CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 118. Mencari Xiao Perak


__ADS_3

Dia mengernyit dahinya sesaat kemudian terlihat berfikir lalu lamat-lamat berkata


"kakakmu sepertinya....memberimu pesan tersembunyi lewat lukisan ini..."


Kalimat itu di ucapkan Zhao Juren dengan hati-hati sambil menatap lukisan seorang perempuan menarikan sebuah tari pedang dengan liukan yang sangat cantik itu dan di depannya seorang lelaki memegang sebuah xiao, seruling dari dari bambu kuning. Tetapi, anehnya pemuda itu tidak sedang meniup akan tetapi sedang mengintip ke lobang tiupannya.


Zhao Juren mencermati tulisan serupa puisi dengan sederet tulisan dengan tinta yang sangat kecil :


untukmu yang terlahir di penghujung musim gugur saat hari musim dingin pertama,


bunyi xiaoku sumbang,


gadisku tak bisa menari,


lihatlah Xiaoku kehilangan nada,


Di atas asap bisakah dia berwarna?


Sebuah tulisan aneh yang di tulis Nan Yuhuai. Seperti puisi tetapi maknanya sungguh tak jelas.


"Untukmu yang terlahir di penghujung musim gugur saat hari musim dingin pertama..." Zhao Juren mengerutkan kening.


"Itu untukku." Sahut Xue Xue setelah kembali bisa bernafas dengan teratur.


"Ayahku memberi nama kerajaan untukku, Nan Luoxia karena terlahir antara penghujung musim gugur dan di pagi pertama musim dingin." Xue Xue berusaha menjelaskan.


"Pangeran Yuhuai ingin kamu mengetahui sesuatu." Zhao Juren manggut-manggut.


"Aku rasa kakak Yuhuai sedang melukis Nona Huan. Dulu sebelum di angkat menjadi selir, Huanjin adalah seorang penari di rumah hiburan. Dan menurut rumor yang oernah ku dengar kakak Yuhuai bahkan lebih dulu mengenal Selir Huanjin sebelum kakakku Yang Mulia raja." Xue Xue mencuri pandang pada Zhao Juren yang terlihat tenang menatap ke arah lukisan. Wajahnya seolah tak bersalah setelah menciuminya kemudian membiarkannya begitu saja, menyisakan degupan kencang di dada gadis ini.b


"Bukan...bukan penari ini yang menjadi tujuan lukisan ini." Zhao Juren menggelengkan kepalanya, matanya tertuju pada pemuda yang memegang Xiao itu.


"Lihatlah Xiaoku kehilangan nada,


Di atas asap bisakah dia berwarna?" Zhao Juren mengulang kalimat terakhir dari puisi itu. Alisnya berkerut tajam.


"Xiao? Apakah pangeran Yuhuai mempunyai Xiao?" Pertanyaan itu di lontarkan Zhao Juren lamat-lamat.

__ADS_1


"Ya, kakakku mempunyai Xiao bambu perak kesayangannya. Dia membuatnya sendiri saat di asingkan di pegunungan. Menurut cerita kakak, Xiao itulah yang menemaninya ketika rindu pulang..."


"Di mana Xiao itu?" Zhao Juren menyela, tubuhnya berbalik dengan cepat tak lagi fokus pada lukisan di atas meja.


"Kenapa dengan xiao perak kak Yuhuai?" Xue Xue mengerutkan keningnya penasaran.


"Aku ingin melihatnya." Jawab Zhao Juren cepat.


"Aku...aku tidak tahu di mana." Xue Xue terlihat bingung, semua barang-barang pribadi Nan Yuhuai tentu saja di kediamannya.


"Kita harus mendapatkannya." Zhao Juren meraih jemari Xue Xue.


"Untuk apa?" Xue Xue masih terlihat kebingungan.


"Kamu akan tahu nanti." Zhao Juren menarik tangan Xue Xue.


"Kita kemana?" Xue Xue tak memberi perlawanan ketika pergelangan tangannya di genggam tangan besar dan hangat milik Zhao Juren.


"Ketempat di mana mungkin Xiao itu di simpan kakakmu." sahut Zhao Juren.


...***...


Ini adalah tanah untuk istana perdana Menteri Yang Liujun.


"Sttt..." Xue Xue menghentikan langkahnya sekali lagi dia berbalik dan tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli melihat penampilan Zhao Juren.


"Lihatlah, kamu menjadi semakin cantik saja." Goda Xue Xue, dia terlihat girang menatap Zhao Juren yang di balut pakaian pelayan berwarna hijau pupus, rambutnya di ikat rapih, sementara riasan wajahnya terlihat lebih mencolok dengan bibir sewarna anggur muda.


Zhao Juren merengut, membiarkan Xue Xue meledeknya.


"Jangan terlalu banyak bicara. Kita harus bisa masuk ke kamar kakakmu sekarang." Sahut Zhao Juren. Untuk kesekian kalinya dia menggunakan pakaian perempuan. Sungguh membuatnya malu. Untung saja tak ada orang Yanzhie di sini. Jika tidak, hancur harga dirinya sebagai mantan panglima perang.


"Aku lebih suka ku begini." Xue Xue berucap setengah berbisik dengan nada geli.


"Aku lebih suka masuk lewat jendela saja. Itu lebih elegan." Zhao Juren melengos.


Xue Xue berjalan menuju gerbang, dengan pakaian kebesarannya sebagai puteri Nan Luoxia, langkahnya begitu anggun tetapi tegas.

__ADS_1


"Yang Mulia Tuan Puteri..." Kedua pengawal yang berjaga setengah mengantuk itu segera berdiri tegap dan memberi hormat saat mengenali siapa yang datang.


"Ada apa Yang Mulia datang selarut ini?" Pengawal utama maju sembari membungkuk.


"Aku ingin menemui Nyonya Yang Xiwu."


"Tapi..."


'Antarkan saja aku." Xue Xue menyela cepat dan dengan patuh dan takut-takut pengawal itu segera membuka jalan. Tak sampai beberapa depa, mereka di sambut oleh kepala pelayan yang datang tergesa-gesa mendengar kabar kedatangan Puteri Nan Luoxia.


"Tuan puteri Nan..." Kepala pelayan berwajah runcing itu membungkuk.


"Aku tahu ini terlalu malam, aku baru saja tiba dari banyak urusan setelah perkabungan. Aku merasa bersalah belum sempat untuk menemui kakak Xiwu sampai saat ini. Besok aku harus mengurus hal lain, mungkin malam ini aku bisa sedikit mengobrol dengannya, kehilangan suami bukan hal yang mudah."


Xue Xue menyahut dengan dagu yang terangkat tinggi. Jelas dia tak ingin di bantah.


Tanpa bisa bertanya, akhirnya kepala pelayan itu melangkah mengiringi Xue Xue yang di ikuti oleh Zhao Juren yang berjalan sambil menunduk menyembunyikan sebagian wajahnya.


Di depan serambi sebuah ruangan terdapat lantai marmer putih yang saling menyambung, air di kolam di kedua sisinya jernih bagai cermin, di paviliunnya terdapat beberapa tiang yang diukir dengan indah, aroma harum dupa memenuhi rumah itu.


Ini adalah istana pavilliun kediaman Nan Yuhuai dan Yang Xiwu.


Seorang perempuan dalam pakaiam linen putih licin muncul dari balik tirai yang terbuat dari kain brokat dan manik-manik. Wajahnya kuyu, matanya terlihat masih kemerahan. Dua orang pelayan di belakang Yang Xiwu membungkuk rendah.


"Kakak Xiwu..." Xue Xue melangkah panjang, gaunnya menyapu lantai.


"Maafkan jika aku baru sempat menemuimu." Xue Xue berucap dan tanpa malu-malu mantan istri mendiang Pangeran Nan Yuhuai itu menghambur ke pelukan Xue Xue. Tangisnya pecah, dia sesenggukan dalam pelukan Xue Xue.


"Kenapa kakak Yuhuai jahat sekali? dia meninggalkanku sendiri." Ucapnya di sela sedu sedannya.


Xue Xue tak mengatakan apapun kecuali menepuk bahu Yang Xiwu dengan lembut.


Dengan lembut di bimbingnya Yang Xiwu menuju sebuah dipan yang terbuat dari batu kumala, langkannya bertahtakan emas, aroma wangi yang pekat bagai angin sejuk bulan ketiga menerpa wajah, membuat orang hampir mabuk mencium aromanya.


Kepala pelayan setengah tua itu melangkah ke depan, dengan suara rendah yang penuh hormat, ia berkata, "Setelah Tuan muda pangeran meninggal, nyonya muda selalu menangis meratapi kepergian tuan muda pangeran."


Xue Xue berjalan dan mendudukkan Xiwu ke dipan kumala itu, ia melihat bahwa langit-langit ruangan itu dibuat dari kayu tan, lentera-lenteranya dibuat dari kristal, dihiasi dengan piringan kumala dan kayu chenxiang, tirai-tirainya yang dibuat dari sutra bagai lautan, tiang gantungan lenteranya bertahtakan berbutir-butir mutiara yang dapat berpendar di malam hari, berkelap-kelip memancarkan cahaya, bagai rembulan yang terang-benderang. Di tiang aula itu diukir burung-burung luan panca warna yang dihiasi serbuk emas, di bawah cahaya lilin, berkilauan menyilaukan mata.

__ADS_1


Ruangan ini bahkan setara dengan kediaman raja mewahnya, Perdana menteri Yang Liujun memang begitu kaya. Dia memiliki kekayaan yang bahkan tak terbayangkan.


(Up lagi yaaaa, yg lupa ceritanya baca ulang🤣🤣🤣 maaf ya, baru up kembali setelah hiatus sekian lamašŸ˜„)


__ADS_2