
Mata Bai Yueyin membasah, seperti telaga yang sembab,
"Aku mencintaimu..." Bisiknya parau sementara air mata segera turun dengan tanpa di sadarinya.
Sesungging senyum puas di bibir Yang Mulia Nan Chen, senyum bahagia yang tak terkatakan.
Kepingan-kepingan memori tersebar dan buyar seperti goresan di atas pasir yang di hempas gelombang tepian, lelaki yang penuh kemewahan dan terkenal flamboyan itu selapis demi selapis menanggalkan raga topengnya. Dia tak perlu bersembunyi lagi laksana pohon liu hijau zamrud yang indah di masa lalu itu, keindahan dan kemewahan, akhirnya meleleh menjadi kekeruhan dan kesepian.
Hidup memang penuh misteri, sesuatu yang terlihat belum tentu begitu kenyataannya, akhirnya malam lewat memantulkan sinar mentari pagi yang menyusup lewat celah tembok, meleleh dan seakan terburu-buru masuk ke dalam pemakaman di sisa malam.
Tiba-tiba, pintu gerbang istana terbuka, sinar matahari yang hangat tanpa terhalang menyinari tubuh Bai Yueyin, tempat di kejauhan yang baru saja di timpa cahaya, di depan pintu aula, halaman dipadati para menteri, pejabat istana dan wanita-wanita Istana Harem yang berlutut.
Nan Luoxia memandangnya, sinar matanya mengandung suatu pertanyaan yang gemetar.
"Kakak..." Dengan linglung, dirinya memandang tubuh yang seakan tertidur lelap dalam pelukan Bai Yueyin itu, sekujur tubuhnya lemas, akhirnya, dengan amat perlahan, ia pun mengangguk-angguk, "Kakakku telah pulang ke tempat yang di rindukannya -----".
Tangisan yang amat keras pun serentak mengema sampai ke langit ketujuh, di seluruh istana, di mana-mana terdengar raungan penuh duka, suara genta kematian yang amat panjang menembus kabut malam.
...***...
Di paviliun khusus istana provinsi Liangsu, tiba seorang perempuan dengan 5 orang pengawal berkuda, tanpa kavaleri dan pengawalan khusus.
__ADS_1
Tak ada yang menyangka itu adalah permaisuri Agung Xiao Yi. Tiga hari perjalanannya nyaris tanpa henti sama sekali tak menarik perhatian orang.
Permaisuri Xiao Yi dengan jubahnya yang berwarna ungu tua dan cadarnya, di dampingi seorang pengawal perempuan dari pasukan khusus Yue dan pengawal pribadinya Chen di subuh buta.
Di sana tak ada Yang Mulia Yan Yue seperti yang di harapkannya, raja itu sedang turun ke perbatasan, dia berencana masuk ke kota tua Yitchen.
"Yang Mulia..." Su Nuo membungkuk dalam-dalam dengan hormat, mantan selir Yan Yue yang di ceraikannya pertama kali di tahun-tahun awal pernikahannya dengan Xiao Yi menyambut permaisuri agung itu yang semula dikiranya hanyalah utusan biasa dari kota raja Yanbei.
"Apa kabarmu, kakak Nuo?" Permaisuri Agung Xiao Yi berjalan mendekat lalu meraih bahu Su Nuo untuk berdiri tegak dari sikap membungkuknya.
"Aku baik-baik saja, Yang Mulia..." Senyumnya merekah dan tulus. Gaun yang di kenakannya berwarna putih beras, nyaris tanpa ornamen, hanya ada beberapa lukisan bunga kecil di bagian dadanya, itupun tak kentara. Untuk ukuran puteri seorang gubernur Su Nuo tampil begitu sederhana.
"Aku minta maaf tak bisa menyabut selayaknya, seorang dayang baru memberitahu aku jika tamu yang tiba subuh ini adalah permaisuri agung dan mengatakan ingin bertemu denganku..." Ucap Su Nuo dengan penuh sesal.
"Menurut Ayahanda, Yang Mulia pergi dari istana gubernur dua hari yang lalu dan belum kembali. Saya akan mengabarkan kepada ayah tentang kedatangan Yang Mulia permaisuri..."
"Tidak, kak Nuo. Tuan Gubernur tak perlu tahu jika dalam rombongan ini ada aku. Cukup dia tahu hanya utusan dari kota raja. Aku berencana akan menyusul Yang Mulia menuju kota Yitchen." Xiao Yo menggelengkan kepalanya.
Su Nuo terpana, dia tak pernah menyangka perempuan yang pernah hampir di celakainya dengan racun itu bertahun yang lalu adalah perempuan yang tangguh bahkan lebih tangguh dari perkiraannya.
Xiao Yi, selir rendah yang dulu dipersembahkan oleh provinsi paling utara Yanzhie itu telah berdiri sebagai seorang permaisuri agung, dan kini memukaunya dengan selaksa keberanian yang mungkin tak di punyai perempuan bangsawan biasa, berkuda tiga hari dari istana Weiyan tanpa takut bahkan sekarang berdiri dengan sikap gagah dan berwibawa di istana kediamannya.
__ADS_1
Dulu, dia begitu membenci Xiao Yi yang di rumorkan penuh dengan sihir dan guna-guna dalam merebut hati Yang Mulia Yan Yue, tetapi kini dia menyadari Yang Mulia Yan Yue benar-benar telah memilih permaisuri yang tepat untuknya.
"Kakak Nuo..."
"Ya, Yang Mulia..."
"Jangan panggil aku Yang Mulia jika kita hanya berdua saja. Cukup panggil saja aku, adik Yi. Seperti dulu kamu pernah memanggilku di istana. "
Serta merta wajah Nuo menjadi merona karena sungkan, permintaan Xiao Yi terasa begitu sungkan baginya.
"Bisakah aku meminta tolong padamu, kakak Nuo?" Tanya Xiao Yi kemudian dengan tatapan lembut.
"Ya, Yang Mulia eh adik...apa saja, apa saja akan ku lakukan untuk membantumu."
"Aku ingin kamu menemaniku untuk menemui Yang Mulia Yan Yue di Yanshan."
Su Nuo tertegun, selama ini dia selalu menghindari pertemuan langsung dengan raja setelah Yang Mulia tinggal hampir sepekan lebih di istana Liangsu dalam mengatur peperangan merebut Yitchen dan menginvansi Niangxi. Kadang-kadang di tengah malam buta dia mengintip dari kejauhan keberadaan Yang Mulia ketika menginap di pavilliun, memandangnya dalam sejuta rindu. Tetapi dia tak berani bertemu.
Perasaannya yang dulu ketika di ceraikan raja masih terasa sakit sampai sekarang dan dia telah melewati empat musim penuh mengurung diri di kuil karena kesedihannya sekaligus hukuman atas perbuatannya yang hampir membunuh salah satu selir raja akibat racun yang salah sasaran.
Kini, jika dia bertemu langsung dengan raja yang di klaimnya sebagai cinta pertamanya itu, apakah dia punya keberanian? Apa yang akan di katakannya?
__ADS_1
(Okeeeeh, akhirnya author lanjut yaaa😄 semoga selesai sampai tamat nih novel🤧 Menyelesaikan banyak kusah cinta di cerita yang cukup ruwet dan komplek ini, tetapi yakin saja, akhir novel kakak belum ada yg tak happy ending😄 Jgn lupa dukungannya yaaa😘 Vote, kembang, kopi, like, komen jika berkenan🙏 makasihhhh)