CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 117. Aku melamarmu


__ADS_3

"Apakah aku boleh melakukannya?" Bisik Zhao Juren di telinga Xue Xue, serak, meski nafasnya masih teratur tak seperti Xue Xue yang nyaris kehilangan kesadarannya.


Xue Xue mendonggak, mengatur nafasnya yang tersendat-sendat, dia tak pernah merasakan gairah aneh seperti ini seolah begitu begitu menyiksa.


"Melakukan apa?" tanya Xue Xue dengan suara gemetar, suaranya lirih ketakutan, perempuan belia ini belum pernah di perlakukan seperti ini.


"Menyelipkan sebuah chai di rambutmu." Bisik Zhao Juren, di tangannya terlihat sebuah tusuk konde dari tanduk rusa es dengan ukiran bunga lotus yang cantik, di tengahnya terselip batu kumala darah berwarna merah tua yang terkenal dari Yanzhi.


"A...apa ini?" Xue Xue kebingungan sendiri, dia sudah bisa mengatur nafasnya setelah ciuman yang panjang tadi.


"Ini chai. Di Yanzhi, ada sebuah tradisi memberikan sebuah chai pada perempuan yang di sukainya, di simpan oleh sang perempuan hingga waktunya menikah dan jika memang mereka berjodoh maka chai itu di selipkan rambut sang gadis pada waktu pernikahannya sebagai ikatan." Ujar Zhao Juren sambil tersenyum.


Sejak masa pemerintahan Yan, perempuan di Yanzhie mengenakan penjepit rambut; tusuk konde dan perlengkapan lainnya pada rambut mereka. Tradisi itu dikenakan bukan saja sebagai gaya tatanan rambut atau hiasan kepala, melainkan yang terutama adalah sebagai simbol status perempuan itu sendiri dalam masyarakat negara Yanzhie.


Seorang gadis, perempuan belum menikah, ditandai pada gaya rambutnya yang dijalin dua disisi kiri-kanan, dengan hiasan jepit rambut tertentu yang berwarna warni Sedangkan perempuan menikah dikenali karena konde rambutnya di belakang kepala dan ber- tusuk sebuah Chai.


"Aaa...maksudmu? Tapi kita?" Xue Xue terpana, dia bingung mendengarnya karena tak ada hal seperti itu di Niangxi. Jika orang saling suka mereka hanya perlu datang kepada orangtuanya dan minta di nikahkan.


Untuk gadis yang belum menikah rambut perempuan Niangxi tak boleh di konde tetapi di jalin satu tepat di tengah belakang kepala atau di puncak kepala seperti rambut Xue Xue saat ini. Paling-paling di beri hiasan atau ornamen bisa dari brokat, kain atau pita sutera.


Di Yanzhi berbeda, adalah kebiasaan sejak dulu untuk tusuk pertunangan, seorang pria memberi tusuk konde miliknya untuk disimpan kekasihnya dan biasanya lebih sakral jika chai itu di buatnya sendiri. Pada saat upacara pernikahan, tusuk konde akan disematkan mempelai laki-laki pada rambut mempelai perempuan kembali tapi ini Zhao Juren tanpa ragu menyematkannya di puncak kepala Xue Xue.


"Ya, aku melamarmu, Xue Xue..Di bawah lentera yang tak seberapa terang, sebagai pria Yanzhie aku melamarmu untuk suatu saat menikah denganku." Dengan sikap jantan Zhao Juren menyelipkan Chai berwarna perak itu di antara kepangan rambut Xue Xue.


Gadis itu terpana, tak bisa berkata-kata, dia hanya menatapnya dengan mata membeliak nyaris tak percaya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa...?" Xue Xue menegakkan badannya berdiri meski dengan tubuh sedikit oleng, sentuhan Juren yang memabukkan itu nyaris membuatnya tak bisa bertahan. Dia merasa Zhao Juren seenaknya mempermainkannya.


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Zhao Juren sedikit terhenyak melihat Xue Xue tiba-tiba bersikap seperti kebingungan.


"Aku saja tak pernah mendengar apakah kamu mencintaiku? atau hanya..."


"Xue Xue, cinta tak perlu di ucapkan dengan banyak kata, aku tahu perasaanku padamu berbeda. Aku tak bisa tahan memikirmu dalam kesulitan, aku tak bisa berhenti memikirkanmu bahkan saat aku terlelap. Aku tahu itu cinta. Dan aku bersumpah tak akan melepaskan lagi siapapun yang telah membuat aku merasa begini kacau..." Ucapan Zhao Juren serupa er@ngan, itu seperti keluhan.


"Kamu benar mencintaiku?" Xue Xue sekarang yang tak berkedip menatap kepada Zhao Juren yang di tanya tak menjawab tetapi sibuk mengagumi perempuan yang melongo menatapnya itu.


"Kenapa kamu diam? Apakah...apakah kamu punya orang lain?" Zhao Juren sedikit tersedak dengan pertanyaannya sendiri, tentu saja sangat membekas di ingatannya ketika Xiao Yi menolak chai yang di berikannya dan ternyata perempuan itu adalah istri dari kakaknya sendiri.


Xue Xue menggeleng dengan gerak cepat sambil menutup wajahnya dengan malu.


"Kenapa kamu masih berfikir seperti itu? " Zhao Juren mundur, selangkah. Raut wajahnya mengeras kecewa.


"Bu...bukan begitu..." Xue Xue tergagap, merasa dia telah salah bicara.


Sebelum Xue Xue berusaha memperbaiki kalimatnya, tiba-tiba Zhao Juren meraih pinggang Xue Xue, di tariknya merapat ketubuhnya hingga gadis ini terpekik karena terkejut. Dengan liar di ciuminya bibir Xue Xue hingga leher dan sebagian dada Xue Xue.


Xue Xue kelimpungan bukan main, dia bahkan merasa nafasnya beberapa kali hendak terputus saat jemari Zhao Juren menyusup ke balik gaunnya.


"Ukh..." Xue Xue mencoba menggeliat tetapi pelukan itu malah makin rapat, kulitnya yang di susuri bibir Zhao Juren terasa basah dan hangat.


Saat Xue Xue nyaris tak bisa membuka mata, Zhao Juren menghentikan keberingasannya.

__ADS_1


"Apakah kamu menerimaku?"


"Aaaa..." Xue Xue membuka matanya lebar-lebar ketika dengan perlahan Zhao Juren mendorong tubuhnya menjauh.


"Kata Aaa itu sudah cukup. Ku anggap itu tanda setujumu. Sekarang kamu tahu rasanya?" Tanya Zhao Juren dengan seringainya yang manis.


"Rasa apa?" Xue Xue seperti orang linglung.


"Rasanya menginginkan seseorang." Zhao Juren menelan ludahnya.


"Aku sudah menandai sebagian dari tubuhmu, dan pada saat aku menikahimu, kupastikan tak akan ku lewati sejengkalpun dari dirimu. Aku adalah jenderal di negaraku, dan aku selalu menepati janjiku." Zhao Juren berjalan ke arah meja di mana lukisan Nan Yuhuai berada dengan mimik puas. Dia pastikan Xue Xue akan mengingat gairah yang di baginya itu supaya gadis itu tak bisa memalingkan wajahnya dari Zhao Juren.


Zhao Juren adalah lelaki dewasa hampir 30 tahun. Dia sudah makan asam garam dunia terlebih soal cinta, untuk seorang gadis belia polos ini dia hanya menanamkan sedikit rasa penasaran padanya supaya gadis ini berfikir tak bisa hidup tanpanya.


"Jika kamu ingin tahu apa lagi, maka tunggulah hari saat kita membungkuk pada langit dan bumi. Aku tak akan menyentuhmu lagi sampai malam pengantin kita." Lanjut Zhao Juren dengan penuh percaya diri lalu menarik kursi menghadap meja, mata seorang jenderal perang itu berpendar dengan seksama ke arah lukisan Nan Yuhuai, tanpa memperdulikan Xue Xue yang masih berdiri di tempatnya berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.


Dia mengernyit dahinya sesaat kemudian terlihat berfikir lalu lamat-lamat berkata, "kakakmu sepertinya...."


Dia terlihat memicing matanya pada gambar pemuda yang memegang Xiao itu kemudian dia manggut-manggut sendiri di bawah tatapan Xue Xue yang masih sedikit linglung.


"Dia memberimu pesan tersembunyi lewat lukisan ini..."



(Yuk kasih votenya ya, bab ini lumayan panas kan?😂😂 panasnya buat Xue Xue aja, Zhao Juren mah tenang aja, dia udah pro ya☺️ tenang saja, Zhao Juren tak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan membuat orang yang di cintainya ternoda. Mkasih udah nunggu up othor meski double UPnya di jam kunti begini🤣🤣🤣 luv u all my reader)

__ADS_1


__ADS_2