
"Aku juga ingin mengumumkan satu hal..." Lanjutnya dan tetap membiarkan semua orang berdiri menunggu dengan penasaran apa yang ingin di katakannya.
"Aku akan mengambil seorang selir lagi pada hari ini."
Semua orang terlihat terkejut mendengar hal itu termasuk Nan Luoxia adiknya, memang bukan hal yang luar biasa jika raja ingin mengambil selir baru tetapi hal ini menjadi tak biasa ketika di umumkan pada sebuah acara penting istana. Hal ini menunjukkan perempuan ini istimewa tentunya bagi Yang Mulia Nan Chen.
Suara dengung di barisan para selir seperti bunyi lebah. Mereka jelas merasa keberatan dalam hati masing-masing tetapi tak biasa berbuat apa-apa. Satu lagi bertambah saingan, kesempatan untuk di sentuh raja mungkin perlu tahunan jika kurang peruntungan.
Permaisuri Lin Fangyin tak bergeming, mata itu sebeku batu es. Dia tak tahu harus menampakkan ekspresi bagaimana, hatinya sakit tetapi dia tak punya hak untuk berbicara mengenai urusan ini.
Perlahan permaisuri Lin Fangyin mengangkat cawan anggur di tangannya, sejenak bertatapan dengan raja, tatapan itu begitu nanar meski senyumnya menghias bibir merahnya, langit tahu hati dan wajah perempuan itu bertolak belakang.
"Mari bersulang untuk selir baru yang mulia..." Suaranya bergetar tetapi lantang. Lalu tanpa menunggu lagi di teguknya anggur dalam cawan, ketika dia mendonggak ke langit-langit, setetes air mata ratu ini jatuh. Hatinya sakit bukan kepalang tetapi perasaannya mati. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai permaisuri dan menanggalkan perasaannya sendiri di depan banyak orang.
Semua orang menyambut dengan gemuruh, memberi ucapan selamat kepada Yang Mulia Nan Chen dan tentunya juga untuk Nona Huan, penari cantik yang di sayang raja itu.
Nona Huan segera berdiri, tubuhnya terlihat melentik dalam gaunnya yang mewah itu dan berjalan gemulai penuh percaya diri ke tengah ruangan sambil memberi hormat kepada permaisuri Lin Fangyin yang menatap padanya dengan tatapan dingin di iringi pula tatapan iri cemburu hampir semua selir raja. Dia minum anggur di cawannya di depan Ratu Lin Fangyin dan Yang Mulia Nan Chen, sebagai bentuk terimakasih atas restu sang permaisuri.
Tatapan Yang Mulia Nan Chen bertemu dengan seorang perempuan yang berdiri di belakang adiknya Nan Luoxia, sesaat jelas dia terpana mendapati Bai Yueyin terlihat begitu cantik dan anggun dalam jubah ungu mudanya, dia seperti mawar es yang membeku, membalas tatapan sang raja. Seolah tak punya jiwa di dalamnya.
__ADS_1
"Sttt...kakak Yuhuan, lihatlah kakak Chen sudah punya istri baru, kakak tidak ingin mengangkat satu selir untukmu?" Nan Luoxia menyikut lengan kakaknya yang duduk di sebelahnya.
Pangeran Yuhuan hanya tersenyum samar dia tak menjawab, dia tahu istrinya yang duduk di sebelahnya sedang menunggu reaksinya.
"Aku tak perlu selir, adik." Jawabnya pendek. Tetapi mata itu menyembunyikan hal misterius saat menatap punggung perempuan yang membungkuk di depan Lin Fangyin. Matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan nona Huan yang terlihat sumringah itu.
"Kakak Chen memang suka serakah soal perempuan." Luoxia mengoceh sebelum minum lagi anggur di tangannya hingga habis.
"Tak baik berkata begitu adik, jika Yang Mulia raja mendengarnya..."
"Dia tak akan marah, Kak Yuhuan. Jika dia marah maka aku akan menghilang selama dua musim, aku yakin dia akan kelabakan mencariku." Nan Luoxia tertawa kecil tetapi matanya melirik pada Bai Yueyin, lalu perlahan tangannya menepuk lengan Yueyin. Dia tahu benar, cerita cinta Bai Yueyin di masa lalu dan bagaimana kakaknya terpaut hati pada Yueyin, sayangnya Yueyin benar-benar menolak menjadi salah satu dari perempuan yang berbaris dalam antrian sang raja. Dan Yueyin diberikan padanya tugas untuk menjaga Nan Luoxia bukan tanpa alasan. Supaya raja tetap selalu bisa melihat Bai Yueyin di dalam istana.
"Dengan cara apa lagi kamu meyakinkan aku, bahwa aku tak punya tempat lagi di hatimu. Benarkah seribu perempuan yang kamu kawini adalah bukti kamu melupakanku?" Bai Yueyin menggerang dalam hati dan membuang pandangannya, tepat pada Lin Hongse yang tengah menatap ke arah mereka. Hatinya berdegup pelan. Dia tahu tatapan Lin Hongse untuk siapa.
"Kak Yuhuan aku harus keluar sebentar, biarkan Yueyin menjaga kursiku ini. Perutku sakit sekali." Tiba-tiba wajah Luoxia meringis bersamaan dengan Yang Mulia Nan Chen menyelesaikan pidatonya. Suara musik mulai di mainkan, acara perayaan itu akan benar-benar di mulai dengan pesta.
"Hei! Tuan Puteri!" Belum sempat Yueyin protes, Nan Luoxia sudah keluar dengan mengendap-ngendap di belakang para pemusik yang memasuki ruangan dan segerombolan penari yang mulai menggerakkan badannya dengan gemulai menuju tengah aula.
***
__ADS_1
Zhao Juren adalah biasanya adalah orang yang selalu merencanakan semuanya sebelumnya dengan begitu rinci, begitu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam semua strategi di medan perang, ia adalah orang yang handal karena ia akan dengan tak terburu-buru maupun terlalu lambat membuat rencana aksi secara keseluruhan. Zhao Juren di segani oleh musuhnya dan di hormati oleh bawahannya. Apapaun yang direncanakannya setelah itu selangkah demi selangkah melaksanakannya dengan bersungguh-sungguh, tak perduli apapun yang terjadi, hal itu tak akan membuatnya berubah pikiran.
Tetapi sekarang dia hanya melongo sendiri dengan keadaannya yang membuat hati kecilnya sendiri prihatin. Bagaimana tidak, tanpa berfikir panjang dia telah menuruti semua rencana receh Changyi hanya demi bertemu dengan Xue Xue, seorang gadis yang ternyata adalah adik kandung raja dari negara musuhnya sendiri. Semula dia tak begitu yakin dan berharap, Xue Xue adalah perempuan lain paling tidak adalah hanya anak dari salah satu komandan pasukan seperti Xiao Yi, bukankah akhirnya tak akan serumit ini jika memang dia harus menaruh hati sekali lagi pada orang lain?
"Astaga!" Zhao Juren memukul kepalanya sendiri sambil meringkuk di atas tempat tidurnya sementara Changyi terlihat begitu ramai bersama beberapa orang pelayan yang tak bertugas di aula Harem dalam perjamuan malam ini.
Changyi terlihat begitu menjiwai perannya, menceritakan banyak bualan yang tak masuk akal dan anehnya para perempuan itu percaya saja dengan ceritanya. Diam-diam Zhao Juren curiga jangan-jangan Changyi memang sudah biasa menyamar jadi apa saja.
"Apakah aku harus segera menyingkir saja dari sini? Tapi aku harus bertemu Xue Xue sekali lagi..." Dia memainkan pakaiannya yang terbuat dari katun kasar untuk pelayan itu.
"Ju'er...kamu hampir menghilang satu sore ini, bibi Mei sampai marah padaku." Changyi tiba-tiba menoleh padanya menyela obrolannya dengan para pelayan yang haus gosip itu. Zhao Juren tak menanggapinya, dia sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Teringat wajah Xue Xue yang meminta dia tinggal tetapi pengawal perempuannya yang cantik itu bersikukuh mengusirnya tadi.
"Apakah pengawalnya tahu tentang siapa aku?" Zhao Juren sedikit khawatir, pengawal Xue Xue akan menggagalkan penyamarannya ini.
(Yuk, di vote novel ini biar semangat nulisnya🤣💪💪💪)
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏
__ADS_1
...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...