
Changyi terlihat begitu menjiwai perannya, menceritakan banyak bualan yang tak masuk akal dan anehnya para perempuan itu percaya saja dengan ceritanya. Diam-diam Zhao Juren curiga jangan-jangan Changyi memang sudah biasa menyamar jadi apa saja.
Bagi Zhao Juren mengenakan baju perempuan dengan tubuh laki-laki ini rasanya begitu berat, rasanya mau mati saja jika tidak terlanjur di lakoni tetapi tidak demikian dengan Changyi, dia melakukannya tanpa beban.
"Apakah aku harus segera menyingkir saja dari sini? Tapi aku harus bertemu Xue Xue sekali lagi..." Dia memainkan pakaiannya yang terbuat dari katun kasar untuk pelayan itu. Berbaring menyandarkan punggung di tembok, kasur yang jadi alasnya terasa tipis dan tak nyaman.
"Ju'er...kamu hampir menghilang satu sore ini, bibi Mei sampai marah padaku." Changyi tiba-tiba menoleh padanya menyela obrolannya dengan para pelayan yang haus gosip itu.
"Kemana saja kamu?" Tanya Changyi dengan gaya genit di buat-buat. Sikap feminim Changyi membuat perut Zhao Juren mual.
Zhao Juren tak menanggapinya, pura-pura tak mendengar sementara dia sibuk dengan isi kepalanya sendiri.
"Kamu kemana saja Ju'er? kakakmu sampai tak karuan cemas kehilangan jejakmu" Salah satu pelayan menimpali, dia menaikkan alisnya tinggi-tinggi sambil melipat beberapa kain bersih untuk penyaring kukusan.
"Akh, aku hanya tersesat dalam istana ini." Jawab Zhao Juren sekenanya, dia malas berinteraksi dengan para perempuan yang mulutnya tak bisa diam itu.
"Sejak kamu tiba tadi, kuperhatikan kamu banyak melamun. Jangan-jangan kamu bertemu pengawal gerbang utara yang gagah-gagah itu." Salah satu pelayan berbadan sedikit gempal masam sendiri saat menuduhkan hal itu pada Zhao Juren.
"Wah, itu adalah impianku dalam sepekan ini, mengantarkan ransum pada mereka." Celetuk yang lain dengan di sertai cekikikan.
"Ju'er? apakah kamu kesana?" Semua orang sekarang menghadapnya dengan wajah berbinar-binar. Hal ini membuat Zhao Juren salah tingkah sendiri.
"Aaa...tidak...aku tidak ke sana!" Zhao Juren melambai-lambaikan kedua telapak tangannya dengan wajah memerah. Di tatap oleh 5 pasang mata perempuan meski sepasang yang lain adalah perempuan jadi-jadian tetap saja membuat Zhao Juren merasa seperti sedang di sidang.
"Yi yi, lihatlah adikmu itu meskipun badannya lebih tinggi dan sedikit kekar darimu, tapi kulitnya mulus sekali. Rambutnya hitam terawat, dan kalau di lihat-lihat dia sungguh cantik." Puji salah satu dari pelayan itu mrnyeletuk. Membuat telinga Zhao Juren terasa terbakar.
"Kenapa dia berbeda denganmu, Yi yi? Kalian benar-benar saudara atau bukan?"
__ADS_1
"Astaga, biarpun dia sebagus itu di mata kalian, Ju'er itu tetap adikku, tepatnya adik dari istri ayahku yang lain. Meski dia lebih cantik dariku, tetapi dia tak akan bisa bercerita pada kalian tentang indahnya berkencan dengan pengelana dari selatan, menemaninya makan, mengoleskan minyak di dadanya yang berbulu..." Si Changyi yang lancar membual itu segera mengalihkan perhatian para gadis itu. Menyelamatkan Zhao Juren dari pasang-pasang mata yang dari tadi seakan ingin mengulitinya.
"Haiiiih..." Zhao Juren menghela nafasnya. Setidaknya Changyi yang senang bercerita mesum dengan para pelayan itu menyelamatkannya dari obrolan yang bisa saja membongkar penyamarannya.
"Kamu tidak membersihkan diri, mandi dan berganti pakaian?" Celetuk seorang pelayan yang lain dengan wajah menyelidik. Dia sedari tadi tidak ikut grup Changyi yang ramai itu.
Zhao Juren hanya melirik saja, dia merutuk dalam hati, bagaimana mungkin dia bisa membersihkan diri dan mandi di kamar mandi yang sama dengan perempuan dan lagi berganti pakaian dalam aula terbuka seperti ini, memikirkannya saja Zhao Juren tak bisa.
"Kalau kamu tak punya baju, aku bisa meminjamkannya padamu, mungkin agak kekecilan untukmu tetapi yang penting bersih." Tawarnya.
"Kebetulan aku juga belum mandi. Kita bisa mandi bersama." Lanjut pelayan itu sambil berdiri dia bersiap untuk membuka baju luarnya dengan tanpa malu-malu. Hal itu biasa di lakukan oleh penghuni aula pelayan itu mengingat meraka semua perempuan. Jadi urusan berganti baju di tengah orang banyak adalah gal biasa.
"Oh, terimakasih. Aku sedang tidak enak badan jadi aku tidak akan mandi." Zhao Juren menjawab gugup sambil memalingkan wajahnya.
"Eh, kamu sakit Ju'er? biar di laporkan ke tabib pelayan."Pelayan itu membulatkan matanya.
"Astaga, bagaimana bisa aku terjebak dalam ruangan ini?!" Rutuk Zhao Juren dalam hati. Ketika dia mengangkat wajah sang pelayan yang kebetulan tempat tidurnya bersebelahan dengan dipan kayunya itu, sudah melepaskan atasannya, sisa doudo warna putih beras melilit dadanya.
Dengan tanpa aba-aba Zhao Juren melompat dari atas tempat tidurnya.
"Brak!!!" Kakinya mengenai sebuah tempat pelita dan membuat sebuah mangkok jatuh berkeping di lantai.
Semua orang sekarang memperhatikan Zhao Juren karena terkejut.
"Oh, maaf..." di tariknya tangan Changyi dengan tanpa perduli si kemayu jadi-jadian itu hampir tersedak karena sedang minum secangkir air, di sela kelelahan membual. lalu segera dia keluar dari dalam kamar itu setengah menyeret sang teman.
"Hey, kenapa denganmu?!" Changyi yang masih belum pulih dari rasa terkejut menghentikan langkah Zhao Juren tepat di bawah sebatang pohon wutong, samping aula itu.
__ADS_1
"Kamu tidak lihat mereka akan mengganti pakaian, kamu mau menontonnya? Aku sudah bilang kita tak bisa tidur malam ini di satu kamar dengan para perempuan itu." Zhao Juren bergumam geragapan sambil merutuk panjang pendek.
Changyi hanya cengengesan masam mesem tak jelas.
"Astaga, hanya karena perempuan berganti pakaian kamu lari lintang pukang." Changyi akhirnya tergelak.
"Akh, Kamu membuatku kehilangan peruntungan mata."
"Dasar otak mesum!" serapah Zhao Juren, temannya ini benar-benar kelewatan.
"Kita tidak bisa tidur di sana!" Zhao Juren melotot pada Changyi, mimiknya yang maskulin itu terlihat lucu dalam tampilan perempuan.
"Kita hanya tidur, tidak melakukan apa-apa. Tidak ada salahnya itu." Tukas Changyi.
"Pokoknya kita tidak tidur di dalam. Kalau perlu kita berdua tidur di bawah pohon ini. Atau besok kita berdua keluar dari sini segera." Zhao Juren bersikeras. Changyi yang mesem-mesem dari tadi akhirnya menaikkan alisnya bersikap sedikit serius.
"Sudahlah, aku akan datang ke bibi Mei kalau begitu, aku akan menanyakan apakah kita berdua bisa menginap di gudang dapur saja kalau kamu keberatan kita tidur bersama para gadis itu." Changyi akhirnya ngeloyor pergi meninggalkan Zhao Juren yang berdiri dengan muka masam di bawah sebuah pohon Wutong di samping aula pelayan itu.
"Sttt..." Sebuah tangan menarik lengan Zhao Juren dari belakang pohon.
"Ikut denganku!"
...CHANGYI...
Yuk, di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, hari ini di usahakan double UPπ€ππππππ
__ADS_1