
Cahaya remang berkedutan dari lentera di atas meja, pantulan cahaya di ombak jernih, kabut menyelimuti wajah lelaki itu, sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah senyuman sarat rindu. akhirnya dia tersenyum tersenyum melihat kekakuan Xue Xue lalu mementang sepasang lengannya lebar-lebar sambil berucap pelan dengan suara lembut, "Aku sangat merindukanmu".
Xue Xue tak bisa menahan gelombang perasaannya, dia gadis yang baru tahu rasanya rindu dan jatuh cinta, gadis yang tak bisa mengatasi kegundahannya sendiri setelah di cium Zhao Juren di bukit Yanshan.
Dengan nafas memburu Xue Xue memeluk erat tubuh Zhao Juren, emosi aneh itu menggelegak, setetes air mata menitik dari mata wanita itu, dan ia pun tak menghapusnya.
"Kenapa...kenapa kamu mempermainkan aku?" Keluhnya di sela isak tertahan.
Dia tak tahu kenapa dia menangis, hanya rasa rindu itu seperti badai yang menghantam dadanya di antara banyak masalah yang merundung hidupnya akhir-akhir ini, rasanya dia ingin menangis sekerasnya dan berharap Zhao Juren membawanya pergi.
Waktu merangkak dengan tenang terus berjalan. Lentera memancarkan sinar yang pucat pasi, bagai bulan di angkasa.
Delapan belas tahun dia tinggal di istana antara hidup dan mati dengan segala perubahannya, setengah hidupnya melalui jalan yang begelombang, mengembara tak tentu arah, menjadi penguat bagi kakaknya, sang raja boneka itu yang tak punya tumpuan berdiri. Mereka adalah sandera politik perdana menteri tetapi Xue Xue dan Nan Chen telah belajar banyak dalam tekanan yang melelahkan itu, sekarang mungkin mereka kalah dalam perang melawan Yanzhie tetapi setidaknya mereka akan segera memenangkan peperangan dalam istananya sendiri meski begitu banyak yang di korbankan.
Dirinya bagai kiambang yang terombang-ambing di tengah hujan, dan akhirnya berjalan sampai ke jalan buntu ini. Dahulu dirinya ditahan oleh ambisi, oleh entah begitu banyak belenggu, pasif tak berdaya, keras kepala, lemah, dan bersedih, tapi sekarang, wanita yang bersedih dan tak berdaya itu akhirnya mati bersama dengan takdir yang penuh belenggu itu. Dia menjadi pejuang keras tetapi tetap saja menjadi begitu cengeng saat berada di pelukan Seorang lelaki bermata gelap dingin tetapi lembut itu.
"Aku tak pernah merasa merindukan orang seperti saat ini."
Air matanya jatuh di pundak Zhao Juren, seberkas angin bertiup, api lilin dalam lentera itu pun padam tertiup angin, hanya menyisakan asap hitam yang membumbung dan berpusar-pusar.
Sisa lentera di dinding yang meliuk-liuk di terpa angin tetapi berusaha tetap menyala.
__ADS_1
"Aku juga sangat rindu padamu, aku tahu berat sekali semua yang kamu lewati tetapi itu tentu akan menguatkanmu." Zhao Kuren menarik napas dalam-dalam, mengelus punggung Xue Xue dengan lembut.
Xue Xue menghapus air matanya, Ia bersumpah, bahwa ini adalah air mata terakhir seumur hidupnya, sejak saat ini, sampai titik darah terakhirnya menetes, dirinya tak akan menangis dengan tak berdaya lagi. Sekarang dia merasa di depannya, tiba-tiba muncul secercah cahaya terang benderang, seperti bulan yang tersampir di tengah pohon liu hijau, Nan Yuhuai yang mengenakan jubah ringan berdiri dengan tegak di depan pintunya seakan tersenyum seperti biasa.
"Adik, apakah kamu sekarang baik-baik saja?" Suara sapaan itu seakan baru kemarin saja.
Xue Xue mengerjap matanya dan bayangan kakaknya yang selalu memikul kesedihan sepanjang hidupnya itu seakan berlalu.
Ya, Nan Yuhuai dengan sebuah rahasia yang di simpan ibunya sampai akhir, pangeran yang di ramalkan pada saat kelahirannya di saat bulan mati itu akan membunuh saudaranya sendiri demi tahta. Pangeran yang akan merebut semua milik raja sampai ke wanitanya. Kelahiran Nan Yuhuai yang hanya berselang 10 bulan dari kelahiran putra mahkota di anggal sebagai ancaman, sehingga sang ratu mengirimnya saat belia ke gunung supaya tidak menjadi ancaman bagi sang kakak.
Dan entahlah, langit adalah misteri, takdir adalah sesuatu yang tak di ketahui, tak ada ramalan yang benar-benar tepat.
Buktinya sekarang Nan Yuhuai memilih takdirnya sendiri, mati dengan racun yang di minumnya.
Xue Xue memandanginya dengan haru, lelaki asing ini dalam sekejap telah mengambil tempat istimewa di hatinya, sinar rembulan yang bagai perak menghujani mereka, membuat lantai menjadi putih keperakan di timpa cahaya dari lobang-lobang angin, dirinya mengangguk-angguk tanpa bersuara, lalu berkata dengan dengan suara rendah, "Tak mungkin lebih jelas lagi, aku tahu kamu di sini".
"Api lilin dapat ditiup angin hingga padam, namun kehangatan hati tak dapat menjadi padam. Jangan menangis lagi".Zhao Juren menyeka mata panglima perang perempuan yang di kaguminya diam-diam itu.
Mereka berdua sesungguhnya adalah dua orang jenderal yang terdampar di dalam sebuah rumah kayu, menjadi dua orang yang kelelahan dalam tugasnya.
"Sejak saat ini, aku bersumpah akan menjadi lenteramu Xue Xue, dan hatiku akan menjadi api lilin di dalam lentera itu. Aku tak akan mengijinkan kamu menangis lagi. "
__ADS_1
Xue Xue membenamkan tubuhnya dalam pelukan Zhao Juren, rasanya tenang mendengar perkataan itu.
Perlahan Zhao Juren mengangkat dagu Xue Xue, matanya tak berkedip menatap mata gadis muda itu lalu dengan perlahan kepalanya menunduk.
Sebuah ciuman yang amat pelan, lembut dan mendebarkan di daratkan bibir lelaki ini. Hangat menjalar seperti di timpa air hujan di tengah terik musim panas.
Xue Xue memejam matanya, tubuhnya melengkung dalam pelukan Zhao Juren, dia memasrahkan diri saat jemari lelaki itu merayap dari punggung hingga pangkal lehernya, menahannya di sana sementara dia menyesap bibir Xue Xue.
Deburan aneh itu, suara degup itu, seakan mereka saling mendengarkan suara jantung mereka sendiri.
Dan sekejap kemudian Xue Xue merasa melayang ketika pelukan itu menjadi begitu erat dan menekan, dadanya seakan meruah. Berdegupan tak karuan.
Zhao Juren menyentuh setiap jengkal tubuh Xue Xue dengan tenang, dia adalah pria dewasa yang tak hanya satu kali pernah bercinta, jelas dia berpengalaman jauh di atas perempuan polos ini. Sentuhan Zhao Juren yang lembut itu sama sekali tak tergesa, mempermainkan er@ngan Xue Xue yang terdengar lirih tanpa mengijinkan matanya terbuka.
Zhao Juren mencumbunya seperti melatih setiap sudut kesabaran, sementara bibirnya terus menciumi seluruh permukaan wajah Xue Xue dari mata, hidung, hingga dagunya. Helaan nafasnya yang hangat membuat kulit halus Xue Xue meremang.
"Apakah aku boleh melakukannya?" Bisik Zhao Juren di telinga Xue Xue, serak, meski nafasnya masih teratur tak seperti Xue Xue yang nyaris kehilangan kesadarannya.
(Maafkan akak othor ya, lamaaaaa upnya, hari ini dobel up deh untuk mengobati rindu🤭🤭🤭 tapi tarik nafas ya bacanya, yang belum cukup umur melipir ke pinggir, bab selanjutnya area dewasa🤣🤣🤣)
__ADS_1
Yuk di vote ya🥰🥰🥰 othor nantikan duk