CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 99. Menikam Jantung Hati


__ADS_3

"Kakak Nan Chen?"


Sang raja dalam pakaian kebesarannya yang biru malam, nampak gelap seperti lukisan. Ia berdiri di tempat tak bergerak, matanya seakan tak dapat menahan cahaya yang begitu cemerlang dan mempesona itu, cahaya matahari menyerbu lewat pintu yang terbuka lebar.


"Yang Mulia..." Selir Huan berdiri di sebelah Xue Xue, kakinya seperti terpaku di depan pintu.


Di tempatnya, mata Yang Mulia Nan Chen tak berkedip, masih memegang lengan Ratu Lin Fanyin yang terpatri di dadanya.


Mentari yang hangat itu seakan terbuat dari es, bersinar dengan dingin menimpa tubuhnya. Sekujur tubuhnya seakan berendam di air es, rasa dingin itu meluas dalam sekejap berasal dari satu titik kemudian sampai pada jari-jemarinya dengan samar-samar menyerang tangan dan kakinya, pinggangnya, lalu sedikit demi sedikit menyelimuti dadanya, jantungnya berdebar keras, melonjak-lonjak seakan hendak melompat keluar dari tenggorokannya, tenggorokannya asam dan pedih, bahkan napasnya pun menjadi tak lagi lancar.


Beberapa pengawal dalam sekejap menangkap Ratu Lin Fangyin yang tawanya mendadak menggema dalam ruangan yang ricuh itu. Tawa yang seperti lolongan, sementara air matanya mengalir seperti di kucurkan dari celah gunung.


"Kakak...!!!"


"Yang Mulia...."


Dua perempuan itu menghambur ke arah Yang Mulia Nan Chen tanpa memperdulikan ratu Lin Fangyin yang meronta di tawan beberapa pengawal.


Para pengawal yang tak menyangka ratu mereka datang pagi-pagi dengan tenang meminta menghadap karena akan melaporkan keadaan Harem dan meminta persetujuan mengurus masa krisis di harem dengan menyumbang sebagian perhiasan yang di miliki para penghuni Harem yang terdiri dari para selir dan adik-adik raja yang belum menikah.


"Hhhhh..." Suara nafasnya yang berat, sesaat sebelum lututnya menjadi gemetar sambil memegang dadanya yang berlubang. Di sana darah mengucur seperti mata air.

__ADS_1


Pakaian ratu Lin Fangyin telah seluruhnya berlumuran darah segar, wajahnya yang pucat pasi nampak gila dan tak wajar, matanya bulat merah, terang dan keji, setelah ditahan ia tak meronta-ronta, hanya berkata dengan dingin, dengan suara yang penuh kebencian, β€œMereka semua adalah pel@cur, semuanyq harus mati, aku telah membunuh mereka satu persatu tetapi mereka tumbuh seperti jamur setiap saat. Seberapa kuat aku berusaha menyingkirkan mereka, selalu saja mereka bertambah. Aku muakkkkk..." Entah apa yang di ocehnya di sela kemurkaannya itu, sumpah serapah keluar dari mulutnya tak berhenti.


Selir Huan memeluk tubuh Yang Mulia Nan Chen, sementara Xue Xue menipang berat badan kakaknya itu supaya tidak terhempas di lantai aula yang sedingin es itu. Para pengawal yang tadi hendak menangkap tubuh raja segera menyingkir. Membiatkan Xue Xue membekap luka itu dengan tangannya.


"Kakak bertahanlah..." Xue Xue bahkan tak memperdulikan kehadiran Ratu Lin Fangyin, dia terlalu cemad pada keadaan kakaknya.


"Iblis, kamu tak pantas memeluknya!!!" Melihat Selir Huan yang memeluk Yang Mulia Nan Chen sambil menangis, Ratu Lin Fangyin meraung, dia sekarang berusaha melepaskan diri, di tangannya tergenggam sebuah belati seukuran satu jengkal orang dewasa, tetapi berlumur darah sampai pangkalnya. Belati kecil dengan gagang tanduk rusa itu di sembunyikannya dalam saku lengan jubahnya. Senjata yang di simpannya di dalam saku lengannya itu adalah alat untuknya menikam jantung hatinya sendiri, Yang Mulia Nan Chen.


Rasa marah dan kebencian yang mencapai puncaknya, membawanya begitu nekad untuk membunuh raja yang sangat di cintainya.


"Aku akan membunuhmu juga selir Huan terkutuk, jika kamu memegang suamikuuuuuu...!!! Tak ada yang boleh lagi memilikinya! Tak ada! Kecuali aku..." Teriakan bercampur tangisan itu seoerti lolongan panjang serigala yang terluka, memecah keriuhan di dalam aula raja.


"Tabib!!! Cepatlah!" Teriak Xue Xue tak kalah kerasnya. Telapak tangannya telah berlumur darah memegang dada kakaknya yang pucat pasi. cairan merah itu bahkan mencari jalan lewat sela jemarinya, membasahi punggung tangannya. Tangisah Huan begitu histeris.


Untuk pertama kalinya, Selir Huan merasa bahwa dirinya dapat menembus mata pria ini dan melihat isi hatinya. Sesungguhnya terpancar dari sana hanya rasa lelah, tanpa mata nyalang menggoda yang nakal saat dia menari di depannya.


"Yang Mulia, tolong bernafaslah dengan baik...tabib akan datang." Bisik Selir Huan serak, air matanya turun seperti hujan, dia bisa melihat lelaki ini terlihat lega setelah sekian lama tertekan.


"Hu...huan'er...." Panggilnya lirih di sela nafasnya yang satu-satu.


"Apakah...apakah... aku akan...ma... mati?"

__ADS_1


"Tidak Yang Mulia, anda akan baik-baik saja..." Selir Huan menggenggam jemari Yang Mulia Nan Chen yang sedingin es.


"Kakak Chen, bertahan lah sebentar lagi." Xue Xue mendonggakkan wajahnya yang sembab, dia setegar pria tetapi saat ini menopang kakak ya yang sekarat dia merasa dirinya lebih lemah dari kapas basah.


Ia berbaring seperti itu di sana, dipelukan selir Huan, darah di lukanya bagai mata air yang mengelegak, membuat pakaiannya yang berwarna biru malam itu telihat menghitam oleh darah.


Matanya yang mulai berkunang-kunang itu dengan amat tenang ia memandang ke arah ratu Lin Fangyin yang terus berusaha melepaskan diri dari dua orang pengawal yang memegang erat pergelangan tangannya kiri dan kanan.


"Ratu..." Panggilnya nyaris tak terdengar, di matanya tak ada rasa terkejut, tak ada kebencian yang biasanya dipertunjukkannya di depan ratu Lin Fangyin, bola mata yang biasanya seakan ingin melompat saat menyerapahi Lin Fangyin saat mereka bertengkar kini setenang danau lima Warna di musim dingin.


"Kenapa kamu baru melalukannya sekarang?" Tanyanya dengan sangat berat dan tak di nyana, tak ada kemarahan di iramanya, hanya ada kelelahan luar biasa yang terukir di tulang, yang datang dan menggulung semuanya, menenggelamkan raut wajahnya yang tampan.


Ratu Lin Fangyin terpana demi mendengarnya, seketika tubuhnya terpaku tak lagi melawan.


"Kamu...kamu membenciku, Fangyin? kamu benar-benar membenciku..."


Lidah Lin Fangyin kelu, pertama kali dalam hidupnya mendengar namanya di panggil selembut itu dari bibir Yang Mulia Nan Chen.


Di luar jendela angin berdesir, mengoyang-goyangkan kerincing angin di atas pintu, sementara di lantai, darah mengalir dengan berkelok-kelok, sosok-sosok orang terdekatnya, memburu ke depan, menghentikan aliran darahnya, mengobatinya.


Semuanya bagai pelakon sandiwara tanpa suara, Xue Xue tak bisa melihat apapun, tak bisa mendengar apapun, hanya dapat memperhatikan matanya dengan terpana, sebuah sensasi sedingin es yang merayap di kulitnya, sampai ke lubuk hatinya.

__ADS_1


...***...


Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’œ


__ADS_2