CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 61. Pengumuman di Perhelatan


__ADS_3

Seorang perempuan tiba dengan dua orang dayang, gadis itu benar-benar cantik dan bersinar dalam balutan sutra bercorak ranting berwarna emas itu. Dadanya yang membusung bulat itu terlihat percaya diri, dan memang tak di ragukan penampilannya terlihat mencolok bahkan di banding para selir raja.


Dia Nona Huan, yang belakangan ini mencuri perhatian Yang Mulia Raja Nan dan mendadak menjadi kesayangan Raja. Kehadirannya jelas membuat panas, tak pernah ada perempuan yang di undang dalam perjamuan Harem kecuali para selir, keluarga dekat raja yang memang di undang khusus oleh raja.


Saat dia memasuki Aula Harem, di sana telah berkumpul para selir yang duduk berseberangan menghadap meja masing-masing.


Di atas meja tersedia beberapa macam hidangan dan teh dalam poci. Kudapan aneka kue dalam beragam warna tersaji dalam piring porselen.


Nona Huan yang berjalan di belakang Puteri Nan Luoxia mengitari pandangannya ke seluruh ruangan, ada puluhan meja kecil hadapan para tamu yang hampir semuanya terisi oleh selir raja di bagian kiri, di bagian kanan berderet meja untuk para tamu dari luar harem, sebagian saudara raja sepertinya hadir, para putera puteri dari selir raja terdahulu.


Istana Nanxing memang sedikit rumit, kerabat istana sangat banyak karena raja Nanxing beberapa generasi terkenal mempunyai banyak istri. Gejolak dalam istana juga lebih komplek karena perselisihan antar anggota kerajaan. Tetapi, raja Nan Chen cukup tegas, dia tak segan-segan menghukum gantung saudara-saudara tirinya yang terbukti membuat kekacauan.


berwarna warni dan mewah.


Kasim utusan raja mendadak muncul, dan menyambut nona Huan


"Silahkan nona..." Gadis muda berusia belasan tahun itu diperlakukan dengan hormat bahkan di depan selir tinggi Jiao yang saat itu baru tiba.


"Duduklah di deretan depan samping kiri."


Selir Jiao terpana, itu adalah kursi yang biasa di dudukinya, sebagai selir utama setelah Ratu Lin Fangyin.


"Apa maksudmu?" Selir Jiao naju dengan raut kesal dan memancarkan kemarahan.


"Ini adalah perintah Yang Mulia Nan." Kasim itu membungkuk dalam-dalam.


"Itu adalah tempatku!" Selir Jiao menahan geram, tetapi kasim itu tak bergeming tangannya tetap terulur mempersilarkan Nona Huan ke tempat semula di tunjuk.


"Kakak Jiao, sebaiknya carilah tempat duduk yang lain." Luoxia berbalik dan menengahi, keributan kecil itu tak nyaman di lihat oleh beberapa tamu yang baru saja tiba.


Semua mata para selir tampak mengikuti langkah nona Huan dengan bermacam ekspresi. Ada yang menatap dengan remeh, ada pula seperti mencibir, ada yang tidak perduli dan ada pula yang nampak kasihan. Tapi hampir semua menyimpan kecemburuan dalam hati, hanya saja mereka berusaha menekannya supaya mereka tidak kehilangan harga dirinya sebagai istri raja jika berani terang-terangan bersikap cemburu kepada perempuan yang kini menjadi dekat dengan Yang Mulia itu.


Gosip dan rumor cepat menyebar di dalam istana para selir, terlebih mengenai urusan raja yang menghabiskan banyak malam bersama perempuan baru, penari favoritnya itu.

__ADS_1


"Yang mulia Permaisuri tiba..." pengawal pintu aula memberi pengumuman.


Semua berdiri memberi hormat kepada Ratu Lin Fangyin, permaisuri dari Raja yang memerintah kerajaan Niangxi, yang mulia Nan Chen.


Permaisuri Lin Fangyin masuk dengan anggun menuju kursi kebesaran yang berada di sebelah kursi raja, mengarah langsung ke meja para selir dan tamu. Kursi berukir indah dari kayu eboni yang berwarna coklat keemasan dengan sandaran berundak diukir motif awan yang sangat mewah.


Dengan mengenakan mahkota dari emas bertatah batu ruby dan mutiara kecil yang menjuntai, Ratu Lin Fangyin terlihat sangat cantik.


Bajunya berwarna merah menyala dengan sulaman motif bunga peony berwarna kuning emas.


"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri.." semua membungkukkam badan menekuk kakinya, kepala mereka menunduk dengan hormat di depan permaisuri raja itu.


Ratu Lin Fangyin tangannya memberi kode untuk kembali ke posisi awal.


Belum lama Ratu Lin Fangyin duduk Yang Mulia raja Nan Chen tiba.


Semua selir menampakkan wajah sumringah, mereka sangat menantikan melihat dan bertemu sang raja, suami mereka.


Kerinduan yang menyeruak, membuat rona wajah mereka memerah, bertemu raja ini seperti bermain congklak hanya keberuntungan yang memungkinkan mereka bisa memenangkan mata sang raja untuk paling tidak menghabiskan satu malam bersama dalam hitungan tahun.


Semua yang berada dalam aula Harem segera berdiri tanpa terkecuali.


Yang mulia Raja Nan Chen memasuki ruangan dengan langkah gagah, mengenakan jubah berwarna merah dengan sulaman emas dari bahan brokat. Di tengah dada dan punggungnya terukir sulaman lambang kerajaan bersama matahari dan bulan, dalam sulaman motif bulat besar berwarna kuning berkilat keemasan.


Yang Mulia Nan Chen mengangkat dagunya, tatapannya lurus di bawah mahkota emas dari batu jamrud tiga warna yang langka. Raja flamboyant yang menyukai banyak perempuan ini benar-benar menawan dan mempesona dalam kharisma yang tak bisa di ungkapkan oleh kaum perempuan.


Di belakangnya berjalan beberapa kasim dan dua orang pengawalnya, mengiring langkah raja menuju tempat duduknya.


"Hormat kepada Yang mulia Raja" Semua yang berdiri memberi hormat.


Yang mulia Nan Chen duduk di atas kursi singgasana yang di buat khusus untuknya di aula Harem yang semarak malam ini.


"Hormat kami pada Yang Mulia Nan, Semoga Yang mulia panjang umur, semoga kerajaan Niangxi bersinar sepanjang masa..." serentak di sambut oleh para selirnya masih dengan sikap hormat.

__ADS_1


Raja menganggukkan kepalanya sedikit, memberi isyarat kepada semua orang dengan membuka kedua tangannya mempersilahkan semuanya duduk.


"Terimakasih yang mulia telah bisa hadir di perjamuan ini" Permaisuri Lin Fangyin membungkuk sexara khusus di depan Yang Mulia Nan, di ikuti oleh semua perempuan yang berstatus selir raja.


"Tentu saja permaisuriku, aku tak akan melewatkan undangan musim semi di istana haremku." Yang mulia Nan Chen tersenyum kepada permaisuri Fangyin, senyum yang aneh dan terlihat begitu di buat-buat .


Lin Fangyin kembali ke tempat duduknya tepat di samping suaminya itu.


"Kami patuh kepada yang mulia raja Niangxi dan permaisuri yang bijaksana." Para selir berucap dengan serempak, sebuah ucapan bagian dari ritual acara.


Tiba-tiba Yang Mulia Nan Chen berdiri, setelah ruangan itu menjadi sepi, matanya mengedar seluruh ruangan dan tertumbuk pada nona Huan yang tersipu malu-malu di tempatnya.


Yang mulia Nan Chen mengambil cawan anggur di depannya, setelah dituang sedikit ke gelas pencicip dan di coba oleh kasim pribadinya kemudian Yang Mulia Nan mengangkat cawan anggur yang ada di depannya dan berkata,


"Terima kasih atas kehadiran semua orang telah hadir dalam acara ini. Acara yang di selenggarakan oleh para isteriku tercinta."


Mata mereka berbinar-binar seperti bintang yang berkilat, mencuri pandang kepada raja, berharap sang raja melihat kepada salah satu dari mereka.


Setelah kemenangan kita di Perbatasan Yanshan, ini merupakan perhelatan yang ku tunggu-tunggu, semua di berikan langit karena doa semua orang yang mencintaiku, alangkah tepatnya kita berpesta untuk merayakan kembalinya kota tua Yichen kepada Niangxi setelah berabad-abad." Cawan itu semakin tinggi.


Semua tamu dan selir melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan sang raja, mengangkat cawan anggur ke atas dengan wajah sumringah dan senang.


"Mari bersulang untuk Niangxi" kata Raja sambil meminum anggur dalam cawannya dengan sikap yang sangat resmi.


"Dan..." Yang Mulia Nan Chen menyerahkan cawan yang dipegangnya pada kasim serta memberi isyarat menuangkan anggur baru ke cawannya.


"Aku juga ingin mengumumkan satu hal..." Lanjutnya dan tetap membiarkan semua orang berdiri menunggu dengan penasaran apa yang ingin di katakannya.


^^^



Nona Huan^^^

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏


...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...


__ADS_2