CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab 27. Ikan Bakar Guo dan Saus Releng


__ADS_3

"Bagaimana kamu tahu aku bukan penyusup politik?" Tanya Zhao Juren sambil mulai mengambil sumpit.


"Penyusup politik pasti berpakaian mencolok, mereka menggunakan kuda. Jarang sekali mereka mau menyusuri desa di pinggir sungai ini dengan berjalan kaki. Mereka hampir tak pernah berbicara dan tak akan menanggapi apapun. Dan tentu saja, mereka terlihat ramah dengan di buat-buat, mulut mereka berbicara tetapi mata mereka waspada, berputar seperti elang ketakutan." Pemilik kedai itu berkata panjang lebar dalam nada bicara yang rendah.


"Dan tentu saja, mereka tak akan menggunakan bahan pakaian dari negeri musuh atau meniru modelnya saja. Mereka menggunakan semua atribut orang lain dan terlihat canggung. Aku sudah hidup setengah abad di kampung ini, tak ada yang terlewati mataku." Si pemilik kedai menegakkan kembali punggungnya.


Lalu matanya yang sipit itu semakin sipit ketika melihat Zhao Juren mengerjap matanya dengan takjup ketika potongan ikan berbalur saus warna coklat muda keperakan itu masuk ke dalam mulutnya.


"Astaga...ini benar-benar luar biasa tuan, cita rasa ini sungguh unik..." Zhao Juren mengecapkan lidahnya dengan raut takjubnya.


"Aku tak berbohong bukan? Hanya orang-orang yang mengerti makanan yang tahu ini adalah masakan dari surga." Pemilik kedai itu berucap dengan puas melihat ekspresi Zhao Juren.


"Terimakasih tuan...tuan...?" Zhao Juren mengambil jamur jingu sambil menatap penuh tanya pada Pemilik kedai.


"Oh, aku? namaku Wang Shu, tuan. Orang-orang kerap memanggilku paman Wang."


"Aaaa...paman Wang, terimakasih telah membawaku ke surga." Zhao Juren mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


"Nama tuan kalau boleh aku tahu?" Tanya Paman Wang itu tiba-tiba. Sejenak Zhao Juren terdiam, tak menyangka akan di tanya nama, parasnya berubah beberapa jenak lalu menggedikkan bahunya.


"Orang-orang memanggilku dengan Lian...Lian Ju! Ya...namaku Lian Ju." Setelah sedikit ragu, Zhao Juren tampak bersemangat memperkenalkan diri. Entah kenapa nama itu terlintas begitu saja di kepalanya, bertepatan dengan wajah Xue Xue yang berkelebat di benaknya.

__ADS_1


"Lian? terdengar seperti nama dari selatan. Apakah anda masih ada hubungan kekerabatan dengan Niangxi?"


"Oh, ya...dulu, nenek dari nenek buyutku adalah orang Niang dan menikah dengan kakek dari kakek buyutku orang Yan." Sepertinya rasa pedas yang aneh dari ikan bakar guo berselimut saus releng ini membuat Zhao Juren begitu lancar berbohong. Alis Paman Wang naik tinggi, terlihat berusaha memahami silsilah yang di jabarkan Zhao Juren.


"Bagaimana bisa paman Wang membuat masakan seenak ini, bahkan masakan istanapun akan kalah rasa." Puji Zhao Juren sambil terus saja menikmati makananannya sembari berdecak.


Tawa paman Wang berkumandang riuh, perutnya bergerak-gerak, dia terlihat begitu senang dengan pujian Zhao Juren.


"Terimakasih tuan, sebenarnya nenek buyutku yang menciptakan saus releng ini, nenekku menikah dengan seorang nelayan dari distrik Yunan di Nanxing. Karena menikah dengan orang dari negara musuh adalah pelanggaran, mereka berdua tinggal di pinggir sungai ini, kemudian membuat kedai tempat pengembara singgah. Dua lidah berbeda menciptakan satu masakan sempurna, saus Releng ini perpaduan dari dua negara. Saus Releng asli sendiri terbuat dari cabai kering dari lereng Yanshan, bubuk cabai, merica Nanxing, cengkeh Liangsu, bawang putih, adas bintang, kapulaga hitam, adas, jahe, kayu manis, garam, dan gula. Bahan-bahan ini kemudian direbus dengan lemak daging sapi dan minyak sayur selama berjam-jam, sebelum dikemas dan dimasak. Rasanya panas pedas di lidah tetapi kemudian menjadi dingin dan kebas. Nenekku berkata semua kebijakan dari musim dingin Yanzhi dan kebaikan dari musim panas yang hangat Niangxi berpadu dalam saus Relengnya. Bukankah itu sangat luar biasa?"


Zhao Juren tak berkedip menatap kepada Paman Wang. Laki-laki setengah baya yang sederhana ini seperti seorang filsup yang menguraikan kalimat bijak dalam bentuk masakan. Apa yang di katakannya terdengar begitu luar biasa di telinga Zhao Juren.


"Sebenarnya..." Kepala paman Wang menunduk sesaat.


"Kenapa paman Wang menjadi begitu sedih?" Zhao Juren berhenti mengunyah melihat kabut yang menggantung di sudut mata yang berkerut itu.


"Aku kehilangan seorang putra demi perang itu. Dia menjadi prajurit Yu sebelas tahun yang lalu, dikirim ke perbatasan. Meninggalkan istrinya yang sedang mengandung tua. Dan kabar kematiannya tiba di malam yang sama saat cucuku di lahirkan ke dunia. Bagaimana mungkin aku mencintai kata perang setelah semua itu?"


Zhao Juren terperangah mendengar pernyataan dari Paman Wang. Bayangan peperangan yang pernah dipimpinnya seperti air yang menggelegak di kawah. Berlompatan begitu saja.


Dia adalah panglima yang berdiri di depan, tetapi dia tak tahu asal muasal prajurit yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Mereka hanya maju ketika dia memerintahkan dan menghunus pedang ketika dia memintanya. Begitu mudah selama ini dia mengatakan, mati sebagai prajurit di medan perang adalah mulia dan terhormat tetapi dia tak tahu nyawa mereka begitu berharga untuk keluarganya.


"Oh, maafkan aku. Maafkan aku jika telah mengungkit kedukaan paman Wang." Zhao Juren menggigit bibirnya.


"Akh, tidak apa-apa! Itu hanya kisah lama. Langit telah membawa putraku itu sebagai pahlawan Liangsu. Dia adalah prajurit yang berani." Sesaat kemudian raut itu kembali cerah, kalimat yang di ucapkannya itu seakan menghibur dirinya sendiri untuk kembali menegakkan kepala.


"Tuan Lian, makanlah lagi selagi hangat." Paman Wang mempersilahkan Zhao Juren kembali makan.


"Apakah Kampung ini selalu sesepi ini?" Zhao Juren mengalihkan pembicaraan.


"Tidak juga, Tuan. Biasanya cukup ramai, hanya saja..." Paman Wang menoleh pada luar kedai, beberapa orang lewat berlalu lalang hanya nelayan yang baru saja pulang dan beberapa perempuan yang membawa keranjang sayur dari arah hutan.


"Semua menuju kota Liangsu untuk bersembayang, gubernur Su Zhuo meneruskan perintah dari Yang Mulia Yan Yue, masa berkabung berakhir hari ini."


"Berkabung? Siapa yang meninggal?" Bibir Zhao Juren gemetar, seketika wajah Xiao Yi dan kerabat kerajaan lain melintas di kepalanya.


"Tuan benar-benar tidak tahu?"


"Tidak. Ada apa? Berkabung untuk siapa?"


"Jenderal Zhao Juren yang gugur di medan perang tiga bulan yang lalu. Dua hari lagi istana akan memakamnya."

__ADS_1


"Haaaah!?" Zhao Juren terperangah, dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa, mendengar upacara pemakaman yang akan dilaksanakan untuk dirinya.



__ADS_2