
"Hei, biasanya Yueyin yang mencicipinya sebelum aku memakannya. Bukankah kamu tahu, makanan anggota keluarga raja harus diperiksa lebih dulu. Sebagai adik raja, apakah kamu bisa menjamin bahwa tak ada orang yang tertarik untuk meracuniku?" Mata Nan Luoxia melotot lebar, tatapan itu mengingatkannya pada Xue Xue saat berada di pelukannya di tepi sungai ketika pertama kali dia membuka cadar Xue Xue.
Dengan raut yan ragu Zhao Juren menyendok makanan menggunakan sendok perak yang di gunakan terpisah di atas meja.
Alisnya naik asaat mencipi kuah sup sirip hiu yang jarang di makannya karena negara mereka jauh dari pesisir laut itu. Dan sekarang alisnya berkerut ketika makanan yang langka itu menyentuh ujung bibirnya.
"Ini...ini sangat enak." Zhao Juren berdecak tanpa sadar.
"Aku tak bertanya apakah itu enak atau tidak, yang aku mau tahu itu beracun atau tidak?"
Wajah Zhao Juren langsung masam. Dia merasa Nan Luoxia ini kalau tidak bodoh berarti memang sedang mepermainkan dirinya.
"Kalau ini beracun, aku mungkin akan mati setelah menyesapnya." Ucap Zhao Juren dengan perasaan kesal yang berusaha di sembunyikan.
"Yang ini lagi." Nan Luoxia menunjuk hidangan lain seperti daging yang di bakar dan di siram saos kedelai hitam.
Zhao Juren menatap sesaat pada Nan Luoxia, dia tak suka kedelai, jikaini di istananya mungkin makanan ini yang paling dahulu di singkirkannya dari hadapannya. Lalu di cicipinya perlahan, dahinya mengernyit, rasa gurih dari kedelai itu bukan sesuatu yang di sukai Zhao Juren.
"Kenapa? Tidak enak?" Tanya Nan Luoxia.
"Tidak beracun, yang Mulia tuan puteri." jawab Zhao Juren tanpa mengindahkan pertanyaan Nan Luoxia.
"Aku bertanya, enak atau tidak?"
"Tuan puteri tadi hanya memintaku memastikan, apakah ini beracun atau tidak..."
"Aku yang bertanya, kamu hanya menjawab sesuai pertanyaanku." Nan Luoxia menunjukkan mimik kesalnya, sikap Zhao Juren seperti sedang membalas perbuatannya tadi.
__ADS_1
"Silahkan di nikmati Tuan puteri, semua makanan ini aman dari racun. Jangan sampai tuan puetri kelaparan, saya mungkin akan berjalan tanpa kepala keluar dari gerbang istana ini jika membiarkan tuan puteri pingsan karena penyakit lambung." Zhao Juren membungkuk dalam-dalam.
"Huh...!" Nan Luoxia merengut, sikap kesalnya ini terlihat lucu, sekarang semakin mirip dengan Xue Xue.
Nan Luoxia mengambil sumpit dan mangkok lalu meletakkan mangkok dan sumpit yang lain di depan Zhao juren.
"Ayo kita makan." Ucapnya, sambil mulai mengambil makanannya sendiri. Terlihat dia sebenarnya tak biasa di layani.
"Tuan puetri ingin membunuhku?"
"Membunuhmu bagaimana? aku menyuruhmu makan bukan menyuruhmu bunuh diri!" Nan Luoxia terlihat membeliak, matanya bulat tak berkedip menatap Zhao Juren.
"Tuan puteri kepalaku mungkin akan hilang dari leher jika orang-orang tahu seorang pelayan ikut makan bersama seorang puteri Istana Nanxing." Sahut Zhao Juren sambil menundukkan wajahnya.
"Kepalamu akan baik-baik saja jika kamu makan denganku sekarang! Dan lagi siapa yang melihatmu makan bersamaku? Di dalam ruangan ini cuma kita berdua Ju'er. Apalagi..." Nan Luoxia melirik ke arah perut Zhao Juren.
"Aku punya sebuah cerita Ju'er." Nan Luoxia mulai mengunyah daging di mulutnya sambil berbicara, sikap ini benar-benar tak mencerminkan seorang pueteri yang di didik dalam tata krama istana. Sepertinya malah Nan Luoxia tidak terlalu perduli dengan itu. Keanggunan seorang puteri yang tampak ketika dia berada di de3pan publik itu menguap entah kemana.
"Dahulu kala ada seorang penyusup ke istana Nan, dia sangat ingin mengetahui bagaimana bagusnya tempat tidur seorang raja. Lalu dia menyamar menjadi seorang kasim. Berhari-hari dia keluar masuk dalam istana dengan bebas dan kamu tahu Ju'er? Ketika raja mengetahuinya, dia akhirnya menemukan takdir yang di inginkannya. Sang raja mengirimnya ke penjagalan Kasim dan memotong kelelakiannya hingga tak bersisa. Yang Mulia raja memang baik, dia tak pernah membunuh orang yang berusaha masuk ke istananya tetapi dia menjadikannya abadi sebagai pengawalnya. Itulah yang menjadi nasib kasim pribadinya sekarang, hanya membersihkan tempat tidur raja." nan Luoxia bercerita dengan sikap yang santai, tapi membuat Zhao Juren seketika merinding, memegang bagian bawah gaunnya.
"Apakah masuk tuan Puteri menceritakan ini padaku?" Tanya Zhao Juren sambil mengangkat wajahnya.
"Aku hanya teringat cerita lucu itu dan tiba-tiba ingin menceritakan padamu. Kadang-kadang langit memang aneh, dia bisa mengabulkan keinginan seseorang. Bahkan mebolak balikkan kenyataan yang mustahil. Kadang aku juga penasaran apakah orang yang bercita-cita ingin mejadi perempuan akan di kabulkan langit?" Nan Luoxia tertawa kecil, karena sambil mengunyah daging di mulutnya dia menjadi terbatuk-batuk. Suara ribut batuk nan Luoxia membuat Bai Yueyin membuka pintu utama itu dengan cemas.
"Tuan puteri? anda tak apa-apa?"
"Aku tak apa-apa, Yueyin, hanya tersedak sedikit karena terlalu semangat menyantap makanan enak ini." Nan Luoxia melambaikan tangannya menyuruh Bai Yueyin kembali keluar.
__ADS_1
Zhao Juren hampir tak bernafas beberapa saat, matanya mencuri pandang pada pedang yang ada di tangan Bai Yieyin, gadis berjubah hitam dengan wajah sebeku kutub utara itu menatpnya lebih takjam dari mata pedangnya.
"Aku hanya sedang makan sambil mengobrol cerita lucu dengan Ju'er yang manis ini, pelayan baru ini begitu lucu dan menyenangkan. Biarkan aku dengannya sedikit lebih lama. Sepertinya selera makanku bertambah karena melihat wajahnya ini." Nan Luoxia tertawa sumringah, mengusir kecemasan Bai Yueyin.
Perlahan Yueyin keluar dan menutup pintu kembali dari luar. Zhao Juren mulai yakin jika sekarang Nan Luoxia memang sedang mempermainkan dirinya.
"Tuan Puteri, sebaiknya saya pergi." Zhao Juren membungkuk. Nan Luoxia menghentikan tawanya lalu menatap tajam pada Zhao Juren.
"Saya meninggalkan pekerjaan saya terlalu lama, dayang Mei mungkin sedang mencari saya." Dalih Zhao Juren kemudian.
Nan Luoxia meletakkan sumpit di tangannya, lalu perlahan berdiri. Tatapan itu tajam dan menusuk sampai ke jantung Zhao Juren.
"Berdirilah..." Ucap Nan Luoxia dengan suara yang datar, kembali pada gaya seorang puteri kerajaan yang terhormat.
Zhao Juren berdiri dan mebungkuk di depan Nan Luoxia, dia tak ingin lagi brtatapan denag perempuan yang membuatnya menjadi bingung ini.
"Angkat wajahmu..." Perintahnya, dalam nada yang rendah. Zhao Juren tak menuruti, dia hanya ingin segera keluar dari kamar ini. Andai Nan Luoxia dan Xue Xue adalah orang yang berbeda, maka dia bertekad mencarinya di setiap sudut istana Nan, tak perduli jika adik raja ini mencurigainya sekarang. hatinya hanya sedang berkata, Xue Xue berada tak jauh darinya. hanya perempuan itu harapannya untuk membatalkan perang yang mungkin akan terjadi dalam dua bulan ke depan.
"Angkat wajahmu, Jenderal Zhao. Jangan mempermalukan dirinya dengan menunduk di depan seorang perempuan..."
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏
...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...
__ADS_1