agak lemas menyelimuti tulang, angin merayap naik dari punggung dan merasuk hingga akhirnya menembus perasaan, menciftakan hampa menumbuhkan rasa sedih yang amat sangat.
Pagi merayap, membuat selir Huan menggeliat saat sinarnya menembus masuk ke matanya. Ketika dia berhasil membuka matanya, dia terpana sambil meraih kain jubahnya yang robek-robek akibat di cabiknya sendiri untuk membalut luka raja. Sebagian dadanya terhampar polos di terpa angin dingin pagi tapi sebagian lagi di tutup selimut wol lembut, menyusup lewat koyakannya.
Dan di sebelahnya di atas pembaringan besar itu terbaring Yang Mulia Nan Chen yang terlihat tertidur nyenyak, wajahnya merah segar, wajahnya lurus ke arah langit-langit kamar yang tinggi tepat di sebelahnya.
Yang Mulia Nan Chen sudah minum banyak arak bersamanya setelah Yang Mulia menenangkan tangisannya hampir semalaman, seingat selir Huan hanya itu yang terjadi tapi dia sungguh lupa jika dia kemudian mereka berdua tidur di satu ranjang!
Dengan gemetar Selir Huan melayangkan pandangannya pada sekeliling yang mulai diliputi cahaya matahari, di atas meja eboni terdapat beberapa bercak air berbau wangi arak, di bawah cahaya matahari nampak berkilauan.
Tetapi bukan itu yang membuatnya hampir pingsan, di atas kain wol yang menyelimutinya di bawah perut itu ada bercak lain yang bukan air tetapi darah! Bercak darah merah yang mengering, meninggalkan noda tak seberapa tetapi membuat Selir Huan nyaris terpekik dan menutup mulutnya.
"Apa yang telah terjadi?" Bibirnya berdecak, dengan gigi bertaut.
Di atas sana ada serenceng genta angin yang berdenting di tiup angin, Udara musim gugur sejuk, suara genta merdu, sangat enak didengar tetapi dada selir Huan bergemuruh seperti di hantam gelombang.
"Hmmm..." Sebuah suara yang rapuh perlahan-lahan terdengar ketika Yang Mulia Nan Chen bergerak sedikit, wajahnya setenang pagi.
Dengan pelahan, Selir Huan menjulurkan jarinya, dengan gemetar memindahkan tangan Yang Mulia Nan Chen dari atas perutnya.
__ADS_1
"Apa yang telah kita lakukan?" Bisiknya parau, tertahan di tenggorokannya sendiri.
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ.