CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 94. INGIN BERTEMU ORANG YANG SAMA


__ADS_3

Zhao Juren terpana, suara itu sangat di kenalnya. Dia tahu benar, pernah begitu akrab dan kadang membuatnya kesal. Kepalanya segera terpaling menatap pada pemuda lusuh di sampingnya itu, meneliti dengan tak yakin,


"Changyi?"


Changyi menoleh dengan kepala tertunduk, suara raungannya itu menyayat hati tetapi sempat-sempatnya sebelah matanya mengedip pada Zhao Juren.


"Oh, Budha...lihatlah aku, datang padamu mencari ketenangan biarkan aku di sini sementara waktu. Aku ingin menenangkan jiwaku yang sakit ini." Ucapnya dengan nada yang menyedihkan.


Zhao Juren masih melongo menatap kehadiran Changyi yang tak di sangka-sangka itu. Dia tak mengerti skenario apa lagi yang di jalankan pemuda tengil ini. Tapi, meskipun sekilas saja mengenal Changyi, dia tahu anak ini sedang berpura-pura.


Air mata yang membuat pipinya basah dan dekil itu tentu saja bukan air mata sesungguhnya.


Bikshu muda yang menuntunnya menganggukkan kepala kemudian mundur, memberi ruang pada Changyi untuk berdoa.


Sejenak ruangan itu hanya di penuhi oleh tangis dan sedu sedan Changyi, dia terus bergumam dengan segala keluh kesahnya yang tak jelas.


Setelah yakin tak ada orang lain yang cukup memperhatikan mereka, Chanyi bergeser mendekati Zhao Juren.


"Sttt...Tuan Lian, ini aku...Changyi yang tampan." Bisiknya.


Zhao Juren hanya melotot pada Changyi.


"Aku sudah mengenalmu dari suara cemprengmu yang berteriak tak jelas dari tadi." Sahut Zhao Juren dengan suara rendah.


"Tuan, untuk sentuhan yang terakhir, peluklah aku, dan gendong aku..."


"Heh, apa maksudmu?" Zhao Juren menghardik dalam gumam, tetapi suara tangisan Changyi yang mendadak terdengar putus asa menyela pertanyaan Zhao Juren.


"Oh, Budhaaaa...." Tiba-tiba Changyi melolong dan terkulai lemas dengan badan yang basah oleh keringat. Jatuh ke tubuh Zhao Juren, cara jatuh yang aneh, memilih tempat yang empuk tidak langsung ke lantai seperti orang pingsan pada umumnya.


Dua orang bikshu yang sedang berdiri tak jauh dari sana segera mendekati.


"Amitabha...dia terlalu lelah dalam keputusasaannya. Ampuni dosanya..." Ucap salah satunya.

__ADS_1


"Tuan, bisakah membantu kami membawanya ke ruangan istirahat Dia sepertinya sangat kelelahan."


Zhao Juren yang masih bingung tak menjawab apa-apa, hanya menopang tubuh yang terkulai di pundaknya itu dengan tak yakin.


"Tuan..."


Zhao Juren belum lagi menjawab, perutnya di sodok siku Changyi.


"Ukhmmm..." Zhao Juren segera tersadar.


" Tentu saja..." Lalu dengan segera dia berdiri sambil menopang tubuh Changyi. Li Jin yang melihatnya mendekat untuk membantu tetapi Zhao Juren menghentikannya.


"Biar aku saja, aku bisa melakukannya." Zhao Juren berucap sambil mengangkat lengan Changyi ke bahunya.


Seperti orang yang sungguh pingsan, Changyi tak bergeming hal ini membuat Zhao Juren sedikit ksesulitan menopang berat badan Cahngyi.


"Astaga, berat tubuhmu ini tak seperti kelihatannya, badanmu kurus tapi beratmu luar biasa." Keluh Zhao Juren  setengah berbisik di telinga Changyi. Yang di bisiki sama sekali tak merespon.


"Bawalah kemari." Seorang Bikshu menunjukkan jalan ke belakan altar, ada sebuah pintu di sana ternyata. Tadinya mereka mengira ruangan itu hanyalah ruang pemujaan dengan satu pintu masuk, ternyata ada ruangan lain di balik tembok.


Di belakang altar itu terdapat sebuah ruangan sederhana yang tak seberapa besar. Bilik itu muat dua buah tempat tidur kayu seukuran satu orang dewasa.


Di dinding-dindingnya yang lusuh itu terdapat rak-rak kayu yang berisi botol-botol kayu bersumbat kain dan kayu, sepertinya itu ruang obat. Bau pahit obat menguar di udara yang lembab. Tetapi ruangan itu cukup bersih dan terawat.


"Baringkan dia di sana, tuan. Aku akan mengambilkan air." Bikshu itu berbalik keluar, baru saja bikshu itu menghilang, Changyi segera membuka matanya dengan wajah riang.


"Apa kabar tuan Lian ju, senang sekali bisa bertemu denganmu." ucapnya dengan suara rendah sebelum Zhao Juren mendorongnya ke dipan kayu itu, dongkol dengan kelakuan Changyi.


"Apa kamu sudah gila?" Dengus Zhao Juren gemas melihat tingkah konyol Changyi yang sedari tadi seolah memepermainkan dirinya itu.


"Astaga, tuan. Anda  tetap saja kasar dan tak berperikemanusiaan. Ku kira anda puas menyeret-nyeret badanku menuju kemari, sekarang anda malah mendorongku begitu. Anda sungguh  tak merindukan aku." Sungutnya sambil dengan mandiri berbaring di tempat tidur itu. Seakan dia benar-benar sedang sakit sekarang.


"Apa yang kamu lakukan sebenarnya?" Zhao Juren menurunkan volume suaranya, serupa geraman.

__ADS_1


"Tuan Lian Ju, aku kehilanganmu dua pekan yang lalu dari penginapan, lalu aku mencarimu. Berhari-hari aku kehilangan jejakmu sampai seseorang yang mengenalmu mengatakan kalau dia tak sengaja melihatmu masuk ke kota Yichen."


"Mengenalku?" Zhao Juren membeliak. Dia merasa badannya sedikit kram, keterangan Changyi membuatnya cemas dalam


Changyi mengeluarkan secarik kertas, membukanya sambil melihat ke arah pintu takut seseorang datang menangkap basah mereka.


Zhao Juren terpana, itu lukisan dirinya dengan penampilan Lian Ju berjubah gelap.


"Kamu lupa, meskipun aku ini tak pintar seperti ayahku yang guru itu tetapi aku sangat mencintai seni, aku telah menggambar wajahmu dengan keahlianku."  Changyi tersenyum kecil, lalu secepat kilat melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke saku lengan jubahnya yang lusuh.


"Aku tahu, tak sembarang orang boleh masuk kekuil ini kecuali orang yang menderita dan memerlukan pembersihan diri. Karena itu aku membuat diriku sepertu baru saja di rampok, bukankah actingku bagus tuan Lian?" bisik Changyi dengan penuh kemenangan.


Belum sempat Zhao Juren angkat bicara, bikshu muda tadi kembali dengan sebuah baki berisi gelas minum dari tanah liat dan kendi berbahan sama. Dan segeralah tubuh Changyi terkulai lemas, menggeliat dengan mata yang setengah terbuka.


"Di mana aku...?" Ucap Changyi, suaranya terdengar lemah.


"Tuan sudah Sadar? Sebaiknya anda jangan banyak bergerak, minum lah air ini dulu. Seorang tabib akan memeriksa kesehatan anda."


"Oh, tidak perlu." Changyi berlagak bangun dengan segenap kekuatan,


"Aku hanya lemah karena lapar dan haus, setelah ayahku di rampok dan ibuku menjadi gila, aku tak makan berhari-hari." Wajahnya memelas seketika.


"Bisakah aku meminta makanan? Aku rasa aku akan membaik jika aku di berikan sedikit makanan." tambah Changyi lagi, dia menjadi khawatir jika tabib sampai datang memeriksa dirinya yang tak benar-benar sakit itu.


"Oh, tentu saja. Aku kan mengambilkan anda makanan sebentar. Tuan, jika anda tak keberatan, bisakah anda menemani tuan ini sebentar sampai saya datang?"


"Tentu saja, Bikshu. Aku akan menjaganya sampai anda tiba." Sahut Zhao Juren cepat. Bikshu itu menganggukkan kepalanya dan keluar kembali setelah meletakkan baki air yang di bawanya ke atas meja kayu di sudut tempat tidur.


"Kenapa? kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Zhao Juren dengan cepat dan tak sabar.


Changyi kembali ke setelan awal, wajahnya terlihat tanpa beban sama sekali, setelah menghela nafas sesaat dengan sedikit bimbang. Lalu wajahnya yang jenaka itu mencondong dan berucap dengan suara pelan.


"Anda kira hanya anda saja yang ingin bertemu dengan Rahib Hexiao? Aku juga sangat ingin melihatnya."

__ADS_1


Zhao Juren terpana, dia menarik tubuhnya dengan raut merona, nama itu tak banyak yang tahu. Tetapi, dia tak menyangka Changyi menyebutnya dengan entengnya.


__ADS_2