CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 112. Bunga Juhua Musim Gugur


__ADS_3

Tak ada yang tahu pasti keberadaan anak kandung Pangeran Nan Feng itu, tetapi banyak yang mengatakan, puteranya itu di besarkan oleh Nan Feng di padepokannya dan di latih untuk menjadi tabib handal di kemudian hari.


"Jika dia masih hidup, mungkin seusiaku." Kata Xue Xue pada Bai Yueyin di suatu masa, waktu Xue Xue menceritakan tentang pamannya itu.


Mentari yang terbenam bersinar jingga keemasan, padang belantara dan padang rumput yang biasanya ditumbuhi rumput hao yang tinggi itu terlihat rata dan pucat oleh warna putih. Jika di musim semi, mata tak luput dari pemandangan rumput hao yang berayun-ayun seiring tiupan angin yang berdesir, dan di musim gurur hamparan hao ini bagai hamparan permadani berwarna emas.


"Hhhhh..." Bai Yueyin menghela nafasnya, rambutnya yang di gerai sebagian di tiup angin, air matanya meleleh perlahan ketika rombongan pemakaman itu hilang di kejauhan, di balik bukit kecil luar istana di mana pemakaman itu di langsungkan.


Bukit Tiantie itu adalah tempat suci dan keramat, di percaya tempat arwah para raja naik ke langit lewat tangga setelah kematiannya.


"Aku tak akan melupakanmu, Yang Mulia..." bisiknya. Kesedihan itu masih menyesakkan, kehilangan masih membuatnya seolah kehilangan setengah nyawanya.


Senja menyelimuti keempat penjuru, di cakrawala yang merona, lembayung yang bagai api menyala-nyala, bayangan dirinya tergaris di tembok loteng itu, serupa kayu yang menipis buram, bayangannya itu tergambar samar di dinding tembok yang telah diterpa hujan dan angin selama ratusan tahun.


"Yang Mulia Nan, maafkan aku karena aku tak bisa mengantarkanmu, seperti seharusnya. Aku tak bisa menemanimu dalam perjalanan panjangmu, jaga dirimu baik-baik. Berjalanlah jangan menoleh lagi meski aku menangis keras di belakangmu." Ucap Bai Yueyin seraya mengangkat kepalanya tinggi, matanya terpejam kuat, membiarkan langit mengirimkan kehangatan dari sana, sekedar menawar hatinya yang terluka.


Akhirnya, mentari dengan perlahan terbenam di balik gunung, bulan yang jauh merayap naik, cahaya rembulan yang dingin menyinari jubah katun putihnya.


"Nona Bai, ada yang ingin bertemu." Pelayan kamar Nan Luoxia tiba-tiba mengejutkan Bai Yueyin.


"Siapa?" Tanya Bai Yueyin sembari berbalik.


"Nyonya selir Huanjing." Jawaban Pelayan itu membuat Bai Yueyin mengernyit dahinya.


"Biarkan dia kemari."

__ADS_1


Tak lama, Selir Huan muncul, piasnya terlihat pucat dan kurang tidur, wajah cantiknya yang biasanya berias itu sungguh pucat pasi. Dia terlihat sangat berbeda dalam pakaian putih polosnya yang menjuntai dan terseret-seret di lantai. Rambutnya yang biasa hitam itu, di tudunginya dengan kain sewarna jubah, khas seorang janda yang sedang kehilangan suaminya, tradisi di Niangxi seorang janda setelah suaminya di kuburkan akan menutup kepalanya selama setahun.


Rasa cemburu yang aneh menjalar dalam hati Bai Yueyin, betapa pertama kali rasa itu mengganggu setelah sekian lama, melihat perempuan lain yang bisa di sematkan gelar janda atas orang yang dia cintai, bisa mengekspresikan rasa kehilangannya dengan sempurna, sementara dia hanya meratap sendiri tanpa gelar apapun, meski dia tahu Yang Mulia Nan Chen mencintainya.


"Nyonya selir Huan..." Panggilan itu rasanya membuat mulutnya kelu sendiri.


"Apakah anda tidak ikut serta mengantarkan Yang Mulia ke tangga langit?" Tanyanya dengan sedikit heran, seharusnya perempuan ini berada di rombongan istri raja dalam perjalanan terakhir pengabdian mereka pada suaminya itu, ke tempat peristirahatan terakhir.


"Tidak...aku merasa tidak enak badan, tabib juga menyarankan aku untuk tidak ikut ke pemakaman." Jawabnya dengan gugup.


"Tapi..."


"Aku tidak sepenting itu, nona Bai." Sahut Selir Huan cepat mendapati tatapan Bai Yueyin yang terlihat tidak setuju itu.


"Yang Mulia Nan Chen mungkin adalah suamiku, tetapi dia tak memiliki perasaan apa-apa padaku." Lanjutnya lirih.


"Nona Bai..." Selir Huan mengangkat tinggi dagunya, sirat kesedihan itu begitu kental di matanya yang berkabut.


"Yang Mulia hanya mencintai anda, sepanjang hidupnya hanya mencintai anda." Ucapnya tegas, tanpa keraguan sedikitpun.


"Apa yang anda katakan nyonya? Anda tidak bisa..."


"Semua orang tahu Yang Mulia tak pernah mencintai semua wanitanya, mereka hanyalah pelampiasan hasrat kesepian dan rindunya yang tak sampai. Tetapi sedikit orang yang tahu perempuan mana yang di rindukannya. Perempuan yang membuatku iri pada keberuntungannya dalam merebut semua cinta Yang Mulia tanpa bersisa sama sekali." Selir Huan berkata tanpa terputus, kalimat itu terdengar begitu dalam.


Bai Yueyin terpana, dia tak menyangka selir Huan mengatakan semua itu.

__ADS_1


"Anda bisa berbohong, tetapi aku tahu dari bagaimana cara Yang Mulia menatapmu terakhir kali itu. Tak pernah Yang Mulia menatap orang dengan begitu penuh rindu, sebesar caranya melakukan padamu. Akhirnya aku menyadari, kamulah perempuan yang di panggil nya dalam setengah sadar dan tidaknya, kamulah perempuan yang di ceritakannya sebagai bunga Juhua itu..." Selir Huan hanya mengerjapkan satu kali ketika menyelesaikan kalimat menggantung itu.


"Bunga Juhua?" Bai Yueyin bahkan baru pertama kali ini mendengar dirinya di samakan dengan bunga seruni musim gugur.


"Yang Mulia pernah mengatakan padaku, pada musim gugur dedaunan hijau akan menguning, bunga-bunga melayu dan mereka akan jatuh sendirinya dari pohon-pohon. hijau, menguning, lalu memerah lambat laun dan menjadi coklat, jatuh satu persatu. Udara semakin hari akan semakin dingin, apalagi jika matahari enggan bersinar di musim gugur. Tentu saja pohon yang rentan dengan cuaca dingin akan lebih cepat gugurnya. Tetapi Yang Mulia selalu berkata, hanya ada satu bunga yang tetap berwarna cerah hingga dia layu, itu adalah Bunga Juhua. Dia tidak takut cuaca dan angin dingin, bermekar lebat dengan tiap untaian mahkota bunga dengan warna cerah nan kuat. Bunga Juhua itu tak pernah kehilangan warnanya seperti halnya cinta Yang Mulia padanya. Aku senang jika akhirnya, bisa menemui juhua yang selalu dirindukan Yang Mulia itu." Setetes air bening jatuh di pipi selir Huan.


"Aku saja yang bodoh, jatuh cinta padanya setelah membencinya, sementara aku mengabaikan cinta orang lain padaku. Dunia memang tak pernah terus terang, dia memberi banyak teka-teki. Tetapi, semua akan menjadi jelas saat ada yang telah benar-benar pergi." Selir Huan menyeka air matanya.


Bai Yueyin tak bergeming, dia hampir tak bisa menahan luapan perasaannya yang menggerus setiap rasa cemburu menjadi kehampaan tak berbatas.


"Aku sengaja mencuri waktu menemuimu, nona Bai. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, sebelum aku besok kembali ke gunung Beiyu di mana cintaku yang sebenarnya berada. Jika Juhua itu bertemu musim dinginnya, tetaplah di sana. Jangan beranjak lagi." Kalimat itu terdengar penuh mistei dan Bai Yueyin tak mengerti maknanya sama sekali.


"Oh, iya..." Selir Huan mengulurkan segulung kertas panjang yang dari tadi di tangannya.


"Ku kira ini di lukis untukku, tetapi...setelah aku melihatnya lagi, ternyata ini untuk Puteri Nan Luoxia. Tolong berikan padanya dan sampaikan saja salam hormatku padanya." Selir Huan membungkuk di depan Bai Yueyin seperti seorang hamba di depan ratunya, hingga kerudung putihnya menutup seluruh dahinya. Lalu dia berbalik tanpa berbicara lagi, meninggalkan Bai Yueyin yang bahkan berusaha mencerna semua ucapan Selir Huan dalam kebingungannya.



^^^



BAI YUEYIN^^^


__ADS_1


SELIR HUANJIN


(Mari pecinta novel Zhao Juren jangan lupa Vote ya untuk novel ini๐Ÿ™๐Ÿ˜˜ Biar akak author tambah semangat menulisnya๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ luv u all my best readers)


__ADS_2