
Cahaya datang sebelum matahari terbit, transisi dari malam menuju terang. Zhao Juren teringat pada sebuah surat yang di berikan padanya oleh Xue Xue yang misterius itu.
Dengan tangan gemetar Zhao Juren meraih kertas dari balik jubahnya, dia akan membuka surat itu untuk memastikan kebenaran apa di balik cerita Xue Xue yang tak masuk akal itu.
Kertas usang itu seperti begitu lama dan mungkin telah di buka berkali-kali, dan tulisan yang berbaris rapi serta hampir pudar itu sangat dikenalnya, itu memang tulisan tangan Jiu Fei.
Zhao Juren pernah menerima surat dari Jiu fei bertahun-tahun yang lalu, saat dia masih menjadi biksuni di kuil Sunyen. Surat pendek yang ditulis Jiu Fei untuknya hanya menanyakan kabar Yang Mulia Yan Yue. Dan ketika Xue Xue mengatakan Jiu Fei hanya mencintai dirinya, semua itu terasa seperti omong kosong saja.
Bulan ke sembilan tahun naga emas.
Adik Xue, aku menulis surat ini pada saat salju pertama di musim dingin ini turun. Tapi aku ingat ini adalah hari ulang tahunmu, maafkan kakakmu ini yang tak pernah bisa lagi membuatkanmu tanghulu dari murbei dan kesemek kesukaanmu. Tapi, dari tempat manapun aku akan selalu meniupkan banyak cinta padamu.
Adik Xue,
Aku selalu bercerita padamu tentang dinginnya Yanzhi bahkan hampir di setiap musimnya bagiku hampir tiada berbeda.
Yubei tak sehangat Nanxing, aku selalu merasa kedinginan di sini.
Hampir tiga tahun aku mendekam di dalam kuil ini entah berapa banyak tahun sudah aku meninggalkan tanah Niangxi, tetapi aku tak bisa melepaskan rindu ini. Dosaku terlalu besar, tapi demi langit yang mengantarku pada tanah yang kejam ini, aku tak bisa mengatakan menyesalinya karena di tempat ini aku bertemu cinta yang ku cari.
Suatu saat kamu akan mengerti, kenapa keberanian ini ku miliki, bahkan meski demi ini, darah dan tulangku di tolak oleh tanah kelahiranku sendiri.
Di tempat ini, aku memasung semua keinginan dagingku tapi tetap tak bisa meleburkan satu rasa bahwa aku begitu mencintainya sampai saat ini.
Tetapi, tahukah kamu apa yang lebih sakit? Aku bersembunyi di balik perasaanku yang lain hanya demi melindungi perasaanku padanya. Semua orang hanya tahu, aku di cintai oleh pangeran Yan Yue tetapi tak ada yang benar-benar tahu kepada siapa aku menyerahkan hatiku.
Nyawa dan darahku berani kupertaruhkan pada orang yang mencintaiku tetapi hidupku yang hampa ini hanya di mengerti oleh orang yang ku cintai.
Dia, bukan siapa-siapa, tetapi dia yang melihat siapa diriku sebenarnya lebih dulu dan mencintaiku tanpa mempertanyakan aku musuh atau teman.
__ADS_1
Malam di tengah hujan dalam ceruk yang lembab itu, aku dengan suka rela membiarkannya menjamahku, apakah itu tanpa alasan? Perempuan menyerahkan tubuhnya tidak karena nafsu semata tetapi karena perasaan.
Dan setelahnya, aku bahkan menikmati setiap dosa terindah bersamanya tanpa perduli neraka mana yang menganga menyambut kami.
Aku bersumpah, hanya dia satu-satunya yang pernah menyentuh tubuhku, menciumi setiap lekuk ragaku.
Dulu aku mengira aku jatuh cinta pada Yan Yue tetapi aku ternyata tersesat dalam perasaanku sendiri, saat terjaga mataku tertuju pada Yan Yue tetapi saat mataku terpejam yang ku fikirkan adalah Zhao Juren.
Apakah ini kejahatan? ataukah tuaian karma dari keserakahanku?
Adik Xue, maafkan aku menulis surat ini padamu yang belum dewasa tetapi aku tak tahu kepada siapa aku berbicara lagi.
Kuil ini terlalu sepi dan dindingnya terlalu rapat untukku melepaskan beban ini. Sampai hari ini pun, hanya Juren yang terus menjagaku sehingga nembuatku tak merasa asing di tanah ini. Hanya dia yang meski tahu sebesar apapun kesalahanku tak pernah mengkhianatiku dan memalingkan wajahnya dariku.
Aku mencintainya, aku mencintainya dengan tanpa kata yang layak, tanpa pengorbanan yang cukup, tanpa apapun bahkan meski untuk membuatnya sekedar tahu saja adalah hal yang tabu.
Baiklah, aku mengakui...aku terbiasa untuk berada di samping Yan Yue, aku tak bisa meninggalkan singa yang mencintaiku kesepian, aku juga takut mematahkan hatinya jika dia tahu cintaku padanya tak sebesar harapannya.
Andai aku tak bisa mengatakan kebenaran ini sampai akhir hayatku, aku bermimpi di saat aku harus mati, aku ingin menutup mata di pelukannya, aku berharap langit berbaik hati mengijinkan keinginan lancangku ini
Aku sungguh bersedia suatu saat mati demi Yan Yue yang begitu memujaku tetapi aku ingin mataku menatap terakhir kali pada orang yang ku cintai. Apakah itu mungkin?
Astaga, adik Xue, betapa panjang yang ku tuliskan padamu, aku harap kamu tak bosan dengan surat-suratku.
Aku mungkin akan lama menulis surat lagi padamu, akhir-akhir ini ibu suri semakin ketat mengawasi kuil ini. Tetaplah menjadi Xue Xue yang manis, berlatihlah pedang dengan giat jangan lupa kipas jarum itu harus kamu kuasai dengan benar.
Xue Xueku yang manis, tuan puteriku yang cantik jagalah tanah Niang kita, semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi.
Kakakmu,
__ADS_1
Jiu Fei.
Zhao Juren merasa dadanya sesak, dia bersandar dengan lemas di bawah pohon Liu. Bibirnya gemetar, air matanya merembes begitu saja di sudut matanya. Matanya yang memerah seolah menyaksikan ulang setiap kenangannya di masa lalu bersama Jiu Fei.
Remahan kenangan itu tertatih-tatih melewatinya, dan Zhao Juren melihat Jiu Fei yang cantik dan muda berdiri di bawah pohon wutong yang rimbun menunggunya di suatu malam dalam belantara Yanshan. Ia mengenakan sebuah gaun lusuh berwarna biru pupus, menunduk dengan berlinangan air mata.
"Jangan temui aku lagi..." Jiu Fei menahan isaknya. Tapi Zhao Juren mendekatinya dengan terburu, memeluknya di antara pekat malam.
"Afei, aku merindukanmu. Aku gila ingin memelukmu!" Zhao Juren hanya tahu perasaannya tetapi tak pernah menanyakan kenapa Jiu Fei selalu menangis saat bertemu dengannya.
Lalu ingatannya pada wajah pucat Jiu Fei di akhir hidupnya, tak berdaya dalam dekapannya. Darah merembes dari lukanya mengantar kesakitan pada raut Jiu Fei tanpa rintihan sama sekali.
"Afei? Apa ini? Tentang apa ini? Kamu tak pernah mencintaiku! Kamu hanya menuruti keinginanku saja, bukan? Kamu tak pernah mencintaiku!" Kalimat itu keluar beruntun dari bibir Zhao Juren, dadanya terasa seperti di himpit batu.
Zhao Juren lebih suka dengan kenyataan bahwa Jiu Fei tak pernah mencintainya dari pada tahu perempuan itu begitu dalam menyimpan perasaan padanya. Zhao Juren tak bisa menerima, mereka berdua dipermainkan takdir dengan begitu kejamnya.
"Tuan! Tuan!" Lamat-lamat sebuah panggilan sampai di telinganya.
"Tuan, apakah tuan ingin menyeberang?" Pertanyaan itu terdengar semakin jelas. Zhao Juren dengan kasar menghapus air matanya dengan punggung tangannya, mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dan mendapati seorang lelaki ceking bertopi jerami berdiri di atas perahu kayunya. Sebatang kayu di tangannya terhujam ke pinggir sungai, menahan perahu itu supaya tidak terbawa arus yang tak seberapa kuatnya itu.
"Ya, aku ingin menyeberang!" Sambut Zhao Juren segera, bangkit dari tempatnya duduk. Kertas di tangannya segera di lipatnya kembali dengan terburu-buru.
Di tatapnya ke belakang sesaat, ke arah pepohonan mapel dan Willow. Jiu Fei seperti sedang berlari di antaranya, mengangkat gaun lusuhnya. Rambutnya yang panjang itu berkibaran di tiup angin. Lalu menghilang.
Zhao Juren menghela nafasnya, kebenaran usang ini benar-benar menyakitkan hatinya.
Dirinya dan Jiu Fei, adalah cinta yang tak terungkapkan bahkan hingga kematian.
__ADS_1