
Zhao Juren terpana, dia menarik tubuhnya dengan raut merona, nama itu tak banyak yang tahu. Tetapi, dia tak menyangka Changyi menyebutnya dengan entengnya.
"Apa yang kamu ketahui tentang rahib Hexiao?" Tanya Zhao Juren dengan hati-hati.
Changyi menggelengkan kepalanya, dan tersenyum misterius.
"Tak ada." Jawabnya tanpa dosa.
"Sebuah kitab di perpustakaan ayahku menulis tentang kota tua, ada seorang rahib yang menyimpan rahasia tentang dua negara. Rahib Ming. Dan dia menyerahkan rahasia terakhir itu sebelum meninggal pada muridnya Hexiao, sejak itu, empat puluh tahun yang lalu, rahib muda Hexiao tak pernah muncul ke keramaian. Itu yang ku baca." Changyi menyeringai.
"Selebihnya aku hanya penasaran saja." Dia menggedikkan bahunya.
"Kamu selalu saja mengekoriku ke mana saja. Apa yang kamu mau dariku?" Tanya Zhao Juren dengan curiga.
"Kita kan' teman, Tuan Lian. Anda sendiri yang mengikat kata itu padaku. Sejak dulu aku tak punya banyak teman, jika pun ada mereka pergi begitu saja. Sejak bertemu tuan, aku merasa kita cocok. Karena itu aku mengikuti anda. " Dia terkekeh dengan senangnya melihat alis Zhao Juren yang berkeriut masam.
"Dan..." Dia menyorongkan wajahnya mendekat ke arah Zhao Juren yang berdiri seperti patung itu.
"Aku tahu caranya bertemu rahib Hexiao." Bisiknya.
"Bagaimana kamu tahu?" Zhao Juren tak berkedip menatap Changyi, kepalanya sedang berputar memikirkan. Apakah Changyi ini mata-mata? kenapa dia seakan selalu mengawasinya? Tetapi jika dia musuh, kenapa di banyak waktu dia menolong Zhao Juren?
Apa yang dia tahu tentang Zhao Juren sebenarnya? Apakah hanya sebatas tuan Lian Ju yang berkelana ingin menemui puteri Niang, ataukah dia tahu lebih dari itu?
"Stt...Tuan, anda hanya perlu mengikuti sandiwaraku saja, itu akan membawa kita pada rahib Hexiao jika dia benar-benar masih hidup." Suara Changyi memecah sunyi.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Changyi?" Alis Zhao Juren naik tinggi.
"Tenang saja tuan, untuk yang ini anda tak perlu berdandan menjadi perempuan." Changyi tertawa kecil di bawah tatapan misterius lelaki muda berparas jenaka itu.
...***...
Musim dingin memasuki bulan pertama di Niangxi, negara di selatan ini lebih hangat, peralihan dari musim gugur ke musim dingin sama sekali tak terlalu kentara. Meski mungkin udara kadang menusuk tetapi tak sedingin di Negara utara, Yanzhi.
Bunga seruni sudah layu, kuntum-kuntum hitam bergantungan mati di ranting-ranting, di malam hari angin dingin meniupnya dan membuat tanah penuh gundukan bunga seruni tertutup gundukan salju. Tak nampak lagi kelopak keringnya berserakan ke mana-mana dan menari-nari.
Sungguh musim gugur benar-benat di tinggalkan, kesedihan mencengkam di perbatasan, saat pesan perang itu di kobarkan.
Xue Xue yang baru saja tiba di istana, tertidur kelelahan di serambinya. Saat berniat menemui sang kakak, Yang Mulia Nan Chen sedang tak berada di tempat.
Tanpa sadar dia sedang bermimpi, dengan samar-samar, sepasang kakinya masih menjejak padang belantara, matahari sangat merah, angin dari ujung langit datang mengarut bumi, dengan suara berdesir menggulung rerumputan di seluruh muka bumi, gelombang demi gelombang bergulung-gulung, bagai gelombang samudera yang kuning melayu. Senja di padang belantara.
Dan ketika dia berjalan di belakangnya, darah segar meresap ke tanah dan mekar menjadi bunga huoyun yang berwarna, merah, memberi noda pada hamparan salju hingga berbuih.
"Tuan Zhao..." Xue Xue berusaha mengulurkan tangannya, dia tak bisa menolak debar saat berhadapan dengan mantan panglima negara musuh itu.
Dalam setengah sadarnya ia mendengar suara tawa riang lelaki itu, sambil tersenyum dingin ia berkata, βApakah kita akan mati bersama?β
Xue Xue tertegun, dia bimbang dengan hatinya, tetapi setelah itu, dirinya justru berlari mengejar di belakangnya, sinar matahari yang panas memanggang menyinari sekujur tubuhnya, angin bertiup dengan tajam di telinganya, masa depan penuh harapan cemerlang berwarna kuning, persis seperti yang dibayangkannya beribu kali selama dia terombang-ambing dalam dunianya yang tak jelas ini.
"Apakah kita akan mati bersama?" Pertanyaan itu menggaung.
__ADS_1
Akan tetapi tepat ketika dirinya akan mengenggam tangannya, bumi dan langit dalam sekejap mata berubah menjadi pucat, salju lebat menyelimuti tanah yang di pijak, dan sekarang di tempat yang sama, kakaknya Nan Yuhuai dan Nan Chen berhadapan dengan wajah dingin berdiri di hadapannya, menjegal kakinya yang ingin mengejar Zhao Juren.
Di tangan mereka sepasang pedang berkilat, terhunus. Tatapan mereka menyedihkan, terperangkap dalam ketakutan, di belakang masing-masingnya nampak prajurit-prajurit Niangxi berbaju zirah hitam kelam yang tak terhitung banyaknya.
Bau kematian menyengat di udara,
"Nan Luoxia, pulanglah..." Pinta Nan Chen. Suaranya lamat-lamat. Di dadanya muncul satu titik noda merah lama-lama noda itu melebar dan menggenang seperi darah.
"Xue Lian, berlarilah! Berlarilah jauh-jauh..." Nan Yuhuai memegang gagang pedangnya dengan tangan seputih kapas. Dia tak menusukkan pedangnya tetapi Nan Chen berdarah begitu hebat.
Xue Xue berdiri gemetar, keringat dingin membasahi dahinya. Sekujur tubuh gemetar.
Dia mengangkat kepalanya, saat merasa jemari halus yang dingin di tengkuknya, melekat halus.
"Kakak!!!" Teriakannya menggema dan dia nyaris melompat dari tempatnya tertidur sebuah meja baca di kamarnya.
Seketika dia sadar, dia baru saja bermimpi buruk, tertidur sambil duduk karena kelelahan dalam perjalanannya dari Perbatasan Yanshan ke pusat kota raja. Satu hari satu malam tanpa istitahat menggebah kudanya.
" Tolonglah...Tolong Yang Mulia..." Itu selir Huan, wajahnya pucat pasi seperti kapas.
"Hah?!"
"Tolonglah Yang Mulia, sekarang!"
...***...
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ.