
Aula Kebesaran adalah Aula yang di bangun oleh Raja Nan generasi ke-3. Bangunan itu berada di tengan kota raja Nanxing, beberapa ratus li dari lingkungan Istana Nan yang megah.
Aula itu sudah di hias sedemikian rupa karena perayaan besar ini di laksanakan hanya satu tahun sekali. Pangeran dan puteri Nan jarang sekali keluar dari dalam lingkungan istana, karena aturan ketat kerajaan tidak memperbolehkan anggota kerajaan keluar masuk istana sesuka hati.
Pada perayaan ini, akan ada perhelatan di laksanakan di aula, di isi dengan suguhan tarian dan musik dari penjuru kota bahkan negeri. Dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Boleh di hadiri semua lapisan masyarakat sebagai penonton meski tetap di buat jarak dan pengawalan khusus untuk anggota kerajaan, dalam hal ini mencegah hal-hal yang tak di inginkan.
Pada pesta lentera ini di Nanxing, bagi petinggi-petinggi menghadirkan putera puteri mereka berharap bisa dilirik oleh pangeran atau puteri. Dan bagi para penari dan penyanyi terbaik, mereka mementas seni sekaligus mengadu peruntungan untuk bisa masuk ke dalam istana Nan.
Di kalangan rakyat, mereka berbaur meski hanya sekedar menyaksikan dari jauh tetapi tetap mengadu nasib, siapa tahu mereka bertemu jodoh para bangsawan.
Nanxing, mempunyai peraturan yang tak biasa berangkat dari raja mereka yang menikahi banyak wanita. Saudara-saudara raja boleh memiliki istri lebih dari satu tapi tidak boleh melebihi tujuh. Itu adalah peraturan dari sejak jaman raja Nan ke-3.
Sementara raja sendiri boleh memiliki istri atau selir sebanyak-banyaknya. Jika raja menyukainya, maka dia boleh memperisterinya tetapi bukan perempuan yang terikat pernikahan dengan laki-laki lain.
Para puteri Nanxing yang cukup banyak jumlahnya terlahir dari selir-selir raja boleh memilih suami dari semua kalangan. Tetapi jika mereka menikah dengan rakyat biasa, maka boleh tinggal di lingkungan luar istana dan keluarga istana akan memberi kompensasi kekayaan sesuai haknya. Hal inilah yang menggiurkan para pemuda Niangxi menikahi puteri istana. Mereka tahu kekayaan para istri raja tak main-main, jika mendapatkan warisan karena pernikahan bukankah itu menjamin kehidupan mereka?
Changyi adalah salah satunya, pemuda tanggung anak seorang guru di sebuah akademi umum itu tidak suka belajar seperti ayahnya, dia hanya bermimpi menikahi perempuan dari istana.
"Lihat, kita sudah sampai." Changyi berkacak pinggang dengan sebelah tangan, mereka tiba di samping pekarangan aula, tak jauh dari barisan pengawal yang berbaris rapat di sana.
__ADS_1
Zhao Juren menaikkan alisnya, dia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Changyi, anak ini pastilah sangat mengenal seluk beluk jalan kota ini, kota terpadat di Niangxi.
"Itu adalah aulanya, lihatlah kursi-kursi emas yang di sediakan di sana, itu untuk raja dan ratu, dan di belakangnya terdekat adalah kursi untuk saudara saudari kandung raja. Yang berjejer di sebelah kiri kanan itu kursi untuk anak-anak Yang Mulia dari ratu. Yang berada di kiri kanan memanjang ke depan itu, kursi- kursi berwarna perak adalah untuk para saudara saudari raja dari selir raja terdahulu. Paling depan kita ini untuk para bangsawan dan dewan istana." Changyi menjelaskan.
"Oh, begitu..." Zhao Juren mengangguk-anggukkan kepalanya, dia merasa suasana istana di Nanxing jauh berbeda dari suasana istana di Yanzhi.
"Hal ini saja anda tak tahu, berarti anda memang tak pernah menghadiri pesta lentera sebelumnya." Tebak Changyi.
Zhao Juren menggelengkan kepalanya sedikit, sekedar mengiyakan.
Di Yanzhi, keluarga inti kerajaan tak begitu banyak. Pangeran dan puteri juga bisa di hitung dengan jari. Pernikahan di Yanzhi di anggap sakral, raja menikahi boleh lebih dari satu tetapi sekedar pernikahan politik saja. Pangeran sekalipun tidak boleh menikahi lebih dari tiga. Tetapi raja memiliki satu permaisuri agungnya yang mengatur isteri-isteri raja yang lain di haremnya.
Sejak Xiao Yi menjadi ratu, malah sekarang perjodohan yang tak di inginkan tidak bisa lagi terlalu di umbar. Xiao Yi menganggap banyak intrik dan masalah dari kecemburuan dan keterpaksaan yang bisa menjadi bibit permasalahan yang lebih besar dalam istana.
"Aku dari selatan jauh." Sahut Zhao Juren sekenanya.
"Aaaa...itu sudah jelas. Tuan Lian Ju ini terlihat seperti para pendatang saja, kebanyakan celingak celinguk bingung dari tadi." Changyi terkekeh senang sambil menggoyang lenteranya. Ada batas khusus yang tak boleh di lewati rakyat biasa, mereka berdiri tak jauh dari batas itu dan paling depan hampir berhadapan langsung dengan aula kebesaran yang luasnya hampir seratus li itu.
Zhao Juren tak menyahut lagi, dia fokus melihat ke depan, orang-orang berdesakan dari jauh mengikuti rombongan kereta yang baru saja tiba. Dan tempat yang dipilih Changyi benar-benar strategis. Mereka bisa melihat dengan jelas siapa saja yang turun dan menghadiri pesta Lentera malam ini.
__ADS_1
Rombongan orang sedikit demi sedikit maju ke depan, di sepanjang jalan terdengar suara mengelu-elukan raja dan para keluarga istana di sertai tawa gembira yang hangat, suara tetabuhan menulikan telinga.
Kereta pertama tiba, mewah dan sangat indah. Yang turun bukan raja atau ratu, dia adalah pangeran kedua, Nan Yuhuai. Adik kandung raja ini tak kalah tampannya dari Yang Mulia Nan Chen Xuetiau, dia sudah menikah dengan seorang anak perdana menteri, rumor mengatakan pernikahan itu kurang berhasil tetapi bertahan karena pengaruh perdana Menteri yang cukup kuat di Niangxi.
Di kereta kedua di belakangnya, seorang gadis turun dengan pakaian dari sutra perak kemilau berajut benang emas, lehernya tinggi hampir menyentuh telinga. Riasannya begitu mewah dengan anting berjuntai khas istana Niangxi.
Ketika dia turun dari kereta kerajaan itu, gaun panjangnya itu menyentuh tanah, menutupi sepatunya yang mengkilat.
"Dia puteri Nan Luoxia, adik perempuan Yang Mulia Nan Chen, dia yang tercantik di Nanxing!" Changyi menyenggol lengan Zhao Juren.
Mulut Zhao Juren masih melongo tak terkatup. Bukan karena kecantikan itu yang memukaunya hingga hampir tersihir tak bergerak. Tetapi, dia mengenal dengan baik siapa perempuan itu, meski dia berdandan sedemikian rupa dengan bingkai aksesoris termahal di Niangxi.
Seseorang yang mungkin berbeda jika sekilas dilihat tetapi Zhao Juren mengenali matanya yang berkilat seperti berlian itu.
"Apakah...apakah aku tak salah lihat?" Zhao Juren mengucek matanya, ketika gadis itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis pada dayang yang membantunya memegang ujung jubahnya.
"Apakah dia adalah orang yang sama? Puteri Nan Luoxia adalah...adalah...."
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa...