
"Yang Mulia Permaisuri baik-baik saja, Yang Mulia raja tak usah kuatir..." Sebuah suara lembut itu terdengar dari belakang punggung Yang Mulia Yan Yue, membuatnya sontak berbalik.
Seorang perempuan dengan jubah ungu muda di balut mantel warna yang lebih tua, wajahnya sederhana tetapi Yang Mulia Yan Yue masih mengingatnya dengan jelas.
"Nuo?" Yang Mulia Yan Yue terlihat canggung menerima penghormatan dari Su Nuo. Perempuan ini jauh lebih sederhana sekarang, dan tentu saja dengan ketenangan yang berbeda. Mungkin waktu telah membuatnya begitu dewasa.
"Ada apa kamu kemari? Siapa yang mengirimmu? Aku tak pernah meminta kamu datang ke kamp ini." Yang Mulia Yan Yue tanpa sadar mundur selangkah ketika Su Nuo menegakkan tubuhnya dari sikap membungkuknya.
"Ampuni hamba..." Ucap Su Nuo sedikit gemetar.
"Saya...saya hanya memastikan apakah yang mulia tak kekurangan apapun di sini."
"Tidak. Aku tak kekurangan apapun. Dan aku rasa bukan kewajibanmu memastikan itu Su Nuo." Ucap Yang Mulia setengah menegur.
"Tak baik kamu datang kemari apapun alasanya, Su Nuo. Aku telah mengembalikanmu dengan hormat pada gubernur Su Zhou. Dan kupastikan tak ada hubungan apapun antara kita. Aku bahkan tak menyentuhmu dari hari kita menikah. Kedatanganmu ke kamp ini, aku tak ingin membuat rumor yang tak jelas dan sampai pada Xiao Yi." Raja ini terlihat begitu tegas, rahangnya membeku.
Sebagai raja tentu saja Yan Yue bisa menginginkan wanita manapun atau mengambil siapapun untuk meski hanya sekedar penghangat malamnya. Tapi, di antara seribu raja, Yang Mulia Yan Yue sungguh berbeda. Dia sanggup mengabdikan hatinya pada satu orang sekaligus dengan kesetiaannya.
"Saya tahu sekali mengenai hal ini Yang Mulia..." Sahut Su Nuo, dia berusaha mengangkat wajahnya menatap lelaki yang dulu selalu dimimpikannya itu.
Tak ada riak apapun yang di temuinya di sana, kecuali tatapan tanpa makna dari seorang pria yang bahkan kini menganggapnya hanyalah orang lain.
Bertahun dia menyimpan rasa penasaran, apakah dia berani berhadapan dengan Yang Mulia Yan Yue setelah dirinya di usir dari istana Weiyan dan menafsirkan adakah secuil cinta yang di simpan raja itu padanya, karena bagaimanapun juga dia adalah istri pertama Yang Mulia.
Tapi kini rasa penasaran itu menguap, di mata Yang Mulia Yan Yue hanya ada satu perempuan dan jelas itu adalah Xiao Yi.
__ADS_1
Dulu dia merancang satu kalimat yang selalu ingin di tanyakannya pada Yang Mulia Yan Yue, "Apakah Yang Mulia menaruh sedikit rasa padaku? Atau pernahkah Yang Mulia mencintaiku?"
Tapi, sekarang rasanya semua kata-kata itu tak penting lagi.
Dia ingat benar kata-kata Xiao Yi saat mereka berada dalam kereta menuju kamp ini, beberapa waktu yang lalu,
"Kakak Su Nuo, sampai sekarang aku masih merasa bersalah padamu. Soal bagaimana aku telah membuatmu begitu membenciku karena cinta Yang Mulia padaku. Apakah benar aku telah merebutnya darimu? Aku bahkan pernah berfikir, suatu saat aku ingin kamu bertemu dan berbicara langsung pada Yang Mulia untuk memastikan bahwa kamu mendengar sendiri seperti apa perasaannya padamu." Kata-kata itu bergaung di kepala Su Nuo.
"Dulu, saat aku mengantarmu pulang di gerbang harem, aku ingat apa yang kamu katakan padaku, 'Suamiku menceraikan aku dan mengirimkanku kembali kepada orangtuaku dengan rasa malu dan penuh penghinaan, apakah itu yang kau sebut lebih baik dari kematian?' kata-katamu itu kadang membuatku terbangun di tengah malam dengan rasa bersalah yang begitu dalam. Hari ini ku kirimkan dirimu pada Yang Mulia, tanyakan padanya, apakah dia sebenarnya punya sesuatu yang ingin kamu dengar. Jika dia ternyata punya sesal sebesar kirmizi padamu karena menceraikanmu maka akulah yang akan membawamu kembali ke Weiyan untuknya. Maka tuntaslah rasa bersalahku padamu..."
Entahlah, kini Su Nuo bahkan merasa tak perlu lagi bertanya soal hati lelaki ini padanya, dia yakin saat Yang Mulia begitu takut kabar kehadirannya sampai di telinga Xiao Yi, jelas ada hati yang begitu ingin di jaganya. Adakah yang melebihi rasa cinta seperti itu?
Su Nuo bahkan tak punya tempat sedikitpun di celahnya.
"Yang Mulia, mohon ampuni hamba yang terlalu lancang, tetapi hamba datang membawakan pesan dari Yang Mulia permaisuri, bahwa Yang Mulia harus kembali ke istana segera." Lanjut Su Nuo, dia berusaha mengangkat wajahnya menatap lelaki yang dulu selalu dimimpikannya itu.
"Saya yang memintanya menyampaikan padamu Yang Mulia..." Sebuah suara yang sangat di kenal Yang Mulia Yan Yue.
"Chenxing!" Yang Mulia berbalik dan mendapati permaisurinya itu berdiri tak jauh dari mereka, dalam balutan mantelnya yang berwarna keperakan.
Wajah Yang Mulia sekejap kemudian merona karena melihat sang istri tiba-tiba berada begitu jauh dari istana bahkan berani melanggar perintahnya, rasa marah yang bercampur segobang rindu setelah berpekan-pekan tak bertemu.
Su Nuo mengansurkan diri, mundur dan beringsut menjauh. Air matanya jatuh perlahan di sudut matanya, Xiao Yi yang bijak itu telah menuntaskan belenggu perasaannya, dengan mempertemukannya pada Yang Mulia.
Menyakitkan memang karena selama ini dia menyimpan banyak harapan, sebagai istri pertama raja, dia mungkin mememegang setangkup perasaan Yang Mulia di mana cintanya terpaut begitu lama.
__ADS_1
Rasa usang itu ternyata merantainya sekian tahun, hingga dia mengurung diri di pavilliun Liangsu, menutup hati dari siapapun meski dia telah di bebaskan untuk menikah lagi oleh Kebijakan Harem. Dia masih berharap Yang Mulia menjemputnya! Sayangnya, dia bertepuk sebelah tangan begitu lama.
Secarik kertas usang di remasnya dalam saku lengannya sembari pergi, surat terakhir Yang Mulia, yang bahkan dia hapal isinya,
Mari sepakat untuk tak melihat ke belakang,
Jodoh yang berakhir, tak perlu menyisakan dendam dan penyesalan...
Jalan buntu dan tak berujung, jika masih berharap kita melaluinya hanyalah kelelahan.
Cinta adalah pedang bermata dua,
dan kita tidak berada pada tempat yang sama. Takdir kejam telah menahanmu untuk begitu lama.
Masa lalu yang berdebu, naik menjadi gumpalan asap, membuat mata pedih tapi akan segera menghilang.
Sebagai seorang suami yang tak memiliki perasaan apa-apa padamu, aku membebaskanmu Su Nuo.
Hiduplah lebih baik, menjadi seperti yang kamu inginkan.
Su Nuo berjalan melewati beberapa kemaj dan menangis kega di depan sebuah pohon Liu tua. Kertas usang surat Yang Mulia itu di remasnya dan di lemparnya ke bawah tebing.
Baiklah Yang Mulia, aku akan hidup lebih baik, aku tak akan lagi menunggumu! Sekarang aku yakin, tak ada cinta secuilpun di hatimu untukku. Kulepas dirimu sekarang, aku yang terlalu berlebihan memasung hatiku padamu yang tak punya rasa apa-apa padaku.
(Akhirnya, author menuntaskan kisah Su Nuo yang ada di selir persembahan, memutuskan rasa bersalah telah mengirimnya keluar dari istana, dan meyakinkan pembaca Yang Mulia tak pernah punya rasa apa-apa pada istri pertamanya ini☺️🙏)
__ADS_1
Cerita ini bersifat kolosal ya, banyak kisah di dalamnya untuk pengantar kisah utamanya, mohon di maklumi🤣 Selanjutnya kita akan bertemu Xue Xue alias Puteri Nan Luoxia di Niangxi☺️ yang kangen Juren dan Changyi di tahan dulu yaaaa🤣