
"Angkat wajahmu, Jenderal Zhao . Jangan memepermalukan dirimu dengan menunduk di depan seorang perempuan..."
Zhao Juren terpana dan tanpa perlu benar-benar mengangkat wajahnya tinggi dia sudah bertatapan dengan Nan Luoxia. Jika dia berdiri tegak maka tubuhnya jauh lebih tinggi dari perempuan di depannya.
"Kenapa kamu tak pergi? Bukankah aku mengatakan padamu untuk tidak mencariku?" Suara ini dalah suara Xue Xue. Puteri Nan Luoxia telah meninggalkan sikap formalnya. Suara jelas dan tegas, Xue Xue yang sangat di kenal Zhao Juren.
"Xue Xue..." Zhao Juren tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat mendengar namanya di panggil.
"Jangan senang dulu, aku tak yakin kamu tak di hukum berat dengan perbuatanmu menyusup ke istana Harem Nan. Jika Yang Mulia tahu. Ini pelanggaran besar. Laki-laki yang bukan anggota keluarga raja tak boleh menginjakkan kaki ke lingkungan harem. Kecuali pengawal-pengawal khusus yang di tunjuk raja." Xue Xue mengernyit alisnya yang tertata rapi dan hitam itu. Mata bulatnya terpicing seakan mengancam perbuatan Zhao Juren.
"Maafkan aku." Zhao Juren berucap, meski permintaan maafnya itu sama sekali tanpa penyesalan. Sudut bibirnya yang tertarik itu membuat garis senyum. Kontras dengan ucapannya.
"Di Yanzhi pun aku yakin, peraturan seperti ini sama." Xue Xue dalam rupa puteri itu mencondongkan wajahnya.
"Selama raja tak tahu, tentu saja ini tak berbahaya sama sekali." Pungkas Zhao Juren. Jiwa jendralnya menguat entah kemana ketika berhadapan dengan Xue Xue.
"Aku bisa saja melaporkanmu!"
"Aku yakin kamu tak akan melakukannya." Zhao Juren menjawab santai sambil menyingsingkan lengan bajunya yang lebar itu.
"Kenapa tidak? bagaimana kamu bisa yakin aku tak akan mengadukanmu kepada kakakku?"
"Karena aku tahu kamu adalah Xue Xue."
"Bagaimana kamu tahu jika Xue Xue adalah aku?"
"Aku sudah tahu dari saat pertama aku melihatmu malam itu turun dari kereta di depan aula kota. Puteri Nan Luoxia itu adalah kamu."
"Kamu kira jika Xue Xue tak akan berani melakukannya? Aku jelas-jelas tak pernah mengasihani orang di dunia ini."
"Aku yakin, Xue Xue tak akan menyia-nyiakan tiga bulan merawatku dalam kamarnya hanya untuk menyerahkanku pada kakaknya untuk di gantung."
Xue Xue tak bisa menahan tawanya, mendengar kalimat yang di ucapkan Zhao Juren.
__ADS_1
"Keyakinan macam apa yang goyah hanya karena aku menggertakmu sedikit? Bahkan aku bisa melihat sorot matamu yang ragu saat aku mengatakan aku adalah puteri Nan Luoxia."
"Aku hanya ingin melihat sampai mana kamu berusaha mengelabuiku. Tapi apa bedanya, kamu puteri Nan Luoxia atau Xue Xue, toh aku tahu benar kamu orang yang sama meski memiliki seribu wajah." Sahut Zhao Juren, puas.
"Omong kosong!" Xue Xue alias Nan Luoxia itu tak bisa menahan gelinya melihat Zhao Juren yang salah tingkah.
"Aku hanya tahu, mata itu hanya di miliki olehmu, dan alam bawah sadarku selalu mengingatnya bahkan aroma persik istana Tianshi ini membuatku tak bisa melupakanmu." Kalimat selanjutnya itu tak pernah terucap dari bibir Zhao Juren. Dia hanya tersenyum kecil. Tak menyangka hatinya sesenang ini saat berhadapan dengan Xue Xue.
"Aku mengakui keberanianmu untuk masuk ke dalam istana Nan, terlebih memasuki lingkungan istana Harem raja yang terlarang ini. Aku harap keberanian seperti ini mempunyai alasan karena jika kamu salah bertaruh maka...."
"Maka kepalaku tak akan berada di leherku lagi." Sahut Zhao Juren cepat, Xue Xue mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba untuk tidak tersenyum. Matanya memandang Zhao Juren dari atas sampai bawah. Dia benar-benar merasa geli dengan penampilan Zhao Juren dalam pakaian pelayan itu.
"Kenapa kamu menatapku begitu?" Zhao Juren yang canggung berusaha terlihat gagah. Baru kali ini dia merasa begitu salah tingkah di depan perempuan.
"Baru kali ini seorang jenderal berpakaian wanita." Akhirnya Xue Xue tergelak juga.
Zhao Juren tak menanggapi, meskipun sebenarnya dia malu luar biasa. Di rutukinya si Changyi itu, dia telah membuat harga dirinya jatuh di depan seorang perempuan yang diam-diam menarik perhatiannya beberapa waktu terakhir.
"Aku sudah bilang, jangan mencariku. Malam itu aku susah payah mengantarmu yang mabuk arak kembali ke penginapanmu. Untung saja pemilik penginapan mengenalimu saat aku menyeretmu dari pinggir sungai itu."
"Menyeretku? " Zhao Juren melotot membayangkan tubuhnya di seret-seret dalam keadaan mabuk berat.
"Ya, begitulah." Xue Xue tersenyum senang melihat muka masam Zhao Juren.
"Memangnya kamu berharap aku menggendongmu? Badanmu itu lebih besar dari aku, jadi aku terpaksa menyeretmu."
Zhao Juren manggut-manggut, dia tak yakin dengan jawaban Xue Xue.
"Tapi aku lebih suka kamu berpenampilan seperti ini, terlihat lebih feminim dan menarik dari pada bersikap garang dan berteriak-teriak menantang berkelahi sambil mengacungkan pedang." Xue Xue menyeringai.
Zhao Juren mengangkat bahunya sedikit, mereka berbicara dengan berdiri tanpa penghalang berhadapan sedari tadi, bagaikan teman lama yang sedang merindu bertemu, mengacuhkan sup sirip hiu yang mulai dingin dalam mangkok porselen.
"Aku juga menyukai penampilanmu yang sekarang, tidak kasar dan selalu melotot kesal. Atau tampak galak dan dingin, membuat laki-laki kehilangan nyali untuk berhadapan denganmu." Zhao Juren membalas tatapan Xue Xue, hal ini membuatnya gadis itu memerah.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu utama, membuyarkan obrolan dua orang itu,
"Yang Mulia Tuan Puteri..." Nona Bai Yueyin membuka pintu sambil melirik halus pada Zhao Juren yang segera bertingkah menjadi pelayan Ju'er yang pemalu.
"Ada apa?" Xue Xue juga menegakkan badannya, bersikap sebagai Nan Luoxia yang anggun.
"Yang Mulia mengirim pesan jika Yang Mulia akan hadir di acara Perjamuan istana Harem, Yang Mulia Nan minta Yang Mulia Puteri hadir juga."
"Kenapa aku harus hadir? bukankah aku tak wajib hadir? Ini adalah perjamuan yang wajib di hadiri para istrinya bukan? Aku tahun kemarin tidak mengikutinya, bukankah tak masalah?"
"Tuan Puteri, Yang Mulia hanya berpesan seperti itu. Puteri-puteri yang lain juga di minta hadir, Yang Mulia ingin mengumumkan sesuatu di perjamuan istana Harem."
"Oh, ya? Sepenting apa?"
"Tuan Puteri, saya rasa kita tidak harus mempertanyakannya. Yang Mulia raja Nan tak menyukai banyak perdebatan."
"Kalau begitu, siapkan bajuku yang terbaik, dan jangan lupa kamu juga hadir mendampingiku, Yueyin. Malam ini aku ingin kamu mengenakan pakaian yang lebih cerah bukan selalu mengenakan baju gelap seperti itu."
"Tapi..."
"Aku juga seperti kakakku, kami tak suka di bantah." Xue Xue tertawa kecil tetapi sempat-sempatnya melirik pada Zhao Juren yang membungkuk dalam-dalam di sudut ruangan.
"Apakah kakak Yuhuai akan hadir juga?" Tanyanya sedikit penasaran.
"Saya tak tahu tentang itu" Jawab Yueyin pendek.
"Bolehkah aku membawa pelayan ini juga?" Tiba-tiba Xue Xue menunjuk ke arah Zhao Juren yang seketika tertegun. Dia merasa kakinya menjadi tegang.
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏
...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...
__ADS_1