CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB. 22 Berjalan Di Garis Takdir


__ADS_3

"Chenxing, aku sangat rindu pada Juren..." Suara Yang Mulia serupa desau, terdengar serak.


"Jikapun dia telah gugur di medan perang, setidaknya aku bisa memberinya penghormatan terakhir dan pemakaman yang layak. Dia telah lama menanggung kesepian, sekarang bahkan matipun dia harus dalam kesendirian."


Permaisuri Xiao Yi terpana, ingatan kembali berkelebat pada beberapa masa yang telah lewat.


Bagaimana tidak? Sekarang dia seakan sedang melihat seorang raja yang terpuruk di dalam istana Chue Lian, saat dia meratapi kekasihnya Jiu fei yang meninggalkannya tanpa pamit.


Dapur menghidangkan makanan berupa kudapan beraneka macam di atas meja sudut, sudah mulai mendingin tak tersentuh sama sekali, hanya arak Qianghu yang berada di atas meja baca, bersebelahan dengan piring lilin.


“Yang Mulia ingin kutemani minum?” Tanya permaisuri Yi tiba-tiba, terdengar lembut dan hangat. Yang Mulia Yan Yue terdiam, sesaat dia tercengang menatapi rongga mata sang istri yang seolah sedang menyembunyikan berlian di sana. Bola mata itu senantiasa seperti kejora, di kaguminya dari pertama kali dia bertemu pandang dengan perempuan ini.


“Ini sepertinya arak Qianghu dari Beidi, tak ada yang tahu dengan rasanya amat keras, manis tetapi memabukkan.” Permaisuri Yi mengambil guci arak itu ke hadapannya lalu membuka tutupnya perlahan. Begitu dibuka, bau arak yang pekatitupun menguar, menyerang lubang hidung.


“Chenxing, aku tak mengijinkan kamu minum arak.” Yang Mulia Yan Yue berucap berat saat Xiao Yi menuangkan arak itu ke dalam sebuah cangkir porselen kecil berukir bunga peony merah.

__ADS_1


“Yang Mulia, menemani bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama. Begitupun saat Yang Mulia dalam keadaan bersedih, aku tak perlu menangis bersama Yang Mulia. Berada di sampingmu dan merasakan hal yang sama tetapi berusaha membuatmu merasa tak sendiri jauh lebih baik.” Permaisuri Yi mengulurkan cangkir di tangannya sambil tersenyum. Yang Mulia Yan Yue menyambutnya dengan sedikit ragu, lalu menengak isinya dengan perlahan hingga tandas.


 “Takdir seseorang tak ada yang tahu, Yang Mulia. meratapinya mungkin boleh dalam satu waktu tapi tidak untuk selamanya. Hidup dan mati, bukan kita yang mengaturnya, jika waktunya tiba tak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Setiap jalan ada alasan, setiap kehidupan ada tujuan. Pangeran Juren di takdirkan untuk menjadi perisai Yanzhi, jikapun dia gugur dalam perjalanannya membela Yanzhi, maka itulah jalannya. Dia tentu merasa bangga berkubang darah di atas tanah yang di cintainya, jangan merusak kebanggaan seorang prajurit dengan menangisinya berlebihan." permaisuri Yi menuangkan kembali arak Qianghu yang masih bersisa setengah kendi itu.


Yang Mulia Yan Yue menatap tak berkedip setiap gerakan yang dilakukan oleh permaisuri Yi, seakan dia tak ingin melewatkan satu katapun yang keluar dari bibir istrinya itu.


“Chenxing, Juren tak pernah merasakan sedikitpun kebahagiaan dalam hidupnya, bahkan dia tak pernah jatuh cinta sekalipun selama aku mengenalnya.” Suara Yang Mulia terdengar getir.


Xiao Yi terpana, dia menelan ludahnya sendiri. Ada yang sedikit mengiris di sudut hatinya terdalam, satu rahasia yang tak pernah Yang Mulia Yan Yue tahu bahwa sebelum Yang Mulia jatuh cinta pada dirinya mungkin saja Zhao Juren telah lebih dulu berusaha menaruh hatinya pada Xiao Yi. Atau bahkan Yang Mulia Yan Yue sungguh tak mengenal teman sekaligus saudaranya itu, Zhao Juren telah jatuh cinta berkali-kali sebelum Yang Mulia Yan Yue, hanya saja dia di takdirkan untuk hanya mencintai saja tanpa bisa menerima balasannya. Banyak rahasia tentang Zhao Juren yang seorang raja sekalipun tak pernah tahu.


 “Mungkin saja, Zhao Juren pernah merasakan cinta yang kedua, siapalah kita tahu. Karena itu jangan terlalu menyimpan kecemasan untuk apa yang tidak kita tahu, jika kita terlalu banyak menangkup dugaan dan ketakutan maka mungkin kita semakin sulit melepaskan dan merelakan sesuatu.” Lanjut Permaisuri Yi.


 “Biar bagaimanapun, Yang Mulia memiliki jalan yang berbeda dengan pangeran Juren. Yang Mulia ditakdirkan untuk memimpin tidak hanya pasukan militer seperti halnya tanggungjawab yang dipegang Pangeran Juren, Yang Mulia memimpin sebuah negara yang tak hanya memerlukan sikap patriot serta keberanian tetapi juga sikap bijak dan menenangkan. Rakyat tak bisa hidup tenang jika rajanya mengurung diri dalam bilik bacanya, meratapi seorang saudara yang mungkin saja gugur dengan bangga atau mungkin saja sedang memulihkan diri di suatu tempat. Menjadi emosional mungkin manusiawi tetapi tidak untuk berlaku tak realistis. Yang mati tak akan pernah hidup kembali tetapi yang hidup harus tetap hidup.”


Kalimat itu begitu hangat, sehangat arak Qianghu yang melewati kerongkongan Yang Mulia Yan Yue.

__ADS_1


 “Chenxing, aku hanya sedang bersedih.” Yang Mulia berucap gemetar. Tangannya mengenggam kuat jemari permaisurinya yang terulur dengan maksud mengambil gelas dari tangannya.


“Silahkan Yang Mulia bersedih malam ini, silahkan Yang Mulia minum sampai mabuk dan tertidur, aku akan berada di samping Yang Mulia. Seorang istri tak akan menceritakan satu titikpun airmata suaminya yang jatuh pada siapapun. Jadi, jika Yang Mulia ingin menangis, menangislah…aku di sini, aku tak akan kemana-mana. Tetapi, berjanjilah saat matahari terbit besok pagi, Yang mulia Yan Yue yang gagah berani itu telah berdiri tegak. Dan berikan saja perintah apapun, masa berkabung kita sudah terlalu lama, tiga purnama itu terlalu lama. Katakan sesuatu pada rakyatmu, biarkan alam yang akan memperbaikinya jika ternyata suatu saat kita hanya memakamkan sebatang pedang saja!” Suara Permaisuri Yi terdengar begitu tegas, membuat Yang Mulia Yan Yue terpesona.


 Tak ada seorangpun yang berhasil membujuk Yang Mulia Yan Yue selama ini kecuali istrinya itu, dan malam ini dia bisa melihat Permaisuri Yi yang bijak itu memang di takdirkan untuk selalu memegang tangannya saat dia sedang terpuruk dan bimbang.


 Seorang raja seperti Yan Yue, sangat sedikit mempunyai teman yang bisa dipercaya, orang yang berbicara padanya seperti ini di dunia ini, mungkin selain orang di depan matanya ini, tak ada orang lain. Permaisuri Yi  dengan tenang duduk di sisinya, membiarkan dirinya minum arak sampai mabuk.


Istri yang bijak dan pengertian memang jauh lebih berharga dari emas permata dan kecantikan, sayangnya Yan Yue memang begitu beruntung, istrinya itu bijak dan cantik dalam saat bersamaan.


 “Chenxing, aku tak tahu…apa jadinya aku, jika bukan kamu yang menjadi istriku.” Desis Yang Mulia sambil menarik Permaisuri Yi kedalam pelukannya.


Permaisuri Yi tak bersuara hanya sebaris senyum tersungging di bibirnya, jauh di dalam lubuk hatinya dia menyimpan satu keraguan tentang keberadaan Zhao Juren,


“ Aku minta maaf Yang Mulia tak bisa mengatakan dengan jujur padamu, aku hanya takut dirimu menjadi salah paham dan cemburu padaku. Aku sungguh mencintaimu tak bertimbang lagi tetapi takdir telah membuatku tak bisa terpisahkan dari Zhao Juren selamanya, dia telah meminum pil sambung nyawa dari ramuan tali pusarku, untuknya bertahan hidup, selamanya pula dia menjadi bagian dari diriku. Sampai hari ini, aku bisa merasakan bahwa dirinya masih hidup di suatu tempat, dia belum mati. Hanya saja, aku tak bisa mengatakan kebenaran ini padamu. Aku tak tahu apa yang sedang direncanakan langit padanya, tetapi biar saja, semua berjalan di garis takdirnya.”

__ADS_1



__ADS_2