CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab 32. Mengemban Misi


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa kamu meminta ampun padaku?" Zhao Juren menatap Li Jin dengan tajam, tak bisa menampik ketegangan yang menghias wajah dinginnya.


"Tuan boleh membunuhku setelah ini, tuan..."


"Kenapa aku harus membunuhmu?" Zhao Juren berdiri dengan raut tegang.


"Aku tak mengatakan apapun, tuan. Tapi, ada seseorang yang tak bisa kubohongi soal kembalinya tuanku."


Jawaban Li Jin seketika membuat Zhao Juren terpana, kakinya seakan membeku. Jubah biru malam favoritnya itu memantulkan berkilau di timpa cahaya sore, tubuhnya yang menjadi jauh lebih kurus setelah tak sadar begitu lama mendadak seperti batu es.


"Aku tak bisa berbohong pada satu orang yang meyakini tuanku belum mati." Tanpa mengangkat kepalanya dia berucap gemetar.


"Siapa?" Jemari Zhao Juren mengepal, membuat bunyi kriuk yang aneh. Dia marah dan tegang dalam waktu bersamaan.



Suara langkah yang lembut terdengar di belakang pintu. Sangat lembut bahkan nyaris tak terdengar.


Sesosok tubuh ramping dalam jubah hitam tebal berwarna gelap berjalan perlahan, kakinya itu seperti tak menjejak tanah.


Pintu itu sudah terbuka setengah, tangannya terulur mendorong pintu itu supaya terbuka lebih lebar, menimbulkan suara derit kecil.


Balkon istana Lantian itu bercahaya kuning temaram, cahaya itu datang dari dua lentera yang di kaitkan ke dinding dan telah menyala sedari sore tadi oleh Zhao Juren.


Wajahnya di tutupi tudung yang tak kalah gelapnya dari jubahnya.


"Aku tahu, anda masih hidup Jenderal Juren."


Perlahan dia membuka kain tudung dan cadar yang menutupi wajahnya.


__ADS_1


Zhaon Juren seperti tersihir, nafasnya seakan terhenti, setelah sekian lama dia bisa melihat mata kejora ini, menatapnya begitu dekat.


"Aku tahu benar ada sesuatu yang di sembunyikan Li Jin saat melihat wajahnya pertama kali pagi ini di Kuil Zuihou. Meski dia berpura-pura terlihat sedih tapi matanya itu tak bisa berbohong, dia tidak berduka sama sekali. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya." Xiao Yi langsung berbicara tanpa memberi kesempatan untuk Zhao Juren berbicara lagi.


Zhao Juren menatap Xiao Yi tak berkedip.


"Yang Mulia permaisuri...?" Zhao Juren tergeragap ketika kembali kepada kesadarannya.


Dia membungkuk segera dalam sikap hormat, sementara Li Jin tak berani mengangkat wajahnya.


"Yang Mulia permaisuri tidak pantas berada di sini. Jika Yang Mulia Yan Yue tahu, kita akan di berikan hukuman berat." Zhao Juren membungkuk semakin dalam.


"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk bertemu denganmu, Jenderal Juren. Aku harap apa yang kulakukan ini setimpal dengan apa yang bisa kamu lakukan untuk Yanzhi." Permaisuri Xiao Yi mengibaskan perlahan lengan mantelnya lalu melangkah maju.


Pengawal pribadinya, pengawal Cun berdiri di depan pintu dengan pakaian hitam pekat.


Malam merayap perlahan di atas istana Lantian, tak lebih dari sepeminum teh, dua kuda keluar dari gerbang istana itu, menembus kegelapan.


...***...


Zhao Juren berdiri di jalanan raya di luar Kota Nanxing, Empat hari yang lalu dia telah meninggalkan kota Yubei dan menyeberang lewat provinsi Liangsu dengan segala kepiawaiannya.


Paman Wang yang telah menjadi akrab dengannya, membantunya menyeberang dan kini dia telah kembali ke tanah Niang.


Kota Shizi tepat di luar kota raja, kota kecil ini masih bagian dari daerah provinsi Lijiang di luar kotaraja Nanxing. Tempat ini cukup ramai, mengingat berada di pinggiran kotaraja. Seperti namanya, Shizi, kota ini penghasil buah kesemek. Manisan kesemek dari Shizi terkenal sampai penjuru Niangxi. Buahnya bulat seperti tomat dengan tekstur daging buah yang padat, renyah dan lembut, hampir mirip seperti apel, segar dan manis di mulut sama sekali tidak terasa sepat.


Kesemek kering sering di jumpai di Shizi pada pertengahan musim dingin, karena di buat di penghujung musim gugur. Pada musim semi, buah kesemek segar dan manisannya bertaburan di setiap sudut jalan, sehingga kota shizi menjadi oranye.


Sejak kemarin sore, ia tinggal di dalam Kota Shizi, menyewa sebuah kamar pada sebuah rumah dengan satu halaman dan satu pintu, letaknya paling pinggir dan di permukiman yang tak terlalu ramai.


Dalam sekejap mata, suasana musim semi terasa semarak seperti halnya daerah Nanxing yang lain, akhir tahun sudah tiba, Kota Shizi dihiasi lentera berwarna-warni, suasana gembira terasa lekat.

__ADS_1


Pesta musim semi adalah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh banyak orang, tua muda bahkan anak-anak. Bagaimana tidak, pesta musim semi ini hanya terjadi setahun sekali, akan ada pesta lentera yang berwarna-warni dan beraneka macam bentuk, ada banyak manisan tanghulu.


"Selamat pagi, tuan Lian Ju."


Pemilik rumah adalah seorang nyonya berbadan gemuk bulat berusia di awal empat puluh. wajahnya sangat ramah, namanya Nyonya Pei. Suaminya adalah Tuan Pei seorang petani kesemek, mereka adalah keluarga sederhana.


"Selamat pagi, nyonya Pei." Zhao Juren menganggukkan kepalanya, tampaknya nyonya Pei baru pulang dari pasar, mereka berpapasan di jalanan. Anak perempuan nyonya Pei berumur delapan tahunan, sepertinya sangat suka pada Zhao Juren. Dari kemarin sore, ketika ia lewat di depan pintu, ia selalu menjulurkan lehernya untuk melihatnya, mata bulatnya menggoda Zhao Juren seolah dia merasa sangat tertarik pada Paman Ju yang tampan ini.


"Tuan mau kemana? Apakah tuan sudah makan pagi ini? Di rumah induk saya sudah menyediakan sup."


"Terimakasih nyonya, aku belum terlalu lapar sekarang sepertinya aku akan berjalan-jalan sebentar pagi ini. Aku bisa makan di kedai jika aku lapar." Zhao Juren tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu, nanti siang aku memasak daging untuk menyambut pesta tahun baru. Kami mengundang tuan Lian Ju untuk makan bersama jika mau."


"Oh, tentu saja nyonya, dengan senang hati." Zhao Juren segera pamit, mengakhiri obrolan mereka. Dia sangat tertarik untuk berjalan-jalan di kota Shizi ini, sebagai kota pinggiran kotaraja, tentu dia akan bisa mendengarkan banyak gosip dan informasi di sini.


Satu hal yang paling ingin diketahuinya, siapakah Xue Lian itu, yang bahkan Lin Hongse, tangan kanan jenderal Qui itupun menurut dan tunduk padanya?


Setelah itu, dia berharap bisa menyusup ke dalam kota raja dan menemukan siapa di antara bawahannya yang telah berkhianat padanya, sehingga di dalam peperangan memperebutkan kota Yichen, semua strateginya di bocorkan kepada pihak Niang.


Dan yang pasti, dia harus melakukan satu misi yang di berikan oleh Permaisuri Xiao Yi padanya, yang mungkin akan menghentikan ancaman perang besar dari Yang Mulia Yan Yue kepada Raja Nan Chen.


...Y



...


...Yang Mulia Yan Yue...


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2