CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 47. Mabuk Sampai Pagi


__ADS_3

"Bisakah aku minta tolong padamu untuk menyelundupkanku ke dalam istana Nan."


" Haaaah!!!"


"Kenapa kamu terkejut begitu?"


"Kenapa kamu mau masuk istana Nan? Kamu mau jadi pelayan di sana?"


"Ya, aku bosan menjadi petani buah di kampungku. Aku pintar memasak, jadi aku ingin menjadi salah satu pelayan juru masak di istana Nan."


"Astaga, tuan Zhao ini benar-benar aneh. Semua orang bercita-cita menjadi kaya dan menikahi anggota keluarga kerajaan untuk menjamin masa depan tapi anda malah bercita-cita menjadi pelayan dapur." Changyi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut begitu heran.


Zhao Juren tak meladeni tawa lucu Changyi.


"Apakah kamu bisa membantuku?"


"Itu sulit sekali." Changyi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayolah temanku..."


Mata Changyi langsung membulat girang mendengar panggilan teman yang di ucapkan padanya.


"Tapi, aku akan mencobanya untuk membuatmu masuk sebagai pelayan istana." Changyi menaikkan alisnya sambil melipat tangannya di depan dada, sambil menunjukkan pias orang yang sedang berfikir keras.


...***...


Di depan Istana Nan, aula pribadi Raja Nan Chen yang terletak di dalam istana Nan, matahari belum juga tinggi tetapi kedatangan sebuah rombongan kecil membuat sekelompok pelayan, kasim dan pengawal lekas-lekas berlutut saat melihat orang yang datang,


“Hormat pada Yang Mulia Ratu!”Mereka membungkuk nyaris sampai tanah.


Ratu Lin Fangyin terlihat cantik dalam dandanan rapi yang anggun dan memukau, pakaiannya dari sutra terbaik, berwarna ungu, dengan motif bunga kecil-kecil yang di gambar hati-hati dengan bordiran benang perak dan emas. Gaun itu menyapu lantai dengan lembut mengikuti langkahnya yang halus.

__ADS_1


“Berdirilah.” Ratu Lin Fangyin yang parasnya selalu murung dan kesal itu mengayunkan tangannya.


“Apakah Yang Mulia ada di dalam?” Tanyanya dengan dingin.


“Yang Mulia ada di aula Wanxiang” Seorang kasim menjawab dengan hormat, dia terlihat takut saat Ratu Lin Fangyin menatap padanya.


"Aku akan ke sana.” Lin Fangyin kemudian membalikkan badannya tanpa banyak bicara dan berjalan menuju Aula Wanxuang, sementara beberapa pengawal, pelayan dan kasim pribadinya mengikuti daei belakang.


Aula Wanxiang tampak di hadapan. Para pelayan dan kasim yang menunggu di depan aula langsung memberi hormat pada Ratu Lin Fangyin dengan takut-takut meski tanpa suara.


Perlahan pintu aula Wanxiang di buka, di dalam Aula Wanxiang yang berantakan Nona Huan yang cantik terlihat begitu lelah, dia mungkin tak tidur semalaman. Yang Mulia raja Nan tadi malam tiba-tiba berubah fikiran karena pada saat tengah malam setelah semua orang di bubarkan termasuk para selirnya yang berjubel itu. Dia memanggil Nona Huan seorang untuk menemaninya mabuk semalaman dengan di iringi musik dan kecapj.


Nona Huan telah menari sepanjang dini hari untuk membuat Yang Mulia Nan Bahagia.


Diatas atas undakan giok, pada kursi kehormatannya, Yang Mulia Nan Chen sedang bersandar di singgasana, di tangannya ada sebuah cawan porselen, mata hitamnya setengah terbuka setengah tertutup, entah karena dimabuk arak, ataukah dimabuk lagu dan tarian di hadapannya.


Para pemusik yang tanpa kenal lelah memberi lantunan suara kecapi terondah, tabuhan bagai sungai dangkal yang mengalir di ngarai, dendang lagu bagai denting lonceng di tengah angin, di tengah suara merdunya masih terselip seutas kerinduan.


Mata setengah tertutup Yang Mulia Nan Chen tiba-tiba terbuka dan langsung tertuju ke pintu aula utama, gerakan kecil ini menarik perhatian Feng Qiwu.


Alunan musik tiba-tiba terhenti, Si cantik Nona Huan berdiri dengan setengah membungkuk di depan Ratu Lin Fangyin. Sang ratu menatapnya lurus, begitu penuh selidik membuat penari yang masih menari bagai boneka kayu yang kehilangan jiwanya, tak tahu apa langkah selanjutnya.


“Hormat pada Yang Mulia Ratu.” Semua yang ada di dalam ruangan itu segera membungkuk memberi hormat pada perempuan yang baru datang itu.


“Hormat pada Yang Mulia Ratu.” Nona Huan itu juga buru-buru ikut memberi hormat, walau tergambar jelas dia tidak


“Berdirilah.” Lin Fangyin berjalan memasuki aula,


“Lagumu sangat indah Nona Huan dapat membuat orang melupakan kesusahan hati, sedangkan tarian nona ini juga begitu cantik hingga membuat orang mabuk kepayang. Pantas saja Yang Mulia bahkan lupa jika hari telah pagi karena terpesona pada suaramu.” Pujian itu terdengar aneh, mirip sindiran dan tak tulus..


“Terima kasih untuk pujian Yang Mulia Ratu," Nona Huan dengan anggun membungkuk lagi lalu tetap begitu sampai kemudian Yang Mulua memberi isyarat pada Nona Huan untuk keluar.

__ADS_1


Melihat Nona Huan pergi, penari itu juga lekas-lekas mengikuti, “Terima kasih untuk pujian Yang Mulia Ratu, hamba mohon undur diri.”


Yang Mulia Raja Nan tidak menahan mereka tetapi membiarkan mereka meninggalkan aula Wanxiang.


Setelah Nona Huan dan pemusik-pemusik itu pergi, Yang Mulia Nan Chen menatap ratu Lin Fangyin dengan kuat, tubuhnya tersandar miring pada singgasana.


“Aku datang pada waktu yang salah, sudah merusak kegembiraan Yang Mulia.” Ratu Lin Fangyin membungkuk dalam di hadapan singgasana.


"Tidak perlu berbasa basi Fangyin, mereka semua sudah pergi."Tegur Yang Mulia Nan Chen.


"Mungkin aku bisa kembali lain waktu pada saat yang tepat?”


"Jangan bertingkah canggung, semua waktu tepat untukmu ratu." Yang Mulia Nan Chen turun dari singgasananya dengan badan sedikit bergoyang, lalu perlahan berjalan ke bawah, tangannya masih membawa cawan anggurnya, sinar matanya menatap Ratu Lin Fangyin di tengah-tengah aula dengan tatapan yang sulit di ungkapkan.


Mereka sudah menikah sepuluh tahun lebih tetapi tetap saja seperti orang asing satu sama lain.


Melihat Yang Mulia Nan Chen yang perlahan berjalan mendekat, ratu Lin Fangyi tercengung sejenak. Matanya tak lepas dari laji-laki yang semakin mendekat padanya.


"Aku bisa kembali lain waktu." Ratu Lin Fangyin berucap cepat, dia menjadi sedikit gentar dengan sikap Yang Mulia Nan Chen.


“Tidak perlu pergi…” Setelah hanya terpisahkan satu langkah, Yang Mulia Nan Chen menangkap lengan jubah Ratu Lin Fangyin sambil menundukkan kepalanya untuk melihat pada perempuan yang kini mendonggak padanya, mata hitamnya bagai kolam yang dalam


"Ayahandaku memilihmu untuk menjadi istri utamaku bukankah itu bukan tanpa alasan? Ratu berarti mendampingi Raja, jadi seharusnya kamu ada di sini." Yang Mulia Nan Chen menatap Ratu Lin Fangyi dengan alisnya sedikit terangkat, tapi tetap saja tatapannya dingin.


"Maukah kamu menemaniku minum arak, ratuku?"


"Yang Mulia hari telah pagi, tak pantas kita berdua minum arak dan bermabukan seperti kekurangan waktu untuk berpesta dan menikmati arak.” Tolak ratu Lin Fangyin dengan halus.


“Bukankah kamu tak pernah menyukai berkumpul dengan banyak orang? kamu menatap muak pada para selir lain bila berada di sekitar mereka? Sekarang hanya kita berdua, kamu bisa bersamaku menikmati ribuan cawan dan mabuk, hanya Yang Mulia Ratu seorang.” Yang Mulia tertawa terkekeh, ujung matanya sedikit terangkat, sinar seterang lentera berkelip-kelip di bola mata cokelatnya yang kelam.


“Yang Mulia...” Ratu Lin Fangyin menundukkan wajahnya yang memerah mendengar sindiran yang begitu mengena itu.

__ADS_1



...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...


__ADS_2