CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 38. Menunggu Bertemu


__ADS_3

"Apakah dia adalah orang yang sama? Puteri Nan Luoxia adalah...adalah...."


Zhao Juren hendak maju tanpa sadar dan seketika di halangi seorang pengawal yang berdiri dengan sigap mendorongnya supaya menjauh.


"Kamu tidak boleh melewati batas ini!" Bentaknya dengan wajah garang.


Changyi serta merta menarik Zhao Juren menjauh.


"Maaf, tuan. Temanku ini hanya terpesona saja, dia tak bermaksud jahat." Ujarnya sambil membungkuk ketakutan. Membawa Zhao Juren sedikit menjauh dari batas yang boleh di lewati rakyat biasa.


Suara petasan terdengar menggelegar menyambut kedatangan para keluarga kerajaan yang turun satu persatu dari lusinan kereta.


Langit seketika berwarna-warni, di mana-mana tercium bau harum, wangi arak yang pekat dari arah aula, suara musik mulai riuh dari sana. Aroma kuat daging panggang dan masakan kezat menguar di udara, sinar lentera yang terang benderang dan bergoyang-goyang menyinari wajahnya, membuatnya nampak tirus, punggungnya begitu kurus jauh dari saat dia adalah jenderal yang di hormati, Zhao Juren terpekur, sosoknya yang kaku dalam balutan jubah gelapnya tak cocok dengan keramaian di sekelilingnya.


Ada banyak orang memang yang melihatnya tapi yang tak memperhatikannya juga banyak, Zhao Juren menerobos perhatian dan keacuhan begitu banyak orang, seorang diri maju dan ingin terus maju, namun tak tahu ia sebenarnya hendak pergi ke mana. Matanya tertuju hanya pada seorang perempuan yang duduk di salah satu kursi keemasan di depan, Puteri Nan Luoxia!


"Tuan Lian Ju, berhenti di sini, kamu akan membuat kita dalam masalah." Changyi menarik Zhao Juren ke pinggir.


Seorang gadis dengan dandanan menor, matanya bercelak dengan alis tinggi, pipinya dalam cahaya tak terangpun terlihat merona. Gadis itu mengedipkan matanya dengan malu-malu pada Zhao Juren.


Seketika Zhao Juren sadar, sekarang dia berada di depan aula kebesaran, betapa bodohnya jika dia bertindak gegabah. Meski di Nanxing tersiar kabar dirinya telah di makamkan setelah peperangam tiga bulan lalu di perbatasan Yanshan. Tapi, terlalu menyolok bisa membuat penyamarannya ini di ketahui orang. Apalagi dua orang yang pasti tahu dia masih hidup adalah Lin Hongse yang sangat bernafsu untuk membunuhnya, Xue Xue atau Xue Lian penjaga istana Tianshi atau si Jenderal Qui yang kini mungkin adalah Puteri Nan Luoxia juga.


Kepala Zhao Juren sejenak menjadi pusing, memikirkan semua kemungkinan itu. Semua menjadi aneh dan berputar-putar.


Bagaimana mungkin Xue Xue adik angkat Jiu Fei adalah puteri Nan Luoxia sekaligus seorang jenderal dingin yang terkenal itu, Jenderal Qui?


Jawaban itu mungkin bisa di dapatinya jika dia bertemu dengan Xue Xue besok malam andai perempuan misterius itu tak mengingkari janjinya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Zhao Juren membalikkan badannya.


"Hei, kemana? kita belum melihat tari-tarian dari penari istana, malam ini akan di pertunjukkan." Tolak Changyi.


"Bagaimana bisa kita melihat dari tempat sejauh ini? Kita hanya melihat bayangan orang di aula sana."Zhao Juren menaikkan alisnya. Dia masih sedikit linglung dengan kenyataan yang dilihatnya tadi tentang siapa puteri Nan Luoxia.


"Bukankah begitu aku mengatakan, kita harus bekerja sama tadi?"


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Zhao Juren heran dengan kekerasan hati Changyi.


"Sttt...aku tahu jalan menuju bagian belakang aula kebesaran, di sana ada istana singgah untuk tempat istirahat para keluarga istana yang biasanya mabuk sampai tertidur di aula saat pesta perayaan. Bibiku adalah salah satu juru masak di sana." Changyi berbisik pada Zhao Juren.


Sesaat Zhao Juren melotot pada Changyi, kemudian dia menggeleng.


Tak ada yang bisa di lakukannya di sana, saat ini dia hanya ingin bertemu Xue Xue itu biar semua prasangka di kepalanya ini terang benderang.


"Tuan Lian Ju, kamu kemana?"


"Pulang ke penginapan!"


"Penginapanmu di mana?"


"Aku rasa kamu tak usah tahu, aku pergi sekarang semoga berhasil mendapatkan jodohmu."


"Tuan Lian Ju, kita bahkan belum mendapatkan kue Ku istana Nan, bagaimana bisa aku berharap jodohku datang dengan mudah?" Keluh Changyi dengan ragu.


"Terserahlah, terimakasih sudah menemaniku malam ini. Semoga kita bertemu lagi, Changyi. semoga berhasil!" Dalam sekejap Zhao Juren telah menghilang di antara kerumunan orang, Jubah hitamnya itu tak kelihatan dalam remang.

__ADS_1


Changyi memanggilnya tapi tak di gubris. Zhao Juren pergi begitu saja, dia tak tertarik dengan pesta lentera yang bertabur pangeran dan puteri tapi hanya bisa dilihat dari jauh itu, dia bingung sendiri kenapa banyak orang sangat yakin bisa berjodoh dengan orang istana, peluangnya hanya satu di antara seribu.


...***...


Zhao Juren sudah keluar sore-sore dari penginapan, malam pesta lentera belum berakhir, jalanan masih penuh dengan orang-orang sepanjang jalanan kota tenggelam dalam suara canda riang dan tawa gembira yang hangat, suara tabuhan dan musik riuh rendah sahut menyahut, keluarga-keluarga terkemuka yang sedang menyulut petasan membuat langit penuh warna tak kalah indahnya dari pemandangan di depan aula kemarin malam.


Di mana-mana tercium bau harum wangi arak yang pekat, aroma kuat daging panggang, nona-nona keluarga kaya lewat, penuh bedak, gincu dan wewangian, mereka seakan tak ingin kalah dengan tampilan putri bangsawan kemarin malam di aula kebesaran.


Suasana benar-benar semarak, Nanxing bagai kota yang selalu hidup di semua musim, ada pula keharuman kuncup bunga prem yang baru mekar.


Beberapa anak muda sibuk menebak teka teki lentera, suara kesal dan tawa bercampur ketika tebakan itu salah, Zhao Juren hanya melewatinya. Di sepanjang kedai pinggir jalan, ada orang yang minum arak, ada orang yang makan, ada orang yang menonton sandiwara, ada orang yang menyanyi.


Malam ini, semuanya seakan menjadi hidup, suasana riang gembira muncul di segala penjuru, sepasang matanya memandang lurus ke depan, berjalan seorang diri tanpa berkata apa-apa, dengan hati-hati menenteng lentera dalam genggamannya, agar tak rusak tertubruk orang, lentera itu di belinya dengan iseng saat menuju kedai arak tempat Xue Xue berjanji menemuinya.


Malam turun lambat, Zhao Juren duduk dengan gugup di Kedai itu. Dia memesan dua guci arak terbaik sekaligus. Tak pernah dia merasa jantungnya seperti berpacu begitu aneh saat menunggu janji seseorang.


Cinta? Zhao Juren telah melaluinya berkali-kali, bukan hal yang aneh tetapi saat ini dia tak bisa bohong, sensasinya benar-benar berbeda. Rasa takut itu sama seperti dia menunggu bertemu Xiao Yi di toko obat tabib Guo istana Weiyan saat malam perayaan musim semi bertahun-tahun yang lewat.


"Gluk!" Zhao Juren meneguk arak terakhir dari guci pertama, baunya keras dan manis benar-benar bisa membuat orang tak mau berhenti menengaknya.


"Hai, Tuan. Anda menungguku?"


 



...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa...

__ADS_1


__ADS_2