CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 108. Memilih Jalan Hidup Sendiri


__ADS_3

"Tuan puteri..." seorang pengawal berwajah tirus dan kulitnya pucat itu tiba dengan tergopoh-gopoh lalu membungkuk dengan pias gugup dan ketakutan.


"Tolonglah tuan puteri Luoxia..."


"Ada apa?" Xue Xue yang masih berdiri di depan pintu kuil dengan jubah putihnya itu membalikkan badannya. Alisnya berkerut tinggi.


"Sebaiknya Tuan Puteri segera ke istana Yang..." Lanjut pengawal itu, mimik cemasnya tak bisa disembunyikan.


"Ke istana Yang?" Xue Xue menjadi keheranan. Dia melihat pada pengawal lain yang berada di belakang pengawal yang sedang melapor padanya itu, dia mengenalnya sebagai pengawal dari rumah kakaknya Yuhuai.


"Tuan Pangeran Yuhuai...dia...dia sedang menunggu anda." Jawab pengawal itu sambil menoleh sebentar pada pengawal lain yang datang dari rumah istana Yang itu.


"Kenapa dengan kakakku? katakan dengan jelas!" Tanya Xue Xue dengan nada kuatir, dia menangkap wajah gelisah dan ketakutan yang tak biasa dari mereka.


"Tuan Pangeran Yuhuai....mencoba bunuh diri." Jawab pengawal dari rumah Yang itu, suaranya tertahan nyaris tak terdengar.


Xue Xue tertegun sesaat, seketika rautnya berubah dan dalam sekejap kemudian dia berlari keluar seperti anak panah tanpa lagi perduli dengan tata krama di dalam istana Nan.


"Beri Jalan!!!" Para pengawal meminta jalan saat Xue Xue berusaha lewat di kerumunan pada gerbang menuju istana kediaman Nan Yuhuai dan istrinya Yang Xiwu.


Tangisan Xiwu terdengar menyayat dari kejauhan membuat kaki Xue Xue terasa gemetar tak tertahankan.


Di dalam ruangan pribadi pangeran Nan Yuhuai, lelaki tampan dalam balutan jubahnya yang berwarna putih beras itu dahinya berkilat pucat pasi, dia masih mengenakan pakaian berkabung untuk raja, tubuhnya tertelungkup begitu saja di permukaan meja.

__ADS_1


Di atas meja kayu berukir tepi itu, secangkir cawan anggur yang tergeletak dalam keadaan terbalik. Beberapa guci anggur tertata rapi di sampingnya bahkan tak terlihat tersentuh sama sekali.


"Tuan...tuan tak bernafas lagi..." Seorang tabib mengangkat wajahnya saat Xue Xue tiba. Punggung dua jemarinya masih berada di leher Nan Yuhuai.


Xue Xue, dia terpana, nyaris tak bernafas, dengan perlahan dia terduduk di lantai, tepat di samping Yang Xiwu, lututnya seakan lemas.


"Kakak?" Bibir Xue Xue begitu kelu, banyak yang ingin di katakannya tetapi dia tak bisa berkata apa-apa, air matanya meleleh dari matanya yang bulat terbuka.


Tak lama Perdana menteri Yang Liujun tiba dengan tergesa, raut wajahnya penuh murka.


"Bodoh! Kenapa dia bodoh sekali!!!" umpatnya tak henti.


"Dasar manusia tak tahu di untung, rendahan tak bernyali! Di mana harga dirimu, mati dengan cara yang tak terhormat seperti ini!"


Nan Yuhuai dengan rambutnya yang tergerai, pipinya menempel pada selembar kain kanvas putih kusam, di atasnya sebuah lukisan yang belum jadi. Lukisan seorang perempuan menari di atas bukit dan seorang laki-laki dengan caping di kepala, dia memegang sebuah Xiao bambu, tetapi dia tidak sedang meniupnya. Lelaki di lukisan itu meletakkan matanya di lubang Xiao itu.


Xue Xue tak mendengar apapun lagi, telinganya terasa pekak dan tuli oleh tangisan Xiwu serta sumpah serapah dari mulut Perdana menteri Yang Liujun.


Bagaimana tidak, perdana menteri itu telah berpesta pora di istananya merayakan kematian Raja Nan Chen dan bermimpi setelah masa perkabungan itu, menantunya Nan Yuhuai akan menggantikan raja yang mati di tikam istrinya itu.


Tetapi apa yang di lihatnya pagi ini, Calon raja yang di gadang-gadangkannya membuat keturunannya menjadi Raja Niang yang termasyur sekarang tergeletak begitu saja tak bernyawa, dia bunuh diri dengan meminum racun di kamarnya sendiri.


Semua mimpi Perdana menteri yang serakah ini terasa seperti menguap ke udara dan itu membuatnya benar-benar frustasi.

__ADS_1


"Kenapa, kenapa kakak memutuskan pergi tanpa berbicara apapun padaku?" Xue Xue mendekat, tak perduli dengan Yang Xiwu menangis histeris di atas lantai tepat di depan jasad sang suami.


"Kakak..." Di raihnya tubuh kakaknya itu yang sudah kaku dan dingin, mungkin dia meninggal saat tengah malam atau menjelang subuh. Yang pasti, jasadnya baru di temukan pagi ini oleh pelayan yang biasa mengantarkan teh ginseng padanya.


"Seharusnya kau bicara padaku, kakak...apapun yang menjadi bebanmu. Aku akan ceritakan apapun yang ingin kau dengar karena...karena apa yang kamu lihat belum tentu itu benar." Bisiknya di telinga tubuh yang sudah tak bergerak itu.


Pelukan seorang adik yang hangat tak lagi bisa membangun tubuh yang telah di tinggalkan nyawa. Tak ada yang tahu, kenapa Nan Yuhuai memutuskan mengakhiri hidupnya, dia pergi bahkan tak meninggalkan pesan pada siapapun.


Xue Xue tak pernah merasa sesedih ini dalam hidupnya. Duka itu seperti gelombang membuatnya merasa nafasnya sesak.


Menghadapi dua kematian orang yang di cintai pada saat yang sama, siapakah yang kuat menahannya.


Kekuasaan benar-benar menakutkan, jika tak sanggup menanggungnya maka orang akan memilih cara mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri.


Nan Yuhuai bahkan seolah tak perduli tangisan istri cantiknya, Yang Xiwu, perempuan manja putri perdana menteri yang begitu memujanya. Nan Yuhuai hanya terdiam kaku dalam pelukan Xue Xue yang bahkan dalam tangisannya tak lagi bersuara.


Sakit yang paling tinggi adalah ketika seseorang menangis dan tak bisa menyuarakan kesedihannya meskipun itu hanya dalam isakan.


Niangxi tak berhenti berkabung, mungkinkah langit sedang ingin menghukum negara ini?


...***...


__ADS_1


(Yuk di Vote ya☺️☺️☺️ Semoga ada yang tetap setia dengan tulisan akak yang ini. Slow UP memang tetapi cerita ini di jamin akan di tulis author sampai tamat. Love you all😅😅😅)


__ADS_2