
"Li Jin, ini aku..." Zhao Juren berucap datar sambil membuka perlahan tudung kepalanya.
"Bukankah kamu yang memintaku kembali?" Sebaris senyum terpampang di bibir Zhao Juren.
Mata Zhao Juren membeliak sebesar kelereng, mulutnya terbuka lebar.
"Ha...a...a...tu...tuan...aaaa?" Bibir Li Jin gemetaran, wajahnya memerah hampir sementara tubuhnya menjadi kaku, pemandangan Zhao Juren di depannya yang tak di sangka-sangka itu membuatnya hampir pingsan.
"Ini aku, kenapa kamu melotot seperti baru saja melihat hantu?"
"Han..hantu? Tuan hantuuuu?" Li Jin terjajar kebelakang dengan raut ketakutan sebelum Li Jin berteriak, Zhao Juren melompat ke depan dan membekap mulut pengawalnya itu.
Li Jin yang badannya melayang karena setiap hari kurang tidur itu dengan mudah di tawan oleh Zhao Juren. n
"Stttt...aku bukan hantu! Aku tuanmu yang kamu rindukan itu!" Zhao Juren menyeret Li Jin ke pinggir peti lalu mematikan sebagian lemntera dengan sekali kibas jubahnya.
Ruang itu menjadi redup yng tersisa hanya beberapa batang lilin yang menyala mengelilingi peti pualam di tengah ruangan dan beberapa lentera kecil di tembok ruangan.
"Tuan Li jin..." suara pengawal dari luar terdengar sedikit cemas, langkah tergesa hendak membuka pintu membuat Zhao Juren mengambil tindakan cepat dan dengan cepat dia masuk ke dalam peti terbuka itu dan bersembunyi di balik linen putih penutupnya.
"Ada apa, tuan?" Tiga orang pengawal masuk dengan senjata siaga, mendapati Li Jin yang berdiri melongo di samping peti.
"Kami mendengar sedikit keributan, apakah ada sesuatu?" Tanya salah satu pengawal itu yang berdiri sebagai kepala jaga Kuil Zuihou malam ini.
Li jin melirik ke arah peti dimana Zhao Juren bersembunyi, tak da gerakan dari dalmnya kecuali sebuah jari kelingking yang keluar dari pinggir kain penutup. Sebuah kode yang sangat dikenal Li Jin, jika Tuan Zhao Jurennya itu memintanya membuat janji untuk menyimpan rahasia.
"Oh, tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit tersandung tadi saat menyalakan lilin." jawab Li Jin segera dan berusaha berdiri dengan tegak seraya merapikan jubah putihnya.
__ADS_1
"Anda yakin tidak apa-apa, tuan?" tanya kepala pengawal jaga itu dengan masih menampakkan kecemasan.
"Astaga, apa yang kalian kuatirkan? Aku ini bukan orang sembarangan Aku komandan Li Jin, wakil tuan Zhao Juren, tak ada yang perlu kalian cemaskan. Tak ada yang bisa menggangguku, meskipun itu hantu!" Sergah Li Jin dengan suara sedikit lantang.
"Maafkan kami tuan Li, kami hanya diperintahkan oleh Yang Mulia menjaga tuan di sini dan memastikan tuan Li baik-baik saja." Kepala pengawal jaga membungkuk dengan segan.
"Ya...ya...aku tahu, terimakasih kalian telah menjalankan tugas dengan baik. Tapi sungguh aku tak apa-apa." Sahut Li Jin kemudian dengan sikap melunak, dia sudah bisa menguasai diri, tak nampak lagi kegugupannya.
"Maafkan kami tuan, kalau begitu kami akan kembali berjaga di luar, tuan bisa memanggil saya jika tuan memerlukan sesuatu." Akhirnya kepala pengawal itu pamit menanggapi kegusaran Li Jin.
"Sebaiknya begitu. Aku harus kembali berdo'a jadi tolong tidak perlu masuk jika aku tidak meminta." Li Jin mengibaskan lengan jubah putihnya itu dengan sikap tenang. Ketiga pengawal itu kemudian membungkuk dengan patuh.
"Tuan...ruangan ini sedikit redup, beberapa lentera sepertinya mati, mungkin angin malam ini terlalu kuat. Kalau tuan ingin, saya bisa menyalakannya kembali untuk tuan."
"Tidak usah, aku memang mematikan sebagian lentera dalam ruangan. Ini adalah malam terakhir tuanku Zhao Juren, aku mau lebih khusuk berdoa untuknya. Sedikit temaram akan membuatku lebih konsentrasi." Sahut Li Jin cepat.
Dengan segera Li Jin mengunci pintu ruangan itu setelah semua pengawal itu keluar dan menutup pintu dari luar.
"Aish...baru kali ini aku berbaring di dalam peti matiku sendiri dengan beralas baju besi, punggungku terasa di tusuk-tusuk. Tidak enak sama sekali." Zhao Juren bangun dan keluar dari dalam peti sambil menggeliat, memegang bahu dan belakang lehernya.
Dengan takut-takut Li Jin menghampirinya sekan ingin memastikan orang di depannya itu adalah Zhao Juren, tuannya.
"Astaga, kenapa wajahmu masih seperti orang kerasukan begitu? Kamu tidak benar-benar rindu padaku? jangan katakan kamu hanya berpura-pura sedih atas kematianku dengan mengoceh panjang pendek memanggil-manggil namaku di depan peti mati kosong ini." Zhao Juren berkacak pinggang, suaranya berusaha di rendahkannya.
"Ini benar-benar anda kan, tuan?" Li Jin mengucek matanya bebrapa kali, sikapnya kembali seperti orang linglung.
"Li Jin, kamu masih tidak percaya padaku, bukankah aku berjanji kembali padamu? Aku orang yang tak suka menanggung hutang janji...aku..."Belum sempat Zhao Juren menyelesaikan kalimatnya,
__ADS_1
"Tuaaaan..." Li Jin menghambur seperti anak kecil dan menubruk tubuh Zhao Juren hingga Zhao Juren yang tak bersiap-siap menerima reaksi mendadak Li Jin itu hampir terjengkang ke belakang.
"A...tuan Zhao, aku tahu kamu masih hidup. Aku tahu kamu tak akan semudah itu mati. Aku tahu tuanku pasti masih hidup. Hantu tidak akan bisa menunjukkan janji kelingking pada manusia." Li Jin tak bisa menahan kegirangan dan haru yang bercampur baur menjadi satu. Air matanya keluar tak bisa di tahannya. Meski dia adalah prajurit yang begitu garang di medan perang tetapi tetap saja dia tak bisa menahan airmatanya saat bertemu dengan tuannya ini dalam keadaan hidup.
"Sttt...jangan bersikap seperti ini. Aneh sekali melihatmu menangis begini, sebagai tuanmu aku malu melihatnya." Zhao Juren hampir tak bisa menahan tawanya, pertama kali dia melihat Li Jin bersikap cengeng dan melankolis.
Li jin segera menarik tubuhnya sambil menghapus airmatanya, dia sama sekali tidak malu dengan tingkahnya itu. Tak ada kebahagiaan yang melebihi dia bisa melihat kembali tuannya itu.
"Kemana saja tuan? kenapa lama sekali baru kembali? Semua orang telah menganggapmu mati." Cecar Li Jin, nafasnya terengah-engah memburu karena senang.
"Ceritanya panjang, Li Jin. Aku hampir saja benar-benar mati jika tak diselamatkan oleh seseorang. Langit mungkin tak rela aku mati sebelum bertemu denganmu." Zhao Juren tertawa kecil masih bersikap menggoda Li Jin yang didapatinya menangisi dirinya beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana tuan masih bisa bercanda, seluruh pelosok negeri berkabung untuk tuan." Li Jin menyeringai masam.
"Aku juga tak bisa berbuat apa-apa, tiga bulan aku tak sadarkan diri di sebuah tempat. Bagaimana dengan pasukan kita sepeninggalku?"
"Pasukan Yu kalah tuan, kota tua direbut pasukan Niang. Bala bantuan datang sehari setelahnya tetapi pasukan Yu telah dipukul mundur. Yang Mulia Yan Yue memerintahkan kami menarik pasukan yang tersisa setelah mendengar hilangnya Tuan Zhao. Yang Mulia marah besar, dia menuduh pasukan Niang menawan Tuan Zhao tetapi Raja Nan menampik tuduhan itu. Mereka mengklaim tuan Zhao mungkin tewas setelah menyerang gerbang utara Doting seorang diri. Menurut berita, tuan Zhao menghilang dengan luka berat. Kami sudah berusaha mencari tuan sepanjang perbatasan tetapi tak menemukan tuan."
"Bagaiman dengan perang?"
"Perang di hentikan, ada perjanjian gencatan selama masa berkabung Yang Mulia Yan Yue, tetapi Yang Mulia Yan Yue berjanji merebut kembali kota Yuechen setelah upacara pemakaman tuan Zhao selesai." Zhao Juren menarik nafasnya mendengar semua yang dikatakan oleh Li Jin.
"Tuan, kita harus memberitakan kembalinya tuan Zhao ini pada yang Mulia Yan Yue..." Tiba-tiba Li Jin beranjak dengan penuh semangat.
...Li Jin...
__ADS_1